WASHINGTON, KOMPAS.TV - Janji Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan 5.000 dolar AS atau sekitar Rp90 juta (kurs Rp18.139 per dolar AS) kepada setiap warga dewasa menjadi tawaran menjelang pemilu sela AS, yang berlangsung sejak Selasa (3/112026).
Namun, rencana yang dikaitkan dengan kemenangan Republik mempertahankan Kongres itu menyisakan pertanyaan besar: dari mana dananya dan bagaimana pembayarannya disetujui?
Seperti dilansir dari Associated Press, Trump memperkenalkan usulan yang disebut “Trump Dividend” dalam konvensi Republik di Dallas pada September lalu.
Baca Juga: Pemilu Sela AS Jadi Ujian Trump, Demokrat Berpeluang Rebut Kendali Kongres
Pembayaran dijanjikan jika partainya mempertahankan kendali atas DPR AS atau House of Representatives dan Senat. Trump kemudian kembali mempromosikannya saat berkampanye di North Carolina.
“Jika kami menang, kami akan memberi Anda 5.000 dolar AS,” kata Trump pada 18 September 2026.
Trump berargumen perekonomian AS yang kuat memungkinkan pemerintah melakukan pembayaran tersebut. Namun, ia belum menjelaskan mekanisme pendanaan terperinci untuk program yang diperkirakan membutuhkan lebih dari 1 triliun dolar AS itu.
Trump juga sempat menyatakan dirinya tidak menganggap pembayaran tersebut membutuhkan persetujuan Kongres. Ketua House Mike Johnson menyampaikan pandangan berbeda.
Baca Juga: Bantuan Trump untuk Israel Jadi Sasaran Kritik Demokrat dalam Pemilu Sela AS
“Saya berasumsi, ya, dia membutuhkan Kongres untuk bertindak,” kata Johnson.
Johnson menyatakan akan berupaya mencari kesepakatan agar usulan tersebut dapat dijalankan.
Trump sebelumnya juga pernah mengusulkan pembayaran sedikitnya 2.000 dolar AS dengan menggunakan penghematan Departemen Efisiensi Pemerintah atau DOGE dan penerimaan tarif impor. Namun, usulan-usulan sebelumnya itu belum terealisasi.
Besarnya kebutuhan dana memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan anggaran dan inflasi AS. Usulan tersebut berpotensi menambah beban keuangan pemerintah ketika AS masih menghadapi kenaikan harga dan suku bunga.
Baca Juga: Pemilu Sela AS: Agenda Ekonomi Trump Hadapi Ujian jika Demokrat Rebut DPR
Kritik juga datang dari kalangan Republik. Doug Heye, ahli strategi Republik dan mantan direktur komunikasi Komite Nasional Republik, mempertanyakan kemampuan pemerintah membiayainya.
“Tidak ada cara untuk membiayainya dan itu akan memicu lonjakan inflasi,” tutur Heye.
Di sisi lain, janji pembayaran itu disebut Mark Barker, warga Palm Beach Gardens, Florida, sebagai salah satu pertimbangannya mendukung Trump.
Barker juga menyebut kebijakan perbatasan dan perang di Timur Tengah ketika menjelaskan pilihannya.
Baca Juga: Pemilu Sela AS: Hanya 25 Persen Warga Setujui Penanganan Ekonomi Trump
“Menurut saya, dia melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata Barker.
Janji tersebut muncul ketika biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih. Survei AP-NORC yang dikutip dalam laporan itu menunjukkan hanya 25 persen orang dewasa AS menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber : AP
- donald trump
- pemilu sela as
- pemilu amerika serikat
- inflasi amerika serikat
- partai republik
- kongres as






Komentar (0)