HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Jenderal Polisi (Purn) Listyo Sigit Prabowo jadi tersangka kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Kini, jejak kedekatannya dengan mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) Jadi sorotan.
Penetapan tersangka diumumkan langsung Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2026) malam.
Listyo tidak sendiri. Dua perwira tinggi Polri lainnya, yakni Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Pol Eko Hadi Santoso, juga ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan ilegal, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal (illegal access).
Menurut Asep, penyidik menetapkan ketiganya berdasarkan hasil penyidikan dan pendekatan scientific crime investigation.
Sementara itu, seorang perwira tinggi lainnya masih menjalani pemeriksaan dengan status saksi.
Kasus ini menyita perhatian publik karena salah satu nomor telepon yang diduga menjadi sasaran penyadapan adalah milik Presiden Prabowo Subianto.
Penyidik juga mendalami dugaan penyadapan terhadap sejumlah pejabat negara, tokoh politik, insan media, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga kalangan pengusaha.
Penetapan Listyo sebagai tersangka turut mengundang perhatian karena rekam jejaknya memiliki hubungan panjang dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Keduanya diketahui mulai bekerja sama ketika sama-sama bertugas di Kota Solo, Jawa Tengah.
Awal Kedekatan Listyo Sigit dan Jokowi di Solo
Hubungan profesional Listyo Sigit dengan Jokowi bermula pada 2011.
Saat itu, Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Surakarta bersama wakilnya, F.X. Hadi Rudyatmo.
Pada periode yang sama, Listyo Sigit dipercaya menjabat Kapolresta Surakarta.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersebut sebelumnya pernah bertugas sebagai Kapolres Pati dan Kapolres Sukoharjo.
Keduanya menghadapi salah satu ujian keamanan besar ketika bom bunuh diri mengguncang Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Tegalharjo, Jebres, Solo, Minggu (25/9/2011).
Ledakan tersebut menewaskan pelaku dan menyebabkan puluhan jemaat mengalami luka-luka.
Dalam situasi tersebut, Pemerintah Kota Solo di bawah kepemimpinan Jokowi berkoordinasi dengan jajaran kepolisian yang dipimpin Listyo untuk menangani dampak peristiwa dan menjaga situasi keamanan tetap kondusif.
Kerja sama keduanya kemudian berlanjut ketika Jokowi memasuki panggung politik nasional.
Dari Ajudan Jokowi hingga Menjadi Kapolri
Setelah Jokowi memenangi Pilpres 2014, Listyo Sigit mendapat penugasan baru di lingkungan Istana Kepresidenan.
Pada 30 Oktober 2014, Listyo yang ketika itu berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) dipercaya menjadi ajudan Presiden Joko Widodo.
Penugasan tersebut membuat Listyo berada di lingkungan terdekat Presiden. Kariernya kemudian terus menanjak hingga menduduki sejumlah jabatan strategis di tubuh Polri.
Puncaknya terjadi pada Januari 2021. Jokowi mengajukan Listyo Sigit sebagai calon tunggal Kapolri kepada DPR RI.
Setelah menjalani proses uji kelayakan dan kepatutan, Listyo disetujui DPR dan dilantik Jokowi sebagai Kapolri ke-25 di Istana Negara pada 27 Januari 2021.
Pengangkatannya menjadi perhatian, karena Listyo berasal dari Akpol 1991 dan melangkahi sejumlah perwira senior dalam jenjang kepangkatan Polri. (*)






Komentar (0)