Prof. Nur Syam Penasihat Khusus Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menekankan pentingnya nilai-nilai tasawuf sebagai fondasi etika dan spiritual dalam pendidikan tinggi.
Hal itu ia tekankan karena masyarakat saat ini menurutnya berada dalam kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (Vuca), sebuah istilah yang menggambarkan kondisi penuh perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, serta adanya situasi yang sulit diprediksi.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan mengembangkan empat dimensi kecerdasan secara seimbang, yaitu intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
“Keempatnya diperlukan agar lulusan tidak hanya mampu menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mengelola diri, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial,” terangnya, Selasa (3/11/2026).
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan melalui pembelajaran bersama guru yang memiliki kejelasan sanad keilmuan. Menurutnya, kemudahan mengakses informasi melalui TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya tidak boleh membuat mahasiswa mengabaikan proses belajar yang terarah.
Ia menegaskan, informasi yang beredar di ruang digital tetap perlu disikapi secara kritis. Sebab, pendalaman ilmu membutuhkan bimbingan, tradisi akademik, serta tanggung jawab dalam memahami dan menyampaikan pengetahuan.
Nur Syam juga mengaitkan pentingnya tasawuf dengan konsep “beragama berbasis cinta” yang dikembangkan Nasaruddin Umar Menteri Agama.
“Gagasan tersebut memiliki kedekatan dengan tradisi ‘tasawuf hubb’, yang menempatkan cinta sebagai dasar hubungan manusia dengan Tuhan maupun sesama,” ujarnya.
Sejalan dengan pesan tersebut, Dr Rosidi Rektor Universitas Al-Fithrah Surabaya mengingatkan para wisudawan agar menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah sebagai bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Gelar yang Saudara ini bukan sekadar tambahan huruf di belakang nama, melainkan amanah untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” ucapnya.
Ia berharap, para lulusan mampu menerapkan ilmu pengetahuan melalui tindakan nyata dan kontribusi di lingkungan masing-masing. (ris/saf/ipg)





Komentar (0)