Jakarta, CNBC Indonesia - PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) bekerja sama dengan PT Timah Tbk (TINS), di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), menjalin kerja sama pengolahan limbah sisa hasil produksi timah menjadi Logam Tanah Jarang (LTJ).
Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas La Ode Tarfin Jaya mengungkapkan bahwa kedua entitas BUMN tersebut melakukan riset bersama untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah atau tailing berupa Sisa Hasil Produksi (SHP) dan tin slag dari produksi timah.
"Kalau dengan PT Timah kan kami koordinasinya cukup intensif karena sesama BUMN di bawah Danantara ya. Jadi riset bersama kemudian untuk pemanfaatan SHP. SHP dan tin slag-nya, tin slag-nya," ungkap La Ode saat ditemui di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di Jiexpo, Selasa (3/11/2026).
Kerja sama kedua perusahaan tersebut sejatinya telah disepakati melalui penandatanganan kesepakatan beberapa bulan lalu. Saat ini, kedua BUMN pertambangan tersebut tengah secara aktif menjalankan proses riset teknis pengolahan limbah tersebut secara berkelanjutan.
"Kami sudah menandatanganinya kan beberapa bulan yang lalu, mungkin kalau diingat ya dengan Timah. Sekarang lagi on going, on going bersama tim di kami, kemudian dari PT Timah," imbuhnya.
Selain menggarap potensi limbah timah bersama PT Timah, PT Perminas juga telah memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi untuk komoditas Logam Tanah Jarang di Mamuju, Sulawesi Barat.
Konsesi seluas 7.300 hektare yang terbagi dalam dua blok tersebut memiliki potensi LTJ tipe ion-adsorption clay primer dan saat ini sedang dalam tahap pengeboran eksplorasi.
"Kita menunggu, menunggu, menunggu. Yang jelasnya sekarang kan Mamuju 7.300 hektare di dua blok. Jadi kalau misalnya pemerintah misalnya memberi tugas lagi ya kita siap timnya, prinsipnya itu," tandasnya.
Seperti diketahui, PT Timah Tbk (TINS) melakukan kerja sama dengan PT Perminas untuk menggarap proyek hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) di wilayah Bangka Belitung. Kerja sama strategis tersebut dilakukan untuk memperkuat kemandirian nasional dalam mengelola mineral kritis melalui penguasaan teknologi pemurnian yang mumpuni.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha TINS Harry Budi Sidharta sempat mengungkapkan kolaborasi dengan Perminas tersebut difokuskan pada pemanfaatan keahlian teknologi yang dimiliki oleh Perminas sebagai pemegang mandat pengelolaan tanah jarang. Ia menyebutkan langkah tersebut diambil agar Indonesia dapat mengolah potensi LTJ secara mandiri di tengah sulitnya akses teknologi pemrosesan di pasar global.
"Terkait dengan kerja sama dengan Perminas, kita fokus pada pengelolaan logam tanah jarang. Sebagaimana diketahui mandat dari Perminas adalah pengelolaan logam tanah jarang, maka peran Perminas di dalam kerja sama hilirisasi tanah jarang di Bangka Belitung bersinergi dengan PT Timah adalah sebagai partner kita dalam penyediaan teknologi," ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, di Jakarta, dikutip Senin (15/6/2026).
Kemitraan tersebut dinilai krusial mengingat pengolahan LTJ memiliki karakteristik teknis yang kompleks serta keterkaitan erat dengan dinamika politik internasional. Melalui sinergi tersebut, perusahaan berharap dapat memiliki akses terhadap standar teknologi yang tepat untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral ikutan di area tambang.
"Sebagaimana diketahui bahwa teknologi dari pengelolaan Logam Tanah Jarang merupakan salah satu yang tidak mudah didapatkan, sensitif terhadap isu geopolitik dan lain-lain, maka kita manfaatkan atau kita bekerja sama bersinergi dengan Perminas untuk membantu kita mendapatkan teknologi yang sesuai dalam pengelolaan logam tanah jarang di Bangka Belitung," jelas Harry.
(wia)





Komentar (0)