Kemendag Gandeng TFO Kanada, 200 UKM Indonesia Disiapkan Tembus Pasar Ekspor Kerajinan dan Furnitur

pantau.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng Trade Facilitation Office (TFO) Kanada melalui proyek Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth (TRISEG) untuk meningkatkan daya saing 200 usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia di pasar ekspor Kanada.

Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan kapasitas pelaku UKM sektor kerajinan dan furnitur melalui pendampingan desain produk, pemahaman karakteristik pasar, tren konsumen, serta strategi penetapan harga.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan program tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas dan daya saing produk agar mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

"TFO ini memberi bantuan untuk meningkatkan capacity building UKM, baik untuk desain produk, pengetahuan pasar Kanada, tren dan juga pricing," ujar Puntodewi dalam peluncuran TRISEG di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Program TRISEG juga memberikan perhatian khusus kepada UKM yang dipimpin atau dimiliki perempuan sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan pelaku usaha memasuki pasar ekspor.

Meski menyediakan berbagai bentuk pendampingan pengembangan usaha, program tersebut belum mencakup fasilitas pembiayaan yang masih menjadi salah satu tantangan bagi pelaku UKM Indonesia.

Program TRISEG Targetkan 20 Kesepakatan Pasar Baru di Kanada

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menjelaskan bahwa proyek TRISEG dirancang berlangsung selama lima tahun hingga Maret 2030.

Pelaksanaan program tersebut mendapat dukungan hibah dari TFO Kanada sebesar 334.783 dolar Kanada untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas akses pasar produk Indonesia.

Dari total 200 UKM yang menjadi sasaran pendampingan, sebanyak dua pertiganya ditargetkan merupakan usaha yang dipimpin atau dimiliki perempuan.

Selain meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan produk, Kemendag menargetkan tercapainya 20 kesepakatan pasar baru melalui pelaksanaan proyek tersebut.

Program TRISEG juga ditargetkan mampu mempertemukan UKM Indonesia dengan 20 pembeli baru dari Kanada untuk membuka peluang transaksi perdagangan.

Pertemuan dengan calon pembeli diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran sekaligus memperkuat keberadaan produk kerajinan dan furnitur Indonesia di pasar Kanada.

Pendampingan dalam pengembangan desain, pemahaman tren konsumen, dan strategi harga menjadi bagian penting untuk membantu produk UKM Indonesia bersaing dengan produk dari negara lain.

Indonesia Catat Defisit Perdagangan dengan Kanada Rp1,27 Miliar Dolar AS

Deden menilai kerja sama melalui proyek TRISEG memiliki peran strategis dalam mendukung upaya pemerintah mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Kanada.

Berdasarkan data perdagangan hingga Agustus 2026, total nilai perdagangan kedua negara mencapai 3,51 miliar dolar Amerika Serikat (AS), meningkat 15,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski nilai perdagangan mengalami pertumbuhan, Indonesia masih mencatat defisit karena nilai impor dari Kanada lebih besar dibandingkan ekspornya.

Hingga Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia ke Kanada tercatat sebesar 1,12 miliar dolar AS, sedangkan nilai impor dari Kanada mencapai 2,39 miliar dolar AS.

Selisih nilai ekspor dan impor tersebut menyebabkan Indonesia mengalami defisit perdagangan sekitar 1,27 miliar dolar AS.

"Proyek TRISEG seharusnya dapat membantu kita mengurangi defisit perdagangan antara Indonesia dan Kanada," kata Deden.

Peningkatan kapasitas UKM melalui program tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekspor, terutama pada sektor kerajinan dan furnitur yang memiliki peluang pengembangan di pasar Kanada.

Ekspor Kerajinan Indonesia ke Kanada Tumbuh 46,5 Persen

Peluang peningkatan ekspor Indonesia ke Kanada terlihat dari pertumbuhan positif produk kerajinan dalam beberapa periode terakhir.

Pada 2025, nilai ekspor produk kerajinan Indonesia ke Kanada mencapai 8,41 juta dolar AS atau meningkat 21,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga Agustus 2026 dengan nilai ekspor kerajinan mencapai 8,15 juta dolar AS, meningkat 46,5 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku UKM Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar melalui peningkatan kualitas, inovasi desain, dan pengembangan produk.

Di sisi lain, nilai impor produk kerajinan Kanada dari berbagai negara pada 2025 mencapai 700,7 juta dolar AS.

Besarnya nilai impor tersebut menunjukkan potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh eksportir Indonesia untuk meningkatkan penjualan produk kerajinan.

Namun, pangsa pasar Indonesia dalam total impor produk kerajinan Kanada masih sekitar 1,2 persen sehingga peluang untuk memperluas penetrasi pasar dinilai masih terbuka.

Melalui pendampingan TRISEG, pelaku UKM diharapkan dapat memahami kebutuhan konsumen Kanada serta mengembangkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar.

Perjanjian ICA-CEPA Diharapkan Perluas Akses Ekspor UKM Indonesia

Deden menyampaikan bahwa peluang peningkatan ekspor Indonesia ke Kanada juga akan didukung oleh implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada atau Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).

Perjanjian perdagangan tersebut dijadwalkan mulai diimplementasikan pada 1 Desember 2026 untuk memberikan kemudahan akses perdagangan antara kedua negara.

Melalui implementasi ICA-CEPA, sekitar 20 persen lini tarif produk Kanada akan mengalami pengurangan tarif bagi produk asal Indonesia.

Kebijakan pengurangan tarif tersebut berpotensi meningkatkan daya saing harga produk Indonesia sekaligus memberikan peluang lebih besar bagi pelaku UKM untuk memasuki pasar Kanada.

Sinergi antara pendampingan TRISEG dan implementasi ICA-CEPA diharapkan dapat membantu pelaku usaha memanfaatkan peluang perdagangan melalui peningkatan kualitas produk, efisiensi usaha, dan strategi pemasaran.

Kemendag juga mendorong UKM yang dipimpin atau dimiliki perempuan untuk memanfaatkan fasilitas pendampingan agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pembeli internasional.

Melalui kerja sama dengan TFO Kanada, pemerintah berharap produk kerajinan dan furnitur Indonesia semakin kompetitif, mampu meningkatkan nilai ekspor, serta berkontribusi terhadap penguatan hubungan perdagangan Indonesia dan Kanada.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Polri Dalami Aduan Dokumen Pendidikan Gibran, Bakal Periksa Sejumlah Ahli
• 3 jam lalu
0
thumb
Jenderal Listyo Sigit Dijerat Pasal Berlapis atas Dugaan Penyadapan, KUHP sampai UU ITE
• 8 jam lalu
0
thumb
KPK Belum Terima Respons Panglima TNI soal Kasus BNPB
• 13 jam lalu
0
thumb
Serahkan Jawaban Mediasi, Ruben Onsu Minta Sarwendah Lunasi Cicilan Rumah, Akui Kesulitan Ekonomi
• 16 jam lalu
0
thumb
Menkeu Sebut Tekanan Ekonomi Meningkat pada Oktober, MSCI Salah Satu Faktornya
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.