Ringkasan Berita:
- Ndukurfiah (100), warga Desa Pangkahkulon, Ujungpangkah, Gresik, hidup sendiri di rumah kontrakan karena anaknya merantau ke luar negeri.
- Ia menjadi salah satu dari 40 lansia tunggal penerima program percontohan PIRINGKU (Pemberian Makanan Khusus pada Lansia) dari Pemkab Gresik.
- Penerima mendapat makanan siap santap setiap hari selama 60 hari, dengan menu sesuai pemeriksaan Puskesmas dan ketentuan ahli gizi.
- Makanan dimasak dan diantar warga dari sejumlah desa di Ujungpangkah mulai pukul 05.30 WIB.
Gresik (beritajatim.com) – Usia Ndukurfiah kini 100 tahun. Warga Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, itu tinggal seorang diri di sebuah rumah kontrakan. Belakangan, setiap pagi selalu ada yang mengetuk pintunya untuk mengantarkan makanan.
Hidup seorang diri di usia senja memang bukan perkara mudah. Apalagi ketika tenaga mulai berkurang, sementara urusan menyiapkan makanan sehari-hari harus dilakukan tanpa bantuan keluarga.
Kondisi itulah yang coba dijawab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik lewat program PIRINGKU (Pemberian Makanan Khusus pada Lansia). Sebagai percontohan, program ini dijalankan di Ujungpangkah untuk 40 warga lanjut usia (lansia) yang hidup sendiri dari keluarga kurang mampu.
Bukan Uang, Bukan Sembako
Para penerima tidak mendapat uang tunai maupun paket sembako. Yang mereka terima adalah makanan siap santap, diantar ke rumah setiap hari.
Skema ini sengaja berbeda dari bantuan sosial pada umumnya. Masalah lansia yang tinggal sendirian bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal tenaga. Bahan makanan saja tidak cukup jika badan sudah tak kuat lagi berdiri lama di dapur.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Gresik, Ummi Khoiroh, mengatakan program ini ditujukan bagi warga berusia di atas 60 tahun yang hidup sendiri dan tidak punya keluarga atau pendamping yang merawat kebutuhan sehari-hari. Bantuan diberikan untuk memenuhi kebutuhan makan siang mereka.
“Program ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah kepada lansia tunggal. Kami memberikan makanan yang sudah siap dikonsumsi karena sebagian dari mereka memiliki keterbatasan tenaga untuk memasak sendiri,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Menu Menyesuaikan Kondisi Kesehatan
Menu untuk tiap penerima tidak dipukul rata. Dinsos lebih dulu berkoordinasi dengan petugas Puskesmas untuk memeriksa kesehatan para lansia, agar makanan yang disajikan tidak justru memperburuk kondisi mereka.
PIRINGKU masih berstatus proyek percontohan. Program ini berjalan selama 60 hari, dengan layanan makan setiap hari bagi 40 lansia di Ujungpangkah.
Dimasak Warga, Diantar Sejak Pagi
Dapur PIRINGKU digerakkan warga sendiri. Ketua Pokmas Mangrove Ujungpangkah, Husnul Hatimah, mengatakan warga dari sejumlah desa dilibatkan. Tiga orang bertugas memasak, sementara anggota lain mengantar makanan ke rumah-rumah penerima.
Menunya berganti setiap hari dan tetap mengacu pada ketentuan ahli gizi.
“Tenaga memasak kami berdayakan dari masyarakat beberapa desa. Mereka berkumpul untuk memasak bersama dengan menu berbeda setiap harinya sesuai ketentuan ahli gizi,” urainya.
Pengantaran dimulai pukul 05.30 hingga sekitar pukul 09.00 WIB, bertahap menyesuaikan jarak rumah penerima yang tersebar di sejumlah desa di Ujungpangkah.
Menurut Husnul, sejauh ini program berjalan tanpa kendala berarti. Ia berharap PIRINGKU bisa dilanjutkan, mengingat masih banyak lansia yang hidup tanpa pendamping.
“Maturnuwun”
Bagi Ndukurfiah, bantuan itu datang di saat yang tepat. Anaknya merantau ke luar negeri, sehingga tak bisa mendampinginya setiap hari. Kiriman makanan setiap pagi berarti satu urusan berat hari itu sudah teratasi.
Ucapan terima kasihnya sederhana.
“Saya senang, Bu. Maturnuwun, sudah diberi makanan. Alhamdulillah,” tuturnya. [dny/beq]





Komentar (0)