Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan mekanisasi menjadi kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus mempertahankan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
"Modernisasi alat pertanian ini tidak hanya menjadi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan," kata Luthfi dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).
Hal tersebut disampaikannya di sela acara Parade Alat dan Mesin Pertanian di Lapangan Tarubudoyo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (3/11).
Luthfi mengungkapkan produksi gabah Jawa Tengah pada 2025 mencapai 11,5 juta ton atau berkontribusi sekitar 16,5 persen terhadap produksi nasional. Sementara itu, produksi sepanjang 2026 hingga memasuki November telah mencapai sekitar 8,5 juta ton. Ia optimistis mekanisasi pertanian dapat mendukung peningkatan produksi pangan.
Ia menyebut bantuan alsintan akan disalurkan ke 32 kabupaten/kota, dengan jenis peralatan yang disesuaikan dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masing-masing daerah. Karena itu, Luthfi meminta pemerintah daerah dan kelompok tani penerima memastikan alat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik.
Selain meningkatkan efisiensi, Luthfi berharap modernisasi mampu menarik minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. Menurutnya, saat ini semakin banyak anak petani yang memilih bekerja di sektor lain.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan bantuan 1.507 unit alsintan tersebut meliputi 100 unit rice transplanter, kemudian 10 unit combine harvester, 30 unit traktor roda empat, 80 unit hand tractor singkal, 74 unit kultivator, 80 unit traktor crawler, 100 unit pompa air diesel, 28 unit alat pencacah pupuk organik, dan 1.005 unit handsprayer elektrik.
Ia mengatakan penggunaan alsintan diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan pertanian sekitar 40-50 persen. Mekanisasi juga dinilai dapat menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen dari sekitar 10 persen menjadi maksimal 2 persen.
Hadirnya bantuan ini mendapat sambutan positif dari para petani. Salah seorang petani dari Kelompok Tani Sri Berkah, Kabupaten Pemalang, Sutirto mengaku merasakan manfaat bantuan mesin panen padi (combine harvester).
Dengan alat tersebut, petani mampu mempercepat proses panen sekaligus menghasilkan gabah yang lebih bersih dibandingkan cara konvensional. Sebab, bila panennya dilakukan dengan cara manual, membutuhkan sekitar 30-40 pekerja untuk menyelesaikan dua pertiga hektare lahan dalam sehari.
"Kalau menggunakan combine harvester, satu hektare bisa selesai sekitar satu setengah sampai dua jam," ucapnya.
Sutirto juga berterima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Dinas Pertanian dan Peternakan atas bantuan tersebut. Ia berharap mesin panen itu dapat membantu meringankan pekerjaan petani dan meningkatkan efisiensi panen di wilayahnya.
(ega/ega)






Komentar (0)