Dibanding segmen roda empat, transisi teknologi kendaraan roda dua menghadapi tantangan agak berbeda. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyatakan bahwa pemain di sektor ini menempuh pendekatan multi-teknologi.
Ketua Bidang Komersial AISI, Yosef Suparman menjelaskan upaya menekan emisi karbon untuk sektor transportasi roda dua tidak hanya bertumpu pada satu jenis teknologi kendaraan. Konsep semacam multi-pathway dinilai paling realistis.
Strategi ini menggabungkan berbagai opsi teknologi ramah lingkungan, mulai dari peningkatan efisiensi bahan bakar mesin internal atau Internal Combustion Engine/ICE, adopsi bahan bakar etanol, hingga pengembangan motor listrik berbasis baterai.
"Di situ ada motor ICE yang terus-menerus makin irit ya, fuel efficiency technology. Kemudian nomor dua, teknologi-teknologi seperti biofuel, kalau ada etanol E5, E10, E20, E50 nantinya ke sana, juga akan melengkapi. Tentunya satu lagi moda jenis yaitu EV," buka Yosef ditemui di Jakarta, Jumat (30/10).
Belum lagi, Yosef menambahkan penetrasi motor listrik murni di Indonesia saat ini masih terbilang kecil dari total pasar. Meski demikian, porsi tersebut diproyeksikan akan terus tumbuh seiring berbenahnya ekosistem pendukung.
"Saat ini mungkin kalau kita hitung sekitar 1 sampai 2 persen saja kontribusi EV, tapi kita meyakini segmen ini akan terus bertumbuh ketika dia mampu menyentuh solusi mobilitas dari konsumen," imbuhnya.
Terdapat sejumlah tantangan utama dalam adopsi motor listrik yang masih perlu diurai oleh para produsen, di antaranya jarak tempuh, durasi pengisian daya, kualitas dan keandalan baterai, hingga kepastian harga jual kembali.
Yosef menambahkan, segmen elektrifikasi seperti EV masih berkembang. Ia berharap adanya regulasi serta kebijakan skema insentif dari pemerintah yang bersifat konsisten dan pasti, sehingga pasar akan segera terbentuk.
"Sebaiknya memang kalau usul dari industri, sebaiknya fix ya. Kita baru memberikan kepastian insentif ketika memang dikeluarkan. Kalau belum pasti sebaiknya enggak perlu dikeluarkan, karena bisa membuat konsumen menunda pembelian," pungkas Yosef.






Komentar (0)