Harga Minyak Merosot Dipicu Rencana Dialog AS-Iran

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Houston: Harga minyak anjlok pada Senin, 2 November 2026. Minyak mentah Brent turun dari level tertinggi sejak Maret, sementara minyak mentah AS jatuh ke bawah ambang batas USD100.

Penurunan ini terjadi seiring dengan adanya kemajuan tentatif dalam negosiasi diplomatik di Timur Tengah, yang meredakan kekhawatiran langsung akan gangguan pasokan regional, setelah harga sempat melonjak 15 persen sepanjang Oktober.

Dikutip dari Investing, Selasa, 3 November 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang menjadi acuan global turun 6,5 persen menjadi USD104,28 per barel, melemah dari level tertinggi dalam beberapa bulan yang dicapai pada akhir pekan lalu.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak bulan depan turun 5,8 persen menjadi USD96,38 per barel, jatuh ke bawah angka tiga digit untuk pertama kalinya sejak pertengahan September.

Penurunan ini menandai konsolidasi teknis yang tajam setelah kedua kontrak tersebut sempat menguat hampir 15 persen pada Oktober. Kenaikan bulanan, yang merupakan lonjakan terbesar sejak musim semi, dipicu oleh serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia, kerusakan pada infrastruktur kilang, serta ancaman konflik militer yang lebih luas yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Rencana dialog AS-Iran Aksi jual pada Senin dipicu oleh laporan media pemerintah Iran yang menyatakan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah memberikan "wewenang tertentu" untuk menjajaki dialog dengan AS, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Selain itu, terdapat pula indikasi Washington dan pihak perantara regional sedang mengupayakan jalur diplomatik sebagai alternatif sebelum mempertimbangkan eskalasi militer lebih lanjut.

Menurut laporan Axios, Presiden Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah percakapan telepon akhir pekan lalu, ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomatik, sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Sikap ini berbeda dengan desakan Netanyahu agar Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara, tak lama setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada Selasa.

Di kawasan Teluk, pejabat Qatar dan Iran mengadakan diskusi yang dimediasi pihak ketiga selama tiga hari berturut-turut. Pertemuan ini bertujuan menyusun kerangka kerja untuk menghentikan permusuhan dan memulihkan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz.

Meskipun jalur strategis yang krusial ini sempat mengalami serangan terhadap kapal komersial dan lonjakan premi asuransi maritim, negosiator Iran mengisyaratkan keterbukaan terhadap rencana deeskalasi bertahap, dengan syarat sanksi ekonomi dan ancaman militer dikurangi.

Baca Juga :

Industri Pengolahan Sumbang Hampir 83 Persen Ekspor RI

(Ilustrasi. Foto: Unplash) Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Terlepas dari penurunan tajam pada Senin, para analis di Wall Street memperingatkan risiko pasokan yang bersifat struktural masih sangat nyata di pasar fisik global.

Goldman Sachs menaikkan target harga untuk jangka pendek dan menengah. Proyeksi harga minyak Brent untuk Desember 2026 direvisi naik dari USD90 menjadi USD105 per barel. Sementara target untuk minyak WTI naik dari USD81 menjadi USD94 per barel.

Untuk 2027, bank tersebut menaikkan perkiraan harga dasar rata-rata untuk Brent dari USD80 menjadi USD88 per barel, dan untuk WTI dari USD73 menjadi USD78 per barel.

Revisi ini memperhitungkan faktor risiko struktural sebesar satu juta barel per hari terkait potensi gangguan pasokan global pada tahun depan. Para ahli strategi di Goldman menunjuk pada konflik yang belum terselesaikan di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta kerentanan terhadap hambatan produksi di Kazakhstan dan Afrika Barat, sebagai alasan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang tinggi. Pembekuan produksi OPEC+ menopang kurva harga berjangka Keseimbangan pasar fisik tidak mendapatkan tambahan pasokan dari aliansi produsen tersebut. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya (OPEC+) sepakat pada akhir pekan lalu untuk tidak mengubah kuota produksi Desember, sehingga target produksi saat ini tetap dibekukan sementara kelompok tersebut memantau gangguan transportasi di Timur Tengah.

Meskipun dana investasi berbasis momentum (momentum funds) telah merealisasikan keuntungan setelah lonjakan harga yang agresif pada Oktober, para pedagang institusional mencatat risiko penurunan harga minyak mentah tetap terbatas.

Dengan pemilihan umum Kongres AS pada Selasa yang menciptakan ketidakpastian kebijakan, serta koridor pelayaran regional yang masih rentan terhadap serangan mendadak menggunakan pesawat nirawak (drone) atau rudal, para pelaku pasar memperkirakan premi risiko yang tinggi akan terus mewarnai kontrak berjangka hingga akhir tahun.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gandeng Collective Studios dan Galleri5, KEK Singhasari Dorong IP Indonesia Mendunia
• 2 jam lalu
0
thumb
Dugaan Pembalakan Liar di TN Meru Betiri Terungkap, 343 Batang Kayu Diamankan
• 19 jam lalu
0
thumb
Arsenal Catatkan Sejarah di Premier League, Lakukan yang belum Pernah Dilakukan Tim Mana pun Terhadap Liverpool di Anfield
• 23 jam lalu
0
thumb
Agus dan Gus Yasin Dicopot, PPP Memanas, Rusman Mengkritik Mardiono
• 11 menit lalu
0
thumb
KPK Minta Nusron Wahid Prioritaskan Proses Hukum
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.