Kemenperin Pacu Ekspor Olahan Kakao di Tengah Tantangan El Nino

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan industri pengolahan kakao memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur industri nasional.

Kemenperin Pacu Ekspor Olahan Kakao di Tengah Tantangan El Nino. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan ekspor produk kakao olahan nasional. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat hilirisasi industri kakao nasional untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta petani kakao.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan industri pengolahan kakao memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur industri nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan di dalam negeri. Menurutnya, penguatan industri pengolahan akan memberikan efek berganda seperti mendorong pertumbuhan ekspor, menciptakan kesempatan kerja, dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani kakao.

Baca Juga:
Kemenperin Pastikan Ketersediaan Gula Rafinasi untuk Jaga Kelangsungan Produksi Industri

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kinerja industri tersebut, Kemenperin bersama Asosiasi Industri Kakao Indonesia (ASKINDO) merilis data grinding kakao Triwulan III 2026. Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), kinerja industri pengolahan kakao nasional menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

Volume grinding kakao pada Triwulan III 2026 tercatat sebesar 112.628 ton, meningkat 2,01 persen dibandingkan Triwulan II 2026 yang mencapai 110.410 ton. Secara kumulatif, volume grinding pada Triwulan I hingga Triwulan III 2026 mencapai 307.882 ton, setara sekitar 72,9 persen dari total volume grinding sepanjang 2025.

Baca Juga:
Asosiasi Industri Keramik Soroti Keandalan Pasokan Gas, Kemenperin Upayakan Kepastian

Di tingkat regional, Indonesia juga memiliki peran penting dalam industri pengolahan kakao Asia. Berdasarkan pada data Cocoa Association of Asia (CAA), pada Triwulan III 2026, volume grinding kakao Indonesia menyumbangkan 48 persen dari total grinding kakao Asia yang tercatat sebesar 233.767 ton. Capaian ini menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok kakao regional sekaligus membuka peluang untuk terus memperkuat daya saing industri nasional.

Sementara dari sisi penjualan, industri pengolahan kakao mencatat volume sebesar 93.253 ton pada Triwulan III 2026, meningkat 9,5 persen dibandingkan Triwulan II 2026 yang mencapai 85.138 ton. Berdasarkan jenis produk, kenaikan penjualan tertinggi terjadi pada cocoa liquor sebesar 91,3 persen, diikuti cocoa cake sebesar 49,6 persen dan cocoa butter sebesar 8,8 persen. Sementara itu, penjualan cocoa powder mengalami penurunan sebesar 2,9 persen.

Baca Juga:
Kemenperin Targetkan Utilisasi Industri Kopi Capai 86,6 Persen

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyampaikan, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan industri pengolahan kakao nasional. Namun, momentum pertumbuhan perlu diikuti dengan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi, menjamin ketersediaan bahan baku, dan memperluas pasar ekspor.

“Capaian grinding dan penjualan pada Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa industri pengolahan kakao nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Untuk menjaga momentum ini, diperlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi industri, dan memperluas akses pasar internasional,” ujar Putu dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).

Namun, industri pengolahan kakao masih menghadapi sejumlah tantangan seperti curah hujan yang berkepanjangan dan potensi fenomena El Nino pada periode mendatang. Tantangan tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan budidaya, peningkatan produktivitas perkebunan, serta penerapan praktik pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Sementara itu pada sisi hilir, perluasan akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional seperti FTA menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan daya saing dan ekspor produk olahan kakao Indonesia. Untuk itu, pelaku industri perlu memahami ketentuan asal barang (rules of origin), pemenuhan dokumen, prosedur ekspor, dan persyaratan negara tujuan.

Kemenperin mendorong sinergi lintas sektoral kepada kementerian, lembaga, asosiasi, dan pelaku usaha diperlukan agar peluang yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi peningkatan ekspor produk olahan kakao yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Kemenperin turut mendukung penyelenggaraan workshop pengembangan pengembangan ekspor produk kakao dan olahannya melalui pemanfaatan FTA dan fasilitas kebijakan pemerintah. Workshop ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman pelaku industri terhadap peluang perdagangan internasional sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi dalam kegiatan ekspor.

“Kami berharap workshop ini tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran informasi, tetapi menghasilkan rekomendasi yang konkret, aplikatif, dan dapat ditindaklanjuti bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, peluang dari berbagai perjanjian perdagangan dan fasilitas pemerintah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dalam mendukung penguatan industri pengolahan kakao nasional yang produktif, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” kata Putu.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Motret Cepat Aksi Olahraga dengan Kamera 40 FPS Canon EOS R6 Mark III
• 9 jam lalu
0
thumb
Kapolres Sukoharjo AKBP Andhika Dharma Sena Dicopot Kapolri terkait Penggeledahan Ponpes
• 7 jam lalu
0
thumb
Kemenbud: Gala Indonesia Bercerita jadi ruang hidupkan tradisi lisan
• 4 jam lalu
0
thumb
5 Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan
• 9 jam lalu
0
thumb
Bazar UMKM Jadi Penggerak Aktivitas Ekonomi Kawasan Hunian
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.