Dunia Dibuat Waswas, Houthi Kini Punya Sumber Mesin Perang Sendiri

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi yang dahulu diremehkan kini tumbuh menjadi salah satu kekuatan bersenjata yang diperhitungkan di Timur Tengah. Tak hanya mampu menyerang menggunakan rudal dan drone, kelompok pemberontak asal Yaman ini mulai bisa memproduksi persenjataannya sendiri.

Melansir dari The Economist, perkembangan tersebut menjadi perubahan besar bagi Houthi yang sebelumnya sangat bergantung pada pasokan senjata dari Iran.

Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi negara-negara di Timur Tengah, terutama Arab Saudi yang belakangan kembali menjadi sasaran serangan Houthi.

Bahkan, upaya Saudi meminta Iran menekan kelompok tersebut belum tentu berhasil. Pasalnya, Houthi kini semakin mampu membangun kekuatan militernya tanpa terus bergantung pada Teheran.

Berawal dari Senjata Rampasan, Lalu Mendapat Bantuan Iran

Untuk memahami perkembangan Houthi, ceritanya perlu ditarik kembali ke 2014.

Saat itu, Houthi berhasil merebut Sana'a, ibu kota Yaman. Keberhasilan tersebut bukan hanya membuat mereka memperoleh kendali atas wilayah penting, tetapi juga membuka jalan untuk mendapatkan persenjataan yang jauh lebih kuat.

Melalui kerja sama sementara dengan mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan sejumlah anggota militer yang masih setia kepadanya, Houthi mendapatkan akses ke persenjataan militer, termasuk rudal Scud dan Tochka peninggalan era Soviet.

Perkembangan tersebut semakin cepat setelah Arab Saudi memimpin intervensi militer di Yaman pada 2015.

Iran yang memiliki kedekatan dengan Houthi kemudian meningkatkan dukungannya, mulai dari pasokan rudal balistik, drone, hingga bantuan pelatihan.

Tidak hanya Iran, anggota kelompok Hizbullah dari Lebanon juga dilaporkan membantu meningkatkan kemampuan para petempur Houthi dalam menggunakan persenjataan tersebut.

Selama bertahun-tahun, pola hubungan ini membuat Houthi dikenal sebagai salah satu kelompok bersenjata yang berada dalam jaringan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan tersebut mulai mengalami perubahan.

Houthi tidak lagi hanya berusaha mendapatkan senjata siap pakai dari luar negeri. Mereka mulai membangun kemampuan untuk membuat dan merakit senjata di dalam Yaman.

Dari Membeli Senjata, Kini Mulai Membuat Sendiri

Perubahan inilah yang membuat kekuatan Houthi semakin sulit dihentikan.

Sebelumnya, kelompok tersebut sangat membutuhkan pengiriman senjata jadi, seperti rudal dan drone, dari pihak luar. Namun, sekarang mereka semakin banyak mencari komponen yang bisa digunakan untuk membuat persenjataan sendiri.

Komponen tersebut kemudian digunakan dalam kegiatan produksi dan perakitan di wilayah yang mereka kuasai.

Pada 21 September 2026, pemimpin Houthi Abdul-Malik al-Houthi bahkan mengklaim kelompoknya sudah mampu membuat senjata dari awal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari negara lain.

Klaim tersebut memang belum sepenuhnya terbukti. Namun, sejumlah peneliti menemukan semakin banyak bukti bahwa Houthi telah mengembangkan kemampuan produksi senjata di Yaman.

Fabian Hinz, peneliti Conflict Armament Research (CAR), mengungkapkan bahwa kecepatan dan besarnya ambisi produksi militer Houthi telah mengejutkan banyak pengamat.

Sebagian besar persenjataan mereka memang masih menggunakan rancangan asal Iran. Namun, beberapa jenis drone jarak menengah dinilai sudah bisa dibuat dengan sebagian besar komponen yang tidak berasal dari Iran.

Gambaran perubahan tersebut juga terlihat dalam penelitian Century International, bagian dari lembaga kajian The Century Foundation yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Dalam laporan yang diterbitkan pada Februari 2026, para peneliti mempelajari ratusan barang yang disita dari pengiriman yang diduga ditujukan kepada Houthi sepanjang 2013-2025.

Hasilnya memperlihatkan perubahan yang cukup besar.

Pada tahun-tahun awal konflik, banyak barang yang disita merupakan senjata utuh yang siap digunakan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, barang yang ditemukan justru semakin banyak berupa komponen dan bahan untuk membuat persenjataan.

Bahkan, lebih dari 80% barang yang disita sepanjang 2024-2025 merupakan bahan atau komponen untuk produksi senjata, bukan sistem persenjataan lengkap.

Perubahan Jenis Persenjataan yang Disita dari Pengiriman Menuju Houthi, 2013-2025 Foto: The Economist

Houthi mulai mengandalkan jaringan pasokan internasional untuk membangun kemampuan produksi militernya sendiri.

Perubahan ini juga membuat upaya menghentikan pasokan persenjataan menjadi jauh lebih rumit.

Jaringan Pasokan Senjata Meluas hingga China

Menariknya, perubahan cara Houthi mendapatkan senjata juga diikuti oleh perubahan negara asal barang-barang yang mereka gunakan.

Dahulu, Iran menjadi salah satu sumber utama persenjataan Houthi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, barang dan komponen yang berasal dari China semakin banyak ditemukan.

Berdasarkan penelitian Century International, sekitar 35% barang yang tercatat dalam penyitaan sepanjang 2021-2025 berasal dari China, sedangkan sekitar 21% berasal dari Iran.

Hal tersebut tidak otomatis berarti pemerintah China memasok senjata secara langsung kepada Houthi. Banyak barang yang ditemukan merupakan produk industri yang juga memiliki kegunaan untuk kegiatan sipil.

Persoalannya, barang-barang yang umum digunakan dalam kegiatan industri ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk membuat persenjataan.

Dalam dunia perdagangan, barang seperti ini dikenal sebagai dual-use, yakni produk yang memiliki kegunaan sipil sekaligus berpotensi digunakan untuk kepentingan militer.

Salah satu contoh yang diangkat The Economist adalah Ali al-Wazir, seorang pengusaha asal Yaman yang menjalankan aktivitas bisnis di Guangzhou, China.

Pria yang dikenal dengan julukan Prince tersebut dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada Juni 2024 karena dituduh terlibat dalam pengadaan barang yang membantu Houthi memproduksi senjata di Yaman.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa jaringan pendukung Houthi tidak hanya melibatkan kelompok bersenjata atau pihak militer.

Para pengusaha, perusahaan perdagangan, dan jaringan pemasok di berbagai negara juga diduga menjadi bagian dari jalur pengadaan barang yang digunakan dalam industri militer Houthi.

Pada Oktober 2026, penelitian CAR kembali menemukan bukti yang memperkuat persoalan ini.

Komponen khusus yang ditemukan dalam pengiriman yang disita di Pelabuhan Aden diduga berkaitan dengan upaya Houthi memproduksi rudal balistik berdasarkan rancangan Iran.

Mengapa Jaringan Houthi Sulit Dihentikan?

Besarnya jaringan perdagangan yang digunakan Houthi menjadi salah satu alasan mengapa kelompok tersebut tetap mampu mengembangkan kekuatan militernya meskipun menghadapi sanksi dan serangan militer.

Selama lebih dari satu dekade, Houthi telah menjadi sasaran embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

AS juga berulang kali menjatuhkan sanksi terhadap individu dan perusahaan yang diduga membantu kegiatan pengadaan persenjataan kelompok tersebut.

Namun, langkah tersebut belum berhasil menghentikan seluruh aliran barang yang menuju wilayah Houthi.

Salah satu persoalannya adalah jaringan pasokan yang sangat luas.

Barang-barang yang digunakan Houthi tidak hanya berasal dari satu negara atau melalui satu jalur perdagangan. Jaringan tersebut melibatkan berbagai wilayah di Timur Tengah, Afrika, hingga Asia.

Di sisi lain, kondisi keamanan Yaman yang terpecah akibat perang saudara juga membuat pengawasan menjadi sulit.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional harus menghadapi persoalan koordinasi antarkelompok dan lembaga keamanan di wilayah yang mereka kuasai.

Akibatnya, upaya menghentikan penyelundupan sering kali tidak berjalan efektif.

Bahkan, ketika satu jaringan berhasil dibongkar, masih ada kemungkinan barang-barang lain masuk melalui jaringan perdagangan yang berbeda.

Persoalan semakin rumit karena tidak semua barang yang masuk ke Yaman merupakan senjata atau barang terlarang. Banyak di antaranya merupakan produk perdagangan biasa yang baru menimbulkan persoalan ketika digunakan untuk mendukung kegiatan militer.

Houthi Semakin Mandiri, Iran Justru Bisa Diuntungkan

Perkembangan industri militer Houthi juga membawa perubahan dalam hubungannya dengan Iran.

Selama ini, Teheran dikenal sebagai pendukung utama kelompok tersebut. Bantuan persenjataan, pelatihan, dan informasi intelijen dari Iran memiliki peran besar dalam membangun kekuatan Houthi.

Namun, kemampuan membuat persenjataan sendiri membuat Houthi semakin tahan ketika pasokan dari Iran terganggu.

Bagi Iran, kondisi tersebut juga memiliki keuntungan. Dalam strategi pertahanannya, Iran selama ini berupaya membangun kekuatan yang tidak bergantung pada satu pusat komando atau satu jalur pasokan saja.

Pendekatan serupa terlihat dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok bersenjata yang menjadi sekutunya di Timur Tengah.

Dengan kemampuan produksi yang lebih mandiri, kelompok seperti Houthi tetap dapat melanjutkan aktivitas militernya meskipun Iran sendiri tengah menghadapi tekanan.

Namun, perkembangan tersebut juga bisa membuat Houthi semakin sulit dikendalikan oleh Teheran.

Sebab, semakin besar kemampuan militer yang mereka miliki, semakin besar pula ruang bagi kelompok tersebut untuk mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri.

Houthi juga tidak lagi hanya memandang dirinya sebagai kelompok yang mendapat dukungan Iran. Mereka ingin menjadi kekuatan utama yang menentukan masa depan Yaman.

Ambisi tersebut terlihat dari upaya memperluas hubungan dengan Rusia serta sejumlah kelompok bersenjata di Afrika.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/luc)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Komnas HAM Sebut Ada 4 Pelanggaran Serius di Kasus Dokter Icha
• 9 jam lalu
0
thumb
Gerebek Ponpes Hamalatul Quran, Kapolda Jateng Irjen Roy Hardi Siahaan Dilaporkan ke Propam
• 4 jam lalu
0
thumb
Samsung cetak rekor keuntungan Rp1.450 triliun berkat bisnis memori
• 6 jam lalu
0
thumb
Foto: Serangan Siber Bikin Freezer Supermarket Eropa Jadi 50 Derajat, Stok Makanan-Minuman Kosong
• 2 jam lalu
0
thumb
Iyyas Subiakto Sebut Polemik Hukum Gibran Berkaitan dengan Pilpres 2029
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.