Buku “Bangsa Pelaut—Kisah Setua Waktu” karya Wenri Wanhar diluncurkan melalui diskusi di atas kapal Pelni KM Dorolonda, Jumat (30/10/2026). Acara berlangsung di kafe Rutikopi, bagian buritan kapal, dalam pelayaran Ekspedisi Megadiversity bertajuk “Out of Equator”.
Berdasarkan keterangan tertulis penyelenggara, peluncuran tersebut merupakan satu dari delapan program kebudayaan selama ekspedisi pada 28 Oktober–10 November 2026. Pelayaran menempuh perjalanan dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Raja Ampat.
Dalam diskusi itu, Wenri menjelaskan bahwa bukunya menelusuri sejarah dan kebudayaan maritim di Kepulauan Indonesia dengan merujuk pada sumber tertulis dan bukti arkeologis. Ia mengangkat kehidupan masyarakat pada masa sungai menjadi jalur transportasi utama dan laut menjadi ruang aktivitas mereka.
“Pada masa angin dan arus jadi penentu. Pada masa kita masih menjadi Bangsa Pelaut. Bangsa Samudra,” kata Wenri, sebagaimana dikutip dalam rilis tersebut.
Wenri juga memaparkan pandangannya tentang samudra sebagai falsafah hidup yang menghubungkan manusia dengan alam. Menurutnya, tradisi yang tumbuh dari kebudayaan maritim menyimpan nilai budi yang berkaitan dengan kecerdasan jiwa dan raga.
Diskusi turut diisi tanggapan peserta ekspedisi, termasuk Ismu Subroto dari Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ia mengaitkan pembahasan buku dengan keberadaan fosil purba di wilayah Galuh Timur, Bumiayu.
Sementara itu, pegiat literasi dari Jakarta, Rivai, menyatakan kesediaannya membantu memperkenalkan buku tersebut kepada pembaca. Rivai sehari-hari berkegiatan di ruang literasi di Pasar Gembrong, Jakarta Timur.
“Kami punya jaringan literasi, dan toko buku, kami akan bantu mengkampanyekan dan mendistribusikan buku Bangsa Pelaut,” kata Rivai.
Buku tersebut disajikan dalam tiga bagian, yakni “Satu Babak Sejarah Sabak”, “Serat Dua Samudra”, dan “Tuah Negara Ketiga”. Dalam rilisnya, penulis menyebut buku itu ditulis menggunakan metode jurnalistik kontemporer.
Di sela diskusi, peserta bersama-sama menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” karya Ibu Soed. Perupa Dani Iswardana dari Solo serta Dul dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta turut merespons acara dengan melukis pada media payung.






Komentar (0)