Yoga di Candi Prambanan Jadi Rangkaian Pra-Event Jogja Cultural Wellness Festival 2026

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 mulai memperkenalkan rangkaian kegiatannya melalui sejumlah pra-event, salah satunya sesi yoga bersama Yoga Shala dengan latar Candi Prambanan. Berlangsung di ruang terbuka dengan hamparan rumput dan udara pagi yang sejuk, kegiatan ini mengajak peserta menikmati pengalaman wellness dengan suasana yang berbeda.

Selama kurang lebih satu jam, peserta mengikuti gerakan yoga yang dipadukan dengan latihan pernapasan. Sesi kemudian dilanjutkan dengan sound healing untuk membantu peserta merilekskan tubuh dan pikiran setelah berlatih.

Kegiatan ini menjadi salah satu cara memperkenalkan konsep wellness yang akan diangkat dalam penyelenggaraan JCWF 2026. Bukan sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran, festival ini juga ingin menunjukkan bahwa Yogyakarta memiliki kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wellness.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, menjelaskan bahwa JCWF berawal dari upaya memperkenalkan Yogyakarta sebagai destinasi wellness. Menurutnya, Yogyakarta bersama Bali dan Kota Solo pernah ditetapkan sebagai destinasi prioritas wellness oleh Kementerian Pariwisata.

"Ini menggugah kita untuk punya target baru dalam memperkenalkan pariwisata Jogja melalui program wellness," ujarnya kepada kumparanWOMAN.

Menghubungkan Komunitas Wellness dengan Industri Pariwisata

Gusti Kanjeng Ratu Bendara menjelaskan bahwa penyelenggaraan JCWF berangkat dari kebutuhan untuk mempertemukan komunitas wellness dengan industri pariwisata. Proses pencarian konsepnya dimulai dengan mengenali berbagai komunitas yang sudah berkembang di Yogyakarta.

Pada dua tahun pertama, penyelenggaraan festival dilakukan dengan berkeliling ke sejumlah kabupaten dan kota untuk melihat potensi yang dimiliki setiap daerah. Setelah itu, konsep acara mulai dikembangkan dalam satu lokasi agar komunitas wellness, pelaku pariwisata, budayawan, dan seniman dapat saling bertemu.

Melalui pertemuan tersebut, JCWF diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan aktivitas wellness kepada masyarakat, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan pengembangan produk wisata baru.

"Harapannya dari situ, dari kenal dulu, lalu sayang, lalu membuat perkembangan yang di kemudian hari," kata Gusti Kanjeng Ratu Bendara.

Ia juga berharap pengalaman wellness yang selama ini berkembang di Yogyakarta dapat dikenal lebih luas, termasuk oleh wisatawan dari luar negeri.

Mengemas Kearifan Lokal Jawa dalam Konsep Wellness Modern

Salah satu hal yang ingin diangkat melalui JCWF adalah hubungan antara wellness modern dan tradisi yang sudah lama hidup di tengah masyarakat Jawa.

Menurut Gusti Kanjeng Ratu Bendara, istilah wellness mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan keseimbangan antara manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan alam.

Ia mencontohkan tradisi berjalan tanpa alas kaki atau nyeker yang memiliki keterkaitan dengan konsep grounding dalam wellness modern. Begitu pula dengan gamelan yang berpotensi menjadi bagian dari pengalaman sound healing, serta tarian tradisional yang dapat dikembangkan sebagai aktivitas olah tubuh.

Ada pula tradisi puasa tertentu yang menurutnya menarik untuk ditelusuri lebih jauh dalam pembahasan wellness berbasis kearifan lokal. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa praktik menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran tidak selalu harus mengadopsi konsep dari luar negeri.

Gusti Kanjeng Ratu Bendara menyebut pendekatan ini sebagai repackaging the culture, yakni mengemas kembali kearifan lokal dengan bahasa dan bentuk yang lebih mudah diterima generasi muda tanpa menghilangkan makna aslinya.

"Bukan kuno, hanya saja bagaimana kita membreakdown dan menjelaskan filosofi itu dengan bahasa mereka," tuturnya.

Jadwal Jogja Cultural Wellness Festival 2026

Selain memperkenalkan wellness berbasis budaya Jawa, JCWF juga ingin mendorong penyelenggaraan kegiatan pariwisata yang lebih memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Hal ini mencakup pemilihan produk dengan kemasan ramah lingkungan hingga mempertimbangkan dampak sampah dan jejak karbon setelah sebuah acara berlangsung.

Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengatakan bahwa salah satu agenda ke depan adalah menyusun panduan atau SOP wellness yang tetap berakar pada kearifan lokal Yogyakarta. Dengan begitu, pengembangan produk wellness tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki landasan budaya yang jelas.

JCWF juga memiliki misi untuk memperluas konektivitas antarkomunitas sekaligus menarik wisatawan wellness agar berkunjung dan menghabiskan lebih banyak waktu di Yogyakarta.

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Pada 6 November, kegiatan difokuskan pada pertemuan komunitas, pelaku wellness, industri pariwisata, budayawan, dan seniman. Sementara pada 7–8 November, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas wellness sejak pagi hingga malam, mulai dari yoga, meditasi, hingga sound healing.

Melalui rangkaian pra-event hingga festival utama, JCWF 2026 ingin mengajak masyarakat mengenal lebih dekat pengalaman wellness yang memadukan praktik modern dengan kekayaan budaya Yogyakarta.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tembus Pasar Internasional, UMKM Pertamina Unjuk Gigi di Kancah Global
• 2 jam lalu
0
thumb
Ekonomi Tumbuh 5,29%, Mengapa Masyarakat Justru Makin Sulit Belanja?
• 6 menit lalu
0
thumb
Kemendag Dorong UKM Mahasiswa Tembus Pasar Global, Potensi Transaksi Capai US$24,57 Juta
• 16 jam lalu
0
thumb
Data 5,7 Juta Pelanggan Bocor, Fore Ngadu ke Komdigi
• 22 jam lalu
0
thumb
Proyeksi Harga Emas Sepekan, Analis Ramal Koreksi Berlanjut
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.