Persaingan Panas Eisenkot vs Netanyahu, Deadlock Pemilu Israel 2026 Berlanjut

disway.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-- Persaingan sengit antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan rival utamanya Gadi Eisenkot dalam pemilihan legislatif Israel 27 Oktober 2026 berakhir tanpa pemenang jelas. Kedua blok gagal meraih mayoritas 61 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang.

Hasil resmi menunjukkan blok kanan-religius pimpinan Netanyahu (Likud dan sekutu) meraih 53 kursi, sementara blok oposisi pimpinan Eisenkot (partai Yashar!) memperoleh 48 kursi.

Partai-partai Arab (Joint List dan Ra’am) merebut 19 kursi dan berpotensi menjadi penentu. Likud menjadi partai terbesar dengan 27 kursi, disusul Yashar dengan 21 kursi.  

BACA JUGA:Kepala Staf IDF Dilaporkan Membangkang, Tolak Perintah Netanyahu Serang Iran

Diketahui, Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel (2015–2019), muncul sebagai tantangan utama Netanyahu setelah Benny Gantz keluar dari kontestasi pada 19 Oktober 2026 karena polling partainya di bawah ambang batas. Eisenkot, yang kehilangan putra dan dua keponakan dalam perang Gaza, memposisikan diri sebagai kandidat sentris dengan kredensial keamanan kuat.

Ia menuduh Netanyahu gagal memberikan visi perang yang jelas dan menyerukan perubahan.

Sebelum pemilu, polling menunjukkan Eisenkot unggul tipis. Survei Walla pada 20 Oktober menempatkan Yashar di 23 kursi dan Likud di 19. Exit poll awal sempat memberi keunggulan pada blok oposisi, tetapi hasil akhir membalikkan posisi. Turnout mencapai 77,7 persen, tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Klaim dan Reaksi Kedua Pihak

Eisenkot menyatakan publik telah memberikan “suara tidak percaya” kepada Netanyahu dan menyerukannya untuk mengundurkan diri dari politik. “Pemimpin yang layak akan menerima keputusan rakyat,” ujarnya di hadapan pendukung di Tel Aviv.  

BACA JUGA:Bahlil Tegaskan Indonesia Belum Ekspor Listrik ke Singapura, Prioritas Dalam Negeri

Netanyahu mengklaim blok kanannya memiliki “mayoritas jelas dan tegas”, serta menyerukan pembentukan pemerintahan kanan yang kuat. Ia memperingatkan kerja sama dengan partai Arab sebagai “bencana bagi Israel”.  

Blok Netanyahu kekurangan 8 kursi, sementara blok Eisenkot membutuhkan dukungan tambahan. Kerja sama oposisi dengan partai Arab bisa mencapai 67 kursi, tetapi Eisenkot sebelumnya menolak duduk bersama faksi yang tidak mengakui Hamas sebagai organisasi teroris.

Opsi pemerintahan kesatuan juga sempat muncul, meski kedua pihak secara publik menolak.

Menurut laporan media i24 News, Senin, 2 November 2026, sumber yang dekat dengan Partai Likud menyebut Netanyahu masih mempertimbangkan berbagai opsi politik.  

“Netanyahu khawatir Eisenkot dapat bekerja sama dengan partai-partai Arab dan kelompok ultra-Ortodoks untuk membentuk koalisi alternatif yang dapat menggulingkan pemerintahannya,” kata sumber tersebut, sebagaimana dilaporkan i24 News, dikutip dari India Today.  

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mantap! Timnas Indonesia U-17 Dua Kali Gasak Malaysia Jelang Kualifikasi Piala Asia U-17 2027
• 6 jam lalu
0
thumb
Alasan KPK Belum Panggil Nusron Wahid
• 5 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Berkomitmen Atasi Persoalan PMI di Hongkong, Ini Buktinya!
• 18 jam lalu
0
thumb
Proyek Dermaga dan Pendalaman Alur Pelayaran Jhonlin Group Dimulai, Dorong Konektivitas dan Investasi Kawasan
• 9 jam lalu
0
thumb
Pemkab Takalar Alokasikan Tambahan Anggaran Rp6,7 Miliar dari DAU dan DBH untuk Desa
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.