Harga Cabai dan Tomat Naik, BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Sebesar 0,22 Persen

kompas.tv
1 jam lalu
Cover Berita
Cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan komoditas pangan lainnya yang dijual pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026). (Sumber: ANTARA/Harianto)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi pendorong utama inflasi Oktober 2026 yang mencapai 0,22 persen secara bulanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan sumbangan terbesar terhadap kenaikan harga tersebut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,51 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,15 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen. Berikutnya cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Selain ketiga komoditas tersebut, sawi hijau, labu siam, dan sawi putih turut menyumbang inflasi, masing-masing sebesar 0,01 persen.

Baca Juga: Simak Daftar Harga Emas Pegadaian Senin Siang 2 November 2026: Antam, UBS, dan Galeri24

Di luar kelompok pangan, tarif angkutan udara juga memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

BPS juga mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara tahunan, inflasi Oktober mencapai 3,23 persen, sedangkan inflasi tahun kalender tercatat sebesar 2,40 persen.

Berdasarkan komponennya, tekanan inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok harga bergejolak atau volatile food. Komponen ini mengalami inflasi sebesar 0,77 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,13 persen.

Kenaikan harga pada komponen tersebut terutama dipengaruhi cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam, dan sawi putih.

Baca Juga: Kategori Pekerja Dilarang Mendapat BSU 2026 Rp 900 Ribu

Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil sebesar 0,07 persen. Menurut Ateng, tidak ada komoditas pada komponen inti yang memberikan andil dominan berdasarkan ambang yang digunakan BPS, yakni 0,01 persen.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil sebesar 0,02 persen. Tarif angkutan udara menjadi komoditas dominan yang menyumbang inflasi pada komponen ini.

Di tengah kenaikan harga tersebut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,06 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama deflasi kelompok tersebut.

Secara wilayah, sebanyak 33 dari 38 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026. Sementara itu, lima provinsi lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Papua Selatan sebesar 1,12 persen. Sebaliknya, deflasi terdalam terjadi di Gorontalo sebesar 0,67 persen.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV

Tag
  • inflasi oktober 2026
  • harga cabai
  • pemicu inflasi oktober 2026
  • data inflasi bps
  • bps
  • badan pusat statistik
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Catat! Mabes Polri Larang Penggunaan Vape untuk Anggota dan ASN
• 7 jam lalu
0
thumb
Ketum Santri Indonesia Minta Warga Percaya Proses Hukum Kasus Penggeledahan Ponpes Sukoharjo
• 8 jam lalu
0
thumb
Populer: Penyebab IHSG Anjlok; Singapura Mau Impor Listrik dari Vietnam
• 10 jam lalu
0
thumb
Lahar Dingin Semeru Terjang Lumajang, Warga Dusun Sumberlangsep Terisolasi
• 2 jam lalu
0
thumb
IHSG Senin dibuka melemah 17,51 poin ke posisi 5.039
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.