Saksi Ungkap Detik-detik Truk Molen Terguling di Bekasi: Oleng, Ban Meledak, Tabrak Halte TransJ

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah saksi mata menceritakan detik-detik kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk molen di Jalan Cut Mutia, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, tepatnya di depan Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (BSI), Minggu (1/11) sore.

Kecelakaan yang melibatkan truk molen bernomor polisi B 9548 MV itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Dari peristiwa tersebut mengakibatkan setidaknya 12 orang menjadi korban, dengan enam orang meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.

Jenazah dibawa ke RS Siloam Sepanjang Jaya dan RSUD Kota Bekasi, sementara korban luka dibawa ke RS Juwita serta RS Siloam Sepanjang Jaya.

Salah satu saksi mata, Sutiman, petugas keamanan kampus BSI mengaku melihat truk molen yang semula berada di lajur kanan tiba-tiba berpindah ke kiri dalam kondisi oleng sebelum akhirnya menabrak halte Transjakarta. Kala itu, Sutiman sedang bertugas di dekat pagar kampus yang mengarah ke jembatan.

“Mobil molen lajur kanan. Tiba-tiba ke kiri terus oleng. Nah, di sini persis meledak tuh, bannya atau apa nggak tahu,” kata Sutiman saat ditemui kumparan di lokasi, Senin (2/11).

Terdengar Ledakan

Sutiman menyebut sempat terdengar suara ledakan. Mendengar itu, dia langsung berlari ke dalam kampus untuk menghindari truk yang melaju ke arahnya. Kata dia, posisinya berada sangat dekat dengan kendaraan tersebut saat kecelakaan terjadi.

“Begitu dengar ledakan ban itu, saya langsung ke dalam, lari. Nah, itu saya jarak dari jatuh ini paling semeter deh,” ujarnya.

Sutiman menyebut truk molen tersebut menabrak halte hingga sejumlah tiang roboh, termasuk tiang penanda halte. Saat kejadian, terdapat sejumlah warga yang sedang menunggu Transjakarta di lokasi itu.

“Ini kan nabrak ini [tiang], sampai jatuh, nah otomatis kan mobil itu miring, kena orang itu ya,” tuturnya.

Kondisi korban yang tertabrak dan tertimpa truk juga diceritakan oleh Radiono, petugas keamanan BSI lainnya. Ia mengaku berada di dalam pos saat kecelakaan terjadi dan menyaksikan truk molen sudah oleng sejak melewati turunan.

“Dari sana [turunan] sudah oleng, terus dia ngambil posisi [lajur] kiri. Karena kebetulan di depan truk molen itu banyak mobil [di lajur kanan]. Jadi posisi kiri kebetulan kosong,” kata Radiono.

Menurut Radiono, truk kemudian menabrak warga yang sedang menunggu Transjakarta. Ia menggambarkan sejumlah korban terseret dan mengalami luka parah akibat kecelakaan tersebut.

“Keseret. Jadi begitu ini nabrak, keseret sampai kepotong. Soalnya ini ada [besi] lepas. Kan posisi [korban] duduk di situ, jadi ada yang kepalanya kena, kakinya lepas,” kata Radiono.

Namun, Radiono mengaku tidak melihat langsung seluruh kondisi korban karena saat kejadian ia berfokus membantu penyelamatan. Ia mengatakan langsung berupaya menolong anak-anak yang berada di sekitar lokasi.

“Saya nggak memperhatikan saya menyelamatkan si anak aja, saya pindah-pindahin terus baru pada datang dari polisi sama dari Dishub langsung pada berdatangan,” ungkapnya.

Salah satu anak yang dievakuasi Radiono, dibawa ke RS Siloam Sepanjang Jaya menggunakan sepeda motor karena ambulans belum tiba.

“Saya cuma bawa pakai motor. Nunggu ambulans kan, ambulans datang karena macet,” tuturnya.

Di tengah proses evakuasi tersebut, Radiono juga melihat keluarga korban mendatangi lokasi kecelakaan. Menurutnya, salah satu keluarga korban yang tinggal tidak jauh dari tempat kejadian sampai pingsan setelah mengetahui anggota keluarganya meninggal dunia.

“Ada yang dekat [rumahnya]. Udah pingsan-pingsan,” kata Radiono.

Kekhawatiran Penumpang Transjakarta

Kecelakaan tersebut tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang sehari-hari menggunakan halte Transjakarta di depan kampus BSI.

Nadia (32), salah satu penumpang yang biasa menunggu bus di halte tersebut, mengaku turut berduka sekaligus khawatir karena lokasi halte berada tepat di tepi jalan raya.

“Berduka juga sih, turut prihatin juga. Ada kekhawatiran juga sebenarnya buat nunggu di sini, karena kan posisinya benar-benar persis di plang haltenya,” ungkap Nadia.

Nadia yang tinggal di dekat halte itu mengatakan akan lebih berhati-hati saat menunggu Transjakarta, terutama jika terdapat kendaraan besar yang melintas. Ia sampai mempertimbangkan untuk menunggu bus di dalam kampus BSI.

“Kalau misalnya nanti ada truk yang besar lewat, mungkin baiknya kita menghindar aja atau lebih baik di dalam aja sih nunggu di dalam kampus BSI-nya,” tuturnya.

Atas kejadian tersebut, Nadia berharap ada pertimbangan untuk meningkatkan keamanan fasilitas halte agar penumpang merasa lebih nyaman saat menunggu bus.

“Mungkin bisa dipertimbangkan lagi untuk membuat halte yang lebih safety, aman buat para penunggunya,” kata dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Viral Nursery Room di TSM Cibubur Diduga Tak Digunakan Sesuai Fungsinya, Netizen: Dikira Ruang Istirahat Kali
• 17 jam lalu
0
thumb
DTIIF 2026 Hadirkan 3.000 Peserta, Danantara Perkuat Kolaborasi Riset dan Industri Nasional
• 21 jam lalu
0
thumb
Ungkap Kasus Pembunuhan Balita di Kebayoran Lama, Polisi Gunakan Pendekatan Scientific Investigation
• 3 menit lalu
0
thumb
Langkah BNPB Mitigasi Bencana Jelang Musim Hujan
• 8 jam lalu
0
thumb
Penembakan Massal di Akhir Pekan Halloween, 6 Orang Tewas dan Puluhan Terluka di Seluruh AS
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.