Grid.ID - Satu keluarga diketahui mengalami gangguan jiwa di Bandung. Berawal dari terpuruk usai bangkrut.
Kisah pilu menimpa sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Keluarga yang dahulunya bergelimang harta dan hidup berkecukupan itu, kini harus berjuang melawan gangguan kejiwaan setelah roda kehidupan berputar drastis hingga jatuh miskin.
Berikut kronologi satu keluarga alami gangguan jiwa di Bandung. Kejadian tersebut berawal dari keterpurukan usai bangkrut.
Asep Saepudin, salah seorang tetangga keluarga tersebut, mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka menjalani kehidupan dengan kondisi perekonomian yang tergolong berkecukupan. Keluarga itu bahkan dikenal memiliki usaha dan sempat meraih kesuksesan sebagai pengusaha.
Akan tetapi, kehidupan mereka mengalami perubahan besar setelah bisnis yang dijalankan mengalami kebangkrutan. Sejak saat itu, kondisi psikologis ketiga anak Cucu disebut mulai terganggu akibat berbagai persoalan yang mereka hadapi.
"Dulu itu, keluarganya pengusaha gorden yang sukses. Jadi dulu orangnya usaha jalan, terus berada lah. Tapi karena bangkrut, di situ mungkin jadi mengalami depresi dan stres," ujarnya, dikutip dari Tribunnews.com
Keadaan keluarga tersebut kian memprihatinkan setelah kedua orang tua Ogi, yakni Cucu dan suaminya, memutuskan untuk berpisah. Asep juga mengungkapkan bahwa sebelum berbagai persoalan terjadi, keluarga itu memang tidak terlalu sering berinteraksi atau bergaul dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
"Dulu juga orangnya jarang berkomunikasi, makanya dari sisi masyarakat tetangga itu enggak jarang berbaur."
"Ditambah, mungkin tekanan dari orang tuanya jadi anak-anaknya jadi tertekan hingga kayak gini (gangguan kejiwaan)," katanya.
Asep menjelaskan bahwa Erna menjadi orang pertama dalam keluarga tersebut yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Akibat kondisi yang dialaminya, Erna tidak dapat melanjutkan pendidikan dan harus berhenti sekolah.
"Kalau Erna itu dari dulu sudah hampir 20 tahun. Waktu SMP sudah berhenti sekolah kayak gitu."
Baca Juga: Kronologi Nenek di Depok Bakar Cucu Kandung, Berawal dari Kesal Tak Dijemput dan Jalan Kaki
"Kalau Ogi mah baru tiga tahun ini. Melinda cuma takut sama orang saja. Kalau ada orang pasti dia ngumpet," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa mengatakan, istri Ogi yakni Indah Triyanti yang mulanya memiliki kesadaran normal, perlahan ikut tergerus mentalnya akibat terisolasi di lingkungan yang kotor dan penuh tekanan.
"Indah awalnya sadar, tapi karena diam di lingkungan yang seperti itu, kotor bau, dan dia diam artinya dia juga sama kena mentalnya," tutur Yasa, Selasa (27/10/2026), dikutip dari Kompas.com.
Dasar (SD), serta Fahri Syahreza yang berusia lima tahun. Belum lama ini, Indah kembali melahirkan seorang bayi perempuan sehingga kini mereka memiliki tiga anak.
Diketahui, kedua anak Indah juga masih tinggal bersama keluarga tersebut di rumah yang sama. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang dihuni oleh anggota keluarga dengan gangguan kejiwaan dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap proses tumbuh kembang anak-anak.
Yasa mengungkapkan bahwa keadaan Fahri saat ini mulai menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, anak berusia lima tahun tersebut hampir tidak pernah meninggalkan rumah maupun berinteraksi dengan anak-anak seusianya.
"Yang mengerikan, si Fahri diam dan duduk hidup di lingkungan yang tiga orang mentalnya tidak sehat."
"Fahri gak pernah keluar, gak bersosial dengan anak sebayanya, kalau lihat orang nangis. Kalau Akbar masih bisa main dengan temennya."
"Per hari ini meskipun Indah lagi di Welas Asih (rumah sakit usai melahirkan), ya anggota keluarganya masih di sana di rumah yang sama," katanya.
Setelah kisah keluarga tersebut menjadi perhatian publik, tiga anggota keluarga akhirnya mendapatkan penanganan melalui proses evakuasi yang dilakukan Dinas Sosial Kabupaten Bandung bersama Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat pada Jumat pagi.
Ketiga orang yang dievakuasi tersebut adalah Ogi, Erna, dan Melinda. Petugas kemudian membujuk mereka agar bersedia dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: Kronologi Polisi di Riau Bunuh Ibu Kandung, Diduga Idap Skizofrenia dan Sempat Ucap Pesan Aneh ke Tetangga
"Alhamdulillah, gerak cepat semua pihak, dari dinas pun tindakan tanpa tunda-tunda. Keluarga yang mentalnya kurang sehat itu langsung dibawa ke RSJ untuk direhabilitasi mental," ujar Yasa, dikutip dari TribunJabar.id.
Di samping itu, pemerintah desa turut menjalin komunikasi dengan instansi terkait guna merumuskan langkah penanganan yang dapat menjamin masa depan anak-anak Ogi dan Indah. Untuk Akbar, pihak desa mengajukan usulan agar anak tersebut bisa melanjutkan pendidikannya melalui program Sekolah Rakyat.
Adapun Fahri bersama bayi perempuan yang baru dilahirkan direncanakan tetap tinggal bersama Indah. Sementara itu, Cucu untuk sementara waktu akan menetap di rumah sambil menunggu pelaksanaan rehabilitasi tempat tinggalnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sedang mempersiapkan program perbaikan rumah yang selama ini ditempati keluarga tersebut.
Yasa mengatakan, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Bandung telah melakukan peninjauan dan siap membantu proses renovasi agar kondisi rumah menjadi lebih layak dan nyaman untuk ditempati.
"Alhamdulillah, ada dari Disperkimtan juga Kabupaten Bandung. Terima kasih Bapak Bupati, rumahnya itu bakal direhab supaya layak huni," ucapnya. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)