Aplikasi Peringatan Serangan Udara Ukraina dan Rusia Diretas, Ada Ancaman Palsu

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Angkatan Udara Ukraina menyebut aplikasi peringatan serangan udara negaranya diduga diretas. Aplikasi tersebut menampilkan informasi bahwa ibu kota Kyiv berada dalam ancaman radiasi hingga peringatan ancaman nuklir.

Dilansir BBC dan Reuters, Senin (2/11/2026), aplikasi tersebut sempat menampilkan peringatan mengenai ancaman radiasi, ancaman serangan nuklir dan kimia, serta ancaman pertempuran jalanan di Kyiv dan wilayah lainnya. Selain itu pesan ancaman lainnya menyebutkan rudal hipersonik Oreshnik milik Rusia telah dikerahkan.

Pihak Angkatan Udara Ukraina menyebut aplikasi tersebut kemungkinan telah diretas. Mereka menegaskan tidak ada ancaman radiasi.

"Aplikasi peringatan serangan udara tampaknya telah dipengaruhi oleh pihak musuh," ungkap Angkatan Udara Ukraina melalui Telegram.

Baca juga: Serangan Drone Hantam Moskow, Ukraina Klaim Bombardir Kilang Minyak Besar

"Tidak ada ancaman radiasi! Tetap tenang dan pantau terus informasi terbaru melalui saluran kami!" tulis Militer Ukraina.

Gangguan tersebut kemudian menghilang. Kementerian Transformasi Digital Ukraina menyatakan aplikasi tersebut sempat tidak berfungsi, namun sarana peringatan publik lainnya, termasuk sirene serangan udara tetap beroperasi sebagaimana mestinya.

Badan Intelijen Pusat Ukraina menyatakan telah terjadi kegagalan pada aplikasi tersebut. Mereka mengimbau masyarakat untuk menggunakan sumber informasi lain untuk memastikan situasi terkait ancaman serangan udara.

Aplikasi Rusia Juga Diretas

Beberapa jam kemudian, pihak berwenang Rusia juga melaporkan bahwa aplikasi mereka yang dirancang untuk memperingatkan masyarakat mengenai serangan pesawat nirawak (drone) dan ancaman lainnya juga diretas.

Sebuah kelompok spionase Ukraina dikabarkan telah mengirimkan peringatan palsu mengenai serangan nuklir di wilayah Rusia.

"Perhatian! Aplikasi seluler Kementerian Keadaan Darurat Rusia telah menjadi sasaran serangan siber besar-besaran, yang memungkinkan pihak penyerang mengirimkan informasi palsu kepada masyarakat," demikian pernyataan yang diunggah oleh kementerian tersebut melalui Telegram, dilansir AFP.




(yld/fca)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polisi Janji Usut Tuntas Kecelakaan Truk Molen Tewaskan 6 Orang di Bekasi
• 11 jam lalu
0
thumb
Daihatsu Gelar Vocational Expo 2026, Perkuat Kompetensi Siswa SMK
• 19 jam lalu
0
thumb
Panitia Kirab Budaya Menganti Jelaskan Penyebab Sampah Berserakan hingga Siang Hari
• 18 jam lalu
0
thumb
4 Pemain Timnas Indonesia Terancam Dicoret John Herdman untuk FIFA Matchday November 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Bawa Pesan Penting untuk Buruh, Kepala KSP Listyo Sigit: Kita Bisa Jadi Negara Industri Maju
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.