Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Vietnam diperkirakan mencapai USD 5.259 pada 2026, melampaui Indonesia seiring dengan dorongan investasi asing dan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi.
Vietnam diperkirakan akan melampaui Indonesia dalam PDB nominal per kapita pada tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, investasi asing, dan peningkatan ekspor memperkuat posisi Vietnam sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan PDB nominal per kapita Vietnam akan meningkat 8,9 persen pada 2026 menjadi USD 5.259. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Dengan capaian itu, Vietnam akan berada di atas Indonesia, yang PDB per kapitanya diproyeksikan mencapai USD 5.153. Vietnam pun akan menempati peringkat kelima negara ASEAN berdasarkan indikator tersebut, di bawah Thailand.
Momentum ekonomi Vietnam didukung oleh kemunculannya sebagai alternatif basis manufaktur selain China, terutama dalam industri berteknologi tinggi seperti semikonduktor dan elektronik.
Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen pada 2026. Produk domestik bruto riil negara tersebut tumbuh 9,95 persen pada kuartal III.
Peneliti senior di Institute of Developing Economies, Mai Fujita, menilai sebagian besar momentum pertumbuhan tersebut didorong oleh belanja pemerintah.
Arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) meningkat 12 persen secara tahunan menjadi USD 21,1 miliar selama periode Januari-September. Sejumlah produsen internasional besar, termasuk raksasa elektronik asal Taiwan, Foxconn, dan Samsung dari Korea Selatan, terus memperluas kegiatan produksi mereka di negara tersebut.
Sementara itu, nilai proyek investasi yang baru terdaftar melonjak 76 persen menjadi USD 50,3 miliar. Hal ini menunjukkan besarnya potensi investasi tambahan dalam beberapa tahun mendatang.
Ekspor Melonjak, Defisit Perdagangan AS MelebarSektor ekspor Vietnam juga mencatatkan pertumbuhan kuat. Nilai pengiriman barang ke luar negeri meningkat 25 persen secara tahunan menjadi USD 434 miliar selama sembilan bulan pertama 2026.
Sejumlah perusahaan Korea Selatan, termasuk Samsung Electronics, telah mendirikan fasilitas manufaktur di Vietnam untuk memproduksi ponsel pintar dan produk elektronik lainnya bagi pasar internasional.
Data perdagangan Amerika Serikat (AS) juga menunjukkan defisit perdagangan barang AS dengan Vietnam mencapai USD 160 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini. Angka tersebut melampaui defisit perdagangan AS dengan China maupun Meksiko.
Sementara itu, Indonesia telah menarik investasi besar di industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Namun, pertumbuhan ekonominya masih berada di kisaran 5 persen per tahun.
Salah satu persoalannya adalah investasi di sektor tersebut belum menghasilkan lapangan kerja yang memadai atau meningkatkan pendapatan rumah tangga secara signifikan. Pelemahan rupiah juga menekan PDB per kapita Indonesia ketika diukur dalam dolar AS.
Vietnam kini menargetkan peningkatan PDB per kapita menjadi USD 8.500 pada 2030, setara dengan tingkat yang saat ini dimiliki Thailand.
Namun, Thailand mengalami pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih lambat, dengan pertumbuhan PDB riil hanya sekitar 2 persen per tahun. Tingginya utang rumah tangga menjadi salah satu faktor yang menghambat aktivitas ekonomi negara tersebut.
Meski mencatatkan kinerja kuat, lembaga keuangan internasional masih berhati-hati dalam menanggapi target pertumbuhan Vietnam yang ambisius.
IMF dan Asian Development Bank (ADB) sama-sama memperkirakan ekonomi Vietnam akan tumbuh sekitar 7,5 persen pada 2027, lebih rendah daripada target pertumbuhan 10 persen yang ditetapkan pemerintah.
Fujita menekankan Vietnam perlu lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi berkelanjutan daripada hanya mengandalkan ekspansi jangka pendek.
“Vietnam perlu melakukan upaya yang berfokus pada pertumbuhan jangka panjang, seperti pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, bersamaan dengan investasi infrastruktur yang dapat mendorong pertumbuhan dalam jangka pendek,” sebut Fujita.






Komentar (0)