Membawa Nuansa Priangan ke Panggung Dunia, Pesona Musik Hiperlokal Curi Perhatian Global

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di tengah hiruk-pikuk distrik Shibuya, Tokyo, aroma musik yang mengalun dari sebuah panggung pertunjukan terasa ganjil sekaligus memikat. Bukan dentuman pop Jepang, bukan pula riff gitar Britpop yang jamak terdengar di radio-radio dunia. Dari atas panggung, denting petikan dawai dan gesekan bunyi justru menyuarakan laras pentatonis khas Tatar Sunda—dibalut dengung psikedelik yang pekat dan mengawang.

Kepingan magis itu ditiupkan oleh Basajan, kelompok musik independen asal Kabupaten Bandung. Siapa sangka, nada-nada yang biasa lekat dengan suasana perbukitan Priangan justru melenggang bebas melintasi batas benua: mulai dari semarak festival Wonderfruit di Thailand hingga panggung-panggung alternatif di jantung Negeri Sakura.

Fenomena ini menyajikan anomali sekaligus pemandangan segar di tengah industri musik arus utama yang kerap mendikte artis untuk terdengar "internasional". Untuk mencuri perhatian telinga global, musisi lokal ternyata tak perlu memaksakan diri menjelma menjadi rocker Amerika, artis indie London, atau sekadar meniru selera anak muda Jakarta.

Paradoks inilah yang disorot oleh jurnalis musik Shindu Alpito dalam program ShowBiz di Metro TV. Menurut Shindu, Basajan justru menemukan pintu gerbang internasional saat mereka berani menatap ke dalam dan merawat kejujuran akarnya.

"Untuk terdengar global, Basajan tidak perlu terdengar seperti musisi Amerika, Inggris, atau bahkan Jakarta. Mereka justru semakin Sunda dengan musiknya," ucap Shindu, dikutip dari tayangan ShowBiz Metro TV, Minggu, 1 November 2026. Melampaui Sekat Bahasa, Mendengar Sebelum Makna
Eksplorasi berani serupa ditunjukkan oleh kuartet surf rock asal Jatinangor, The Panturas. Lewat album mini berbahasa Sunda bertajuk Galura Tropikalia, mereka mengawinkan liukan selancar pantai California dengan dialek, guyonan, dan cengkok khas Priangan. Eksperimen ini bukan lelucon sesaat, melainkan pernyataan artistik yang matang.
 

Baca Juga :

AMI Awards 2026, Fadli Zon Dorong Musik Indonesia Tembus Pasar Internasional


Tentu muncul pertanyaan: bagaimana mungkin audiens di Bangkok atau Tokyo yang tidak memahami sepatah kata pun kosakata bahasa Sunda bisa ikut terhanyut dan bergoyang?

Jawabannya terletak pada kekuatan bunyi purba yang bekerja melampaui sekat semantik bahasa verbal. Shindu menegaskan, pendengar mancanegara tak perlu kamus untuk menikmati letupan emosi karya seni.

"Pendengar Basajan dan The Panturas di luar negeri boleh saja tidak memahami satu kata pun liriknya. Tetapi bukan berarti mereka tidak menikmati dan mengapresiasi. Kita mendengar bunyi sebelum memahami kebudayaannya," ucapnya.

Musik pada hakikatnya bekerja pada frekuensi rasa. Ketukan kendang yang ritmis atau dengung mistis dawai tradisional mampu menyampaikan kesedihan, kegembiraan, dan keintiman tanpa harus diterjemahkan baris demi baris. Kejujuran sebagai Paspor Universal
Selama puluhan tahun, industri kreatif Tanah Air kerap terperangkap dalam dogma bahwa agar dapat diterima pasar global, warna lokal harus "dinetralkan"—dihaluskan dan diseragamkan agar terdengar generik demi label universalitas.

Namun, keberhasilan musik hiperlokal justru menampar anggapan klise tersebut. Kesejatian seni membuktikan sebaliknya: hal yang paling universal kerap lahir dari sesuatu yang paling partikular, intim, dan bersahaja.

Panggung dunia hari ini tak lagi mencari peniru kesekian dari tren Barat. Mereka justru mendamba keunikan autentik yang tak bisa direplikasi oleh peradaban lain.

Kiprah Basajan dan The Panturas menjadi pengingat berharga bagi generasi musisi muda Indonesia. Berdiri gagah di panggung global bukan berarti harus mengikis identitas diri. Tiket terbaik untuk menembus dunia sesungguhnya telah tersimpan rapi di halaman belakang rumah sendiri: sebuah kejujuran bunyi yang merawat akar budaya Nusantara.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cuaca Esktrem Picu Banjir dan Longsor di Jatim Selatan Tewaskan 2 Warga
• 7 jam lalu
0
thumb
1.816 Polisi dan Anggota BNN Gerebek Kampung Bahari, Naik KRL
• 4 jam lalu
0
thumb
David Pajung Ingatkan Koalisi, Burhanuddin: Masalah Gibran Tak Otomatis Seret Posisi Prabowo
• 20 jam lalu
0
thumb
Video: Siasati Suku Bunga Tinggi, Leasing Selektif Salurkan Kredit
• 17 jam lalu
0
thumb
Gerebek Besar-besaran Kampung Bahari Jakut: 27 Orang Diamankan, Mesin Cetak Ekstasi Ditemukan
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.