Iran Tutup Pintu Rapat-Rapat, Tak Ada Niat Sedikit Pun untuk Berunding dengan AS

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran menegaskan belum memiliki rencana untuk menggelar perundingan dengan Amerika Serikat (AS), meskipun komunikasi antara kedua negara dilaporkan kembali berlangsung melalui jalur perantara.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran belum melihat kebutuhan untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Washington. Ia juga membantah laporan yang menyebut kedua negara tengah mempersiapkan negosiasi.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Araghchi mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah menelaah pesan yang dikirim Wakil Presiden AS J.D. Vance kepada pejabat senior keamanan Iran, Mohsen Rezaei. Namun, isi pesan tersebut masih dalam pembahasan pihak berwenang terkait.

Araghchi menegaskan persyaratan Iran untuk membuka jalan menuju kesepakatan sudah disampaikan secara jelas. Komunikasi dengan Qatar dan Pakistan sebagai mediator tetap berlangsung, sementara keputusan mengenai negosiasi langsung atau tidak langsung menunggu respons AS terhadap tuntutan Teheran.

Meski demikian, ia menganggap pesan Vance dan upaya Washington membuka dialog sebagai langkah positif. Araghchi juga menyebut Qatar sempat mengusulkan agar tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz dipangkas dari tujuh menjadi lima hari.

"Saat ini, sedang dibahas usulan untuk mempersingkat periode tersebut menjadi dua hari," katanya.

Iran Siapkan Berbagai Skenario Perang

Di tengah proses mediasi, Araghchi menegaskan Iran tidak mengesampingkan kemungkinan kembali berhadapan dengan AS dalam konflik bersenjata. Ia menyatakan negaranya siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Seperti dikutip dari Antara, pembukaan kembali Selat Hormuz juga bergantung pada penerimaan rute transit baru yang ditetapkan Iran dan Oman serta penutupan jalur alternatif lainnya.

Selain persoalan pelayaran, Teheran menuntut Washington memulihkan pengecualian sanksi terkait penjualan minyak Iran dan mencairkan seluruh aset negaranya yang dibekukan, termasuk dana yang tersimpan di Qatar.

Sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang melaporkan bahwa Vance mengirim pesan kepada Rezaei atas arahan Presiden Donald Trump untuk menghidupkan kembali perundingan damai. Namun, Trump membantah laporan tersebut dan menyebut peran Vance hanya berkaitan dengan upaya membantu penyediaan pasokan medis bagi Iran.

Upaya Qatar dan Pakistan untuk mempertemukan kembali Washington dan Teheran berlangsung di tengah laporan mengenai kemajuan komunikasi tidak langsung di Doha. Negosiasi yang diupayakan mencakup persoalan program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Pejabat Iran Usulkan Senjata Nuklir sebagai Pencegah Serangan AS-Israel

Ketegangan kedua negara meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan menyerang aset-aset Israel dan AS di kawasan tersebut sebelum gencatan senjata tercapai pada April.

Pada Juni, Washington dan Teheran menandatangani kerangka kesepakatan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, implementasinya masih terhambat perbedaan pandangan mengenai pengaturan keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Komisi I DPR Dukung Kemlu Usut WNI Jadi Tentara Rusia Tewas Perang di Ukraina
• 17 jam lalu
0
thumb
Ayah David Ozora Ungkap Mario Dandi Sering Keluar Penjara Sukamiskin Urus Bisnis: Bukti Sudah Dipegang
• 7 jam lalu
0
thumb
BNNP-Polda Sumut Musnahkan 5 Hektare Ladang Ganja di Mandailing Natal: Dicabut, lalu Dibakar
• 10 jam lalu
0
thumb
Garudayaksa petik kemenangan kedua setelah kalahkan PSS 3-1
• 2 jam lalu
0
thumb
Tiket Kereta Desember Mulai Bisa Dipesan, KAI Terapkan GAPEKA 2026
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.