Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pasar keuangan pada pekan depan akan diwarnai oleh rilis data ekonomi utama di global maupun peristiwa penting. Selain rilis data ekonomi global, pada pekan menjadi cukup penting karena adanya pemilu sela Amerika Serikat (AS).
Perkembangan tersebut berpotensi mempengaruhi rupiah, pergerakan pasar saham RI, imbal hasil obligasi, serta arus modal asing. Berikut ini sentimen pasar pekan depan
1. Inflasi Indonesia Periode Oktober 2026
Pada pekan depan, terutama Senin (2/11/2026) besok, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Indonesia pada periode Oktober 2026, yang diperkirakan melandai. Namun, potensi pemicu inflasi berkaitan dengan kenaikan harga minyak goreng hingga beras.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 11 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,22% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.
Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,25%.
Sebagai catatan, BPS mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (yoy) dan 0,30% secara bulanan (mtm). Inflasi inti mencapai 2,84%.
Jika merujuk pada data lima tahun terakhir, rata-rata inflasi (mtm) pada Oktober mencapai 0,11%.
2. Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III-2026
Tak hanya inflasi, BPS juga akan merilis data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) untuk periode kuartal III-2026. Adapun BPS akan merilis data ekonomi Tanah Air periode kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026).
Konsensus pasar memperkirakan PDB Indonesia pada kuartal III-2026 cenderung turun menjadi 5% (yoy), dari sebelumnya pada kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29%.
Secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), PDB Tanah Air juga diprediksi turun menjadi 0,5% di kuartal III-2026, dari sebelumnya pada kuartal II-2026 yang tumbuh 3,76%.
Jelang rilis data PDB RI kuartal III-2026, Pemerintah mulai memperkuat koordinasi untuk menyempurnakan pencatatan statistik industri menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada awal November.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan, penguatan data industri diperlukan untuk mengidentifikasi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
"Kami juga mengidentifikasi beberapa sumber-sumber pertumbuhan industri yang bisa kita galakkan ke depan, baik di sektor mamin (makanan dan minuman), kemudian agro, kemudian baik dia ada di kawasan industri, ada di kawasan bahkan di kawasan berikat," ujar Dradjad dalam keterangan pers usai pertemuan.
Menurut Dradjad, penyelarasan data menjadi bagian penting dalam membangun satu data nasional yang dapat digunakan untuk memetakan perkembangan ekonomi, menemukan potensi pertumbuhan, hingga menentukan intervensi kebijakan yang diperlukan.
Koordinasi tersebut juga diarahkan untuk menggali peluang pertumbuhan dari sektor industri dan sektor-sektor pendukungnya. Pemerintah turut menyoroti peran daerah dalam mendorong pertumbuhan melalui investasi dan pengembangan kegiatan ekonomi sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
3. Neraca Perdagangan-Cadangan Devisa Indonesia
BPS juga akan merilis data neraca perdagangan, termasuk data ekspor-impor pada periode September 2026.
Konsensus pasar memperkirakan ekspor Indonesia meningkat 9,39% (yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu yang tumbuh 6,72%.
Penguatan ekspor terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas, khususnya batubara, di tengah permintaan yang lebih kuat dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, India, dan Jepang.
Sedangkan untuk impor diperkirakan tumbuh 23,07% (yoy) pada September 2026, dari sebelumnya pada Agustus 2026 yang tumbuh 19,09%.
Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global yang berpotensi mendongkrak nilai impor.
Selain data ekspor-impor, data cadangan devisa periode Oktober 2026 juga akan dirilis pada pekan depan. Bank Indonesia (BI) berencana merilis data cadangan devisa RI periode Oktober 2026 pada Jumat (6/11/2026).
Konsensus pasar memperkirakan posisi cadangan devisa Indonesia pada Oktober 2026 akan berada di kisaran US$ 145 miliar hingga US$ 147 miliar.
Sebelumnya pada periode September 2026, BI melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS.
Perkembangan posisi cadangan devisa September 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
4. Pengeluaran saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dan Pengosongan Short Selling
Pada awal November 2026, tepatnya Senin (2/11/2026) besok, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan saham-saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Kebijakan ini dipastikan tidak akan memicu penurunan drastis maupun lonjakan pada indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari langkah sebelumnya yang mengecualikan saham-saham HSC dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80.
Dalam implementasinya, bobot saham-saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.
"Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis, ya sama seperti kalau kita mengeluarkan saham tertentu, distribusi dari bobot itu akan diberikan kepada sisa saham-saham lain yang masih ada di dalam konstituen indeks," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (26/10/2026) lalu.
Jeffrey menambahkan, pergerakan IHSG setelah kebijakan tersebut diterapkan akan bergantung pada pergerakan harga saham-saham yang masih menjadi konstituen indeks.
Oleh karena itu, pengeluaran saham HSC dari perhitungan indeks tidak serta-merta membuat IHSG mengalami penurunan atau kenaikan secara drastis.
BEI juga telah melakukan pengujian historis atau back test untuk mengukur dampak pengeluaran saham-saham HSC dari perhitungan IHSG. Hasil pengujian tersebut menunjukkan kebijakan ini tidak akan mengakibatkan lonjakan pada indeks.
Sebaliknya, BEI berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan kredibilitas IHSG agar semakin representatif dalam menggambarkan pergerakan pasar saham Indonesia.
Dengan demikian, IHSG diharapkan dapat menjadi acuan yang lebih baik bagi investor untuk melacak pergerakan pasar saham domestik.
Selain pemberlakuan pengeluaran saham-saham HSC, BEI juga akan mengosongkan daftar saham short selling pada November 2026, di tengah kondisi pasar yang mengalami volatilitas dan tekanan jual tinggi.
Kebijakan tersebut diambil setelah BEI menilai fluktuasi pasar saat ini tidak didukung analisis fundamental yang baik.
BEI menetapkan 5 saham yang dikeluarkan dari daftar efek short sell, antara lain, PT. Astra International Tbk (ASII), PT. Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT. Barito Pacific Tbk (BRPT), PT. Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Selain itu, BEI juga mencatat sebanyak 11 saham dikeluarkan dari daftar efek margin, yaitu PT. Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), PT. Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT. Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT. Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Selanjutnya, ada PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT. Esta Indonesia Tbk (NEST), PT. Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT. Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS), PT. Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE), dan PT. Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).
Mengutip keterbukaan informasi BEI, saham-saham tersebut merupakan daftar efek yang dapat ditransaksikan dan dijaminkan dalam rangka transaksi margin dan short selling untuk pelaksanaan pembiayaan dan/atau transaksi pada November 2026.
Penetapan ini tercantum dalam Pengumuman Nomor Peng-00206/BEI.POP/10-2026 tertanggal 28 Oktober 2026.
Pengumuman tersebut merujuk pada Peraturan Nomor II-H tentang persyaratan dan perdagangan efek dalam transaksi margin dan short selling, serta Peraturan Nomor III-I tentang keanggotaan margin dan/atau short selling.
Bursa juga mengacu pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00135/BEI/09-2026 tanggal 18 September 2026 tentang perubahan ketentuan pembatasan transaksi short selling, serta Pengumuman BEI Nomor Peng-00168/BEI.POP/09-2026 tanggal 14 September 2026 tentang pemberlakuan kembali implementasi pembiayaan transaksi short selling dan transaksi short selling oleh perusahaan efek.
Sebagai informasi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengaktifkan kembali transaksi short selling. Dalam pengumumannya, Direksi BEI menyampaikan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyampaikan arahan kepada Bursa, untuk dapat melakukan implementasi Pembiayaan Transaksi Short Selling secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kesiapan infrastruktur, mitigasi risiko yang memadai, dan efektivitas pengawasan.
"Pemberlakuan kembali implementasi sebagaimana dimaksud pada angka 1 mulai berlaku sejak tanggal 15 September 2026," kata Direksi BEI dalam pengumumannya, dikutip Selasa (15/9/2016).
5. Pemilu Sela Amerika Serikat
Pada pekan depan, pemilihan umum (pemilu) paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat (AS) akan dimulai, di mana pemilu ini kerap menjadi ujian bagi presiden yang sedang menjabat. Ujian serupa akan dihadapi Donald Trump pada 3 November mendatang.
Dalam ajang ini, pemilih tidak menentukan presiden baru, melainkan memilih seluruh anggota House of Representatives atau DPR AS dan sekitar sepertiga anggota Senat.
Pemilu tersebut berlangsung setiap dua tahun, di antara pemilihan presiden yang digelar empat tahun sekali.
Pada 3 November 2026, warga AS kembali memberikan suara untuk menentukan komposisi Kongres. Hasilnya akan menentukan seberapa besar dukungan politik yang dimiliki Trump untuk menjalankan agenda pemerintahannya selama dua tahun berikutnya.
Catatan historis menunjukkan bahwa partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu paruh waktu.
Dalam 10 masa kepresidenan terakhir, partai presiden kehilangan kursi sebanyak delapan kali. Hanya dua pemilu yang menjadi pengecualian, yakni pada 1998 dan 2002.
Menjelang pemilu 3 November 2026, Trump menghadapi tantangan dari sisi popularitas.
Survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerjanya berada di 32%, naik satu poin persentase dari survei sebelumnya, tetapi masih dekat dengan level terendah selama masa jabatan keduanya.
Dalam survei yang sama, kandidat Demokrat unggul atas Republik dalam pertanyaan pilihan partai untuk pemilu Kongres.
Di antara pemilih terdaftar, Demokrat memperoleh dukungan 47%, sedangkan Republik 36%. Pada kelompok pemilih yang kemungkinan besar akan memberikan suara, keunggulan Demokrat tercatat 53% berbanding 44%.
Meski demikian, hasil survei tersebut bukan hasil pemilu dan belum tentu mencerminkan hasil di setiap daerah pemilihan.
Persaingan untuk menguasai DPR dan Senat juga memiliki dinamika berbeda karena komposisi kursi yang diperebutkan tidak sama.
Bagi Trump, pemilu paruh waktu menjadi ujian untuk mempertahankan kendali Partai Republik atas Kongres.
Jika Demokrat berhasil mengambil alih salah satu kamar, mereka dapat memperkuat fungsi pengawasan terhadap pemerintahan, termasuk melalui penyelidikan dan pembahasan anggaran.
Dengan demikian, besarnya dana yang mengalir ke pemilu 2026 tidak hanya berkaitan dengan persaingan kandidat. Hasil pemilu juga akan menentukan keseimbangan kekuasaan antara Gedung Putih dan Kongres selama sisa masa jabatan Trump.
6. Data PMI Manufaktur Global
Data manufaktur yang tergambarkan pada Purchasing Manager's Index (PMI) akan dirilis pada pekan depan untuk periode Oktober 2026. Adapun negara yang akan merilis PMI manufaktur pekan depan yakni Indonesia, China, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa.
Untuk Indonesia, PMI manufaktur pada periode Oktober 2026 diprediksi turun menjadi 51,9, dari sebelumnya pada September 2026 mencapai 52,4. Meski turun, PMI manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansif, karena masih di atas 50 sebagai angka acuan.
Sedangkan di China, PMI manufaktur yang tergambarkan pada RatingDog Manufacturing PMI diprediksi juga menurun menjadi 51,6 pada Oktober 2026, dari sebelumnya pada September 2026 di level 52,1.
Para ahli ekonomi China memperkirakan penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan pesanan terkait luar negeri setelah lonjakan sementara pada September lalu, membuat permintaan konsumen yang lebih lemah setelah liburan Hari Nasional selama seminggu, dan perlambatan musiman di sektor bahan baku dasar.
Mereka menggambarkan pergeseran tersebut sebagai penyesuaian sementara dan spesifik bertahap.
Dari AS, laporan PMI manufaktur ISM akan dirilis pada pagi hari tanggal 2 November, diikuti oleh laporan jasa pada tanggal 4 November.
Kedua laporan ini penting, karena memberikan gambaran kepada pasar tentang aktivitas bisnis AS secara keseluruhan. Namun, angka yang mungkin paling menonjol adalah indeks harga yang dibayar ISM dalam kedua laporan tersebut.
Ini menjadi indikator utama tekanan inflasi di AS, dan keduanya telah meningkat dan mendekati titik tertinggi baru-baru ini, menunjukkan bahwa inflasi tetap tinggi.
Angka-angka tersebut juga dapat memberikan indikasi awal tentang apa yang diharapkan dari laporan indeks harga konsumen bulan Oktober.
Selain itu, kedua laporan ISM akan mencakup indeks ketenagakerjaan, yang dapat menawarkan wawasan berharga tentang kesehatan pasar tenaga kerja menjelang laporan pekerjaan AS pada tanggal 6 November.
7. Data Ketenagakerjaan AS
Data ketenagakerjaan di AS periode Oktober 2026 juga akan dirilis pekan depan. Angka Oktober diperkirakan akan pulih, dengan penambahan sekitar 60.000 lapangan kerja dan tingkat pengangguran tetap tidak berubah.
Prediksi tersebut terjadi setelah pertumbuhan lapangan kerja lemah pada September lalu.
Risikonya adalah angka-angka tersebut lebih tinggi dari yang diperkirakan, yang mungkin terjadi mengingat tren sebelumnya. Hal ini dapat mengarah pada suku bunga yang lebih tinggi dan dolar AS yang lebih kuat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(chd)





Komentar (0)