Gaya Hidup Berubah, Industri Modest Fashion Mulai Utamakan Kepraktisan

republika.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG — Perubahan gaya hidup masyarakat ikut mengubah cara konsumen memilih produk fesyen. Di tengah aktivitas yang semakin dinamis, konsumen tidak hanya mempertimbangkan tampilan, tetapi juga mulai memperhatikan aspek kepraktisan, kenyamanan, dan kesesuaian produk dengan berbagai aktivitas.

Perubahan perilaku tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri modest fashion di Indonesia. Pelaku usaha dituntut tidak sekadar mengikuti pergantian tren warna dan model, tetapi juga membaca kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Kementerian Perindustrian pada Oktober 2026 menekankan bahwa perubahan preferensi konsumen, perkembangan teknologi, dan persaingan pasar membuat industri kecil dan menengah (IKM) fesyen perlu semakin adaptif. Pengembangan produk juga didorong agar lebih berorientasi pada kebutuhan pasar dan mampu menciptakan nilai tambah.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi industri modest fashion yang memiliki potensi ekonomi besar. Bank Indonesia mencatat Indonesia menempati peringkat pertama sektor modest fashion dalam State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026. Capaian tersebut menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam ekosistem modest fashion global sekaligus membuka peluang pengembangan industri domestik.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Kementerian Perindustrian sebelumnya juga mencatat konsumsi modest fashion dunia mencapai 327 miliar dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 433 miliar dolar AS pada 2028. Di Indonesia, industri kecil pakaian jadi pada 2024 mencapai sekitar 594 ribu unit usaha dengan tenaga kerja sekitar 1,2 juta orang.

Besarnya potensi tersebut membuat persaingan industri tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan menciptakan produk baru. Kemampuan memahami perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan daya saing.

Salah satu perubahan yang mulai diperhatikan pelaku usaha adalah kebutuhan terhadap produk fesyen yang dapat mengikuti mobilitas konsumen. Dalam aktivitas sehari-hari, perempuan tidak selalu memiliki waktu untuk melakukan penataan busana yang panjang. Kebutuhan tersebut mendorong munculnya pilihan produk yang lebih sederhana dalam penggunaan tanpa menghilangkan aspek penampilan.

Fenomena tersebut turut diamati oleh Hijaberies, pelaku usaha modest fashion asal Bandung. Pemilik Hijaberies, Geneva Hereka, melihat aktivitas perempuan yang semakin dinamis membuat kebutuhan terhadap produk hijab ikut berubah.

“Perempuan hari ini punya aktivitas yang sangat dinamis. Mereka butuh hijab yang bukan hanya cantik dilihat, tapi juga bisa mengikuti gerak mereka dari pagi sampai malam. Di Hijaberies, kami ingin hijab menjadi sesuatu yang memudahkan, bukan membatasi,” ujar Geneva.

Menurut Hijaberies, perubahan tersebut tidak berarti konsumen harus meninggalkan pilihan fesyen yang beragam. Sebaliknya, konsumen dapat memilih model, bahan, ukuran, dan warna berdasarkan aktivitas serta tingkat kenyamanan masing-masing.

Salah satu contoh kebutuhan tersebut terlihat pada penggunaan hijab untuk aktivitas dengan mobilitas tinggi. Hijab instan menawarkan proses penggunaan yang lebih sederhana, sementara pashmina tetap memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk mengatur bentuk dan jatuhnya kain.

Kebutuhan terhadap fleksibilitas juga terlihat dari pemilihan warna. Warna seperti ivory, oatmeal, beige, taupe, cokelat, dan abu-abu dinilai relatif mudah dipadukan dengan pakaian untuk kegiatan kerja maupun santai.

Untuk aktivitas yang membutuhkan banyak gerak, kebutuhan konsumen bahkan menjadi lebih spesifik. Hijab dengan bahan yang terasa ringan dan bentuk yang tidak menekan kepala menjadi salah satu pertimbangan, termasuk ketika digunakan untuk berolahraga.

Perubahan ini menunjukkan bahwa tren modest fashion semakin berkaitan dengan perubahan gaya hidup, bukan hanya pergantian mode. Konsumen membutuhkan produk yang dapat beradaptasi dengan pekerjaan, mobilitas, aktivitas sosial, hingga olahraga.

Bagi industri, perubahan tersebut menciptakan ruang inovasi sekaligus tantangan. Produk yang hanya mengandalkan tren berumur pendek berpotensi menghadapi persaingan yang semakin ketat. Sebaliknya, produk yang mampu menjawab kebutuhan nyata konsumen berpeluang memiliki masa penggunaan lebih panjang.

Hal tersebut sejalan dengan arah pengembangan IKM fesyen yang didorong pemerintah. Kementerian Perindustrian menilai pelaku IKM perlu memiliki strategi bisnis yang tepat, memahami karakter konsumen, serta membangun keunikan produk agar mampu bertahan di tengah persaingan pasar.

Bagi Indonesia, perubahan tersebut juga memiliki arti lebih luas karena modest fashion merupakan salah satu sektor yang menjadi kekuatan dalam ekosistem ekonomi syariah nasional. Pemerintah terus mendorong pelaku industri untuk meningkatkan daya saing, memperluas pasar, serta membawa produk modest fashion Indonesia ke pasar global.

Dengan demikian, perkembangan hijab praktis bukan sekadar persoalan model baru atau pilihan warna. Di baliknya terdapat perubahan pola konsumsi yang memperlihatkan bagaimana industri fesyen harus semakin dekat dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari konsumennya.

Bagi pelaku usaha seperti Hijaberies, kemampuan membaca perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk tetap relevan di tengah industri modest fashion yang semakin kompetitif.

Perkembangan industri ke depan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mampu menciptakan tren paling baru, tetapi juga oleh siapa yang mampu memahami mengapa konsumen membeli, bagaimana produk digunakan, dan kebutuhan apa yang belum terjawab oleh pasar.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menhut Tinjau Sekat Bakar 3,2 Kilometer untuk Lindungi Habitat Orangutan di Kalteng
• 11 jam lalu
0
thumb
Profil Kapolda Jateng Irjen Roy Hardi Siahaan, Pemburu Buronan Internasional Disorot Kasus Penggeledahan Ponpes
• 28 menit lalu
0
thumb
Carney dan Trump bahas kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS
• 2 jam lalu
0
thumb
Reaksi Takjub Media Spanyol usai Emil Audero Masuk Nominasi Penghargaan Penyelamatan Terbaik LaLiga Oktober 2026
• 13 jam lalu
0
thumb
Tindak Manipulasi Perdagangan Saham, OJK Utamakan Hukum Administratif daripada Pidana
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.