Kronologi Pasutri Tukar Jenazah Bayi dengan Bantal di Bontang, Ngaku Berbohong Gegara Takut Dianggap Tak Bisa Hamil

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Baru-baru ini viral di media sosial jasad bayi ditukar bantal di Bontang. Kasus itu mencuat usai video pemakaman bayi tersebut viral di media sosial.

Belakangan terkuak bahwa pemakaman bayi itu adalah rekayasa pasangan suami istri (pasutri) berinisial AR dan DN. Keduanya berbohong kepada keluarga telah melakukan persalinan hingga bayi meninggal dunia.

Kabar itu dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Bontang AKP Putu Ari Sanjaya melalui Kanit Pidana Umum (Pidum), Ipda Putra Ginting. Ipda Putea memastikan kabar viral mengenai dugaan jasad bayi yang ditukar dengan bantal di RS Yabis Bontang murni rekayasa.

"Iya, itu direkayasa dan diakui yang bersangkutan.Yang bersangkutan mengaku hamil, padahal faktanya tidak ada kehamilan," ucap Ipda Putra dilansir TribunSumsel.com.

Lantas bagaimana kronologi pasutri tukar jenazah bayi dengan bantal di Bontang? Simak ulasannya.

Kronologi Pasutri Tukar Jenazah Bayi dengan Bantal di Bontang

Seperti diketahui kasus dugaan jasad bayi yang ditukar dengan bantal di RS Yabis Bontang belakangan ramai diperbincangkan. Berita itu viral usai diunggah oleh beberapa akun media sosial salah satunya akun @rumpi_gosip.

Dalam unggahan itu, tampak pemilik akun mengunggah video sebuah pemakaman bayi. Namun, warga tampak terkejut lantaran jenazah bayi itu ternyata merupakan sebuah bantal warna pink.

"Apa maksudnya ini, kok dikasih bantal," ujar seorang warga yang tampak kebingungan memegang bantal.

"Tadi kan sudah digendong sama istrinya, nggak ada bekasnya (jenazah bayi) sama sekali nggak ada," ujar warga yang lain.

 

Beberapa warga pun meminta agar salah satu pulang ke rumah duka dan menanyakan kepada pasutri tersebut. Setelah video itu viral di berbagai platform media sosial, pihak kepolisian akhirnya buka suara.

Melansir Kompas.com, Kasat Reskrim Polres Bontang AKP Putu Ari Sanjaya melalui Kanit Pidana Umum (Pidum), Ipda Putra Ginting, menjelaskan bahwa kepolisian bergerak cepat melakukan penyelidikan setelah narasi tersebut geger di media sosial Facebook. Penyidik mendatangi kediaman AR untuk meminta klarifikasi mengenai klaim kehamilan serta kabar mengenai bayi yang disebut meninggal dunia usai persalinan.

Setelah ditelusuri, pasutri AR dan DN mengaku telah merekayasa kehamilan, persalinan hingga kematian bayi. Polisi menyebut pasutri itu tidak mengalami kehamilan apalagi persalinan.

"Iya, itu direkayasa dan diakui yang bersangkutan. Yang bersangkutan mengaku hamil, padahal faktanya tidak ada kehamilan. Jadi, jasad yang dimakamkan kemarin itu memang buatan saja,” tegas Putra Ginting, Kamis (29/10/2026).

Motif Pasutri Rekayasa Persalinan

Berdasarkan penyelidikan, AR diketahui tidak pernah terdaftar sebagai pasien persalinan di RS Yabis Bontang. AR hanya pernah berobat pada Senin (26/10/2026) terkait masalah keterlambatan datang bulan. Perihal motif pasutri memalsukan persalinan itu karena takut dianggap tak bisa hamil.

"AR bersama suaminya, DN, nekat membuat cerita penukaran bayi lantaran AR merasa takut dianggap tidak bisa memberikan keturunan oleh pihak keluarga maupun keluarga mertuanya," kata Putra Ginting.

Setelah fakta itu terkuak, Polres Bontang memfasilitasi pertemuan mediasi yang menghadirkan pasutri AR dan DN, keluarga kedua belah pihak, serta perwakilan manajemen RS Yabis Bontang. Melalui video klarifikasi bersama, AR dan DN menyampaikan penyesalan mendalam atas kegaduhan yang telah merugikan nama baik fasilitas kesehatan dan meresahkan masyarakat Kota Bontang.

"Melalui video ini kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan dan masyarakat Kota Bontang atas kegaduhan ini. Ide itu merupakan rekayasa saya sendiri," aku AR dalam permohonan maafnya.

Demikianlah kronologi pasutri tukar jenazah bayi dengan bantal di Bontang. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jereh Luncurkan Generator Gas Saturn, Klaim Biaya Listrik Lebih Hemat hingga 70 Persen
• 1 jam lalu
0
thumb
Eks Gubernur Bank Sentral Ditahan Kejaksaan, Dugaan Korupsi Rp14,8 T
• 13 jam lalu
0
thumb
Saham Alphabet Anjlok Lebih dari 12%, Kekhawatiran Gelembung AI Semakin Meningkat
• 9 jam lalu
0
thumb
Nasabah Mau Uang Aman di Bank? Jangan Lakukan Ini
• 3 jam lalu
0
thumb
Duel Sengit Veda Ega vs Hakim Danish Warnai Moto3 Malaysia Hari Ini
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.