Bukan hanya MSCI, OJK Ungkap 3 Faktor Penyebab IHSG Anjlok 41,5 Persen

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 tidak hanya disebabkan oleh isu potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Agus Firmansyah, menjelaskan IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high pada 20 Januari 2026, dengan posisi penutupan di level 9.135.

Namun, tekanan mulai terjadi setelah MSCI mengumumkan perkembangan terkait prospek evaluasi status pasar saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Dalam pengumuman itu, Indonesia menghadapi risiko penurunan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

"Pada tanggal 27 Januari MSCI mengumumkan sesuatu terkait prospek review status pasar saham Indonesia yang kemungkinan akan di-downgrade dari emerging market menuju ke frontier, sehingga mulailah terjadi tekanan pada pasar saham kita di IHSG," ujar Agus dalam workshop pasar modal Indonesia di Lombok, NTB, Sabtu (31/10).

Agus mencatat, dalam periode 27 Januari hingga 6 Februari 2026, IHSG terkoreksi 11,64 persen. Pada periode yang sama, pasar saham Indonesia juga mengalami aksi jual bersih investor asing atau net sell sekitar Rp 13,5 triliun.

Tekanan berlanjut hingga akhir Oktober. Berdasarkan data OJK per 30 Oktober 2026, IHSG tercatat turun sekitar 41,5 persen secara year to date (ytd) dan melemah 16,7 persen secara month to date (mtd). Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10), IHSG berada di level 5.057,05.

Meski demikian, Agus menegaskan isu MSCI bukan satu-satunya faktor yang menekan pasar saham domestik. Menurutnya, kondisi pasar keuangan global sepanjang tahun ini juga turut memberikan tekanan terhadap IHSG.

Salah satunya berasal dari kebijakan suku bunga bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga pada level relatif tinggi atau higher for longer.

Agus menyebut, pada September 2026, The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga kebijakan dari kisaran 3,5-3,75 persen menjadi 3,75-4 persen. Kondisi tersebut turut mempengaruhi pasar saham, nilai tukar rupiah, hingga perekonomian Indonesia.

"Central Bank dunia, The Fed, mereka mempertahankan suku bunga di level yang cukup tinggi atau istilahnya higher for longer. Bahkan di September kemarin, The Fed mengumumkan kenaikan policy rate-nya mereka, sebelumnya di level 3,5-3,75 terus naik jadi 3,75 sampai dengan 4 persen," jelasnya.

Selain kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik antara Iran, AS, dan negara-negara sekutunya juga menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap pasar keuangan.

Agus mengatakan, dinamika geopolitik yang meningkat pada sejumlah periode, termasuk Februari dan 7 April 2026, turut berimbas pada sentimen investor dan menekan pergerakan IHSG.

"Jadi MSCI bukan merupakan satu-satunya faktor yang menekan, memberikan tekanan kepada IHSG kita," lanjut Agus.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Thailand tutup perbatasan akibat peningkatan serangan di Myanmar
• 1 jam lalu
0
thumb
BEI: Hanya Indonesia-India buka data pemegang saham di atas 1 persen
• 14 jam lalu
0
thumb
Kejagung Segel Kantor IPPS Usai Penggeledahan Terkait Korupsi PT TPL
• 21 jam lalu
0
thumb
Perkuat Silaturahmi dengan Tokoh Agama, Wakapolda Jateng Buka Ruang Dialog Bersama Ulama
• 20 jam lalu
0
thumb
Kalla Dampingi UMKM Perkuat Legalitas dan Akses Pasar
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.