JAKARTA, KOMPAS – Masyarakat Indonesia senang mengonsumsi manis hingga sudah terjerat candu gula. Namun, kini tak sedikit orang telah sadar kesehatan dan mencari alternatif pengganti gula. Sayangnya, tak semua pemanis alternatif benar-benar aman untuk dikonsumsi.
Pemanis alternatif seperti stevia tak terlepas dari bahaya kandungan yang tidak selalu baik bagi tubuh. Baru- baru ini, beredar kasus stevia yang mengandung pemanis buatan sukralosa dan neotam 40 kali lebih besar dari aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dugaan ini mencuat setelah akun media sosial @dokterdetektifhero mengunggah video berisi hasil pengujian laboratorium dari salah satu merek stevia pada Rabu (28/10/2026). Dari kasus ini, masyarakat Indonesia yang tadinya mengganti gula dengan stevia kini lebih berhati-hati dan lebih sadar akan pentingnya literasi label produk.
Stevia merupakan pemanis alami tanpa kalori yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana. Tanaman ini menjadi alternatif alami untuk pemanis buatan dan telah menjadi pilihan bagi konsumen yang sadar kesehatan. Konsumen stevia kebanyakan adalah penderita diabetes maupun orang yang sadar kesehatan dan ingin mengurangi konsumsi gula.
Di Indonesia, pertumbuhan pasar stevia telah meningkat seiring kenaikan tren konsumsi stevia. Menurut laporan perusahaan riset pasar Expert Market Research pada Indonesia Stevia Market Report and Forecast 2026-2035, pasar stevia diperkirakan akan mengalami peningkatan pada periode 2026-2035 sebesar 8,40 persen.
Pengaruh peningkatan tren konsumsi pemanis non gula itu disebabkan oleh meningkatnya akan kesadaran kesehatan, perluasan sektor makanan dan minuman, hingga meningkatnya penggunaan stevia pada produk perawatan mulut.
Lebih lanjut, tren peningkatan stevia di Indonesia disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran kesehatan akibat konsumsi gula berlebih. Hal ini terlihat pada meningkatnya angka diabetes dan obesitas di Indonesia. Banyak masyarakat yang beralih mencari produk pengganti gula.
Hal ini pula yang menjadi alasan Rubiati (56) mengganti gula dengan stevia sejak sekitar satu tahun yang lalu. Meski kadar gula darahnya tergolong normal, ia sengaja mengurangi konsumsi gula untuk menjaga kesehatan.
Awalnya Rubi mengetahui informasi mengenai pemanis pengganti gula dari saudara-saudaranya. Ia kemudian mencari informasi mengenai produk tersebut melalui laman media sosial.
Selain mengganti gula dengan stevia, ia juga menghindari konsumsi makanan manis dari makanan seperti buah yang terlalu manis dan kue yang mengandung banyak gula tambahan.
Setelah mengetahui isu yang beredar mengenai merk stevia yang mengandung pemanis buatan sukralosa dan neotam, Rubi tak terlalu khawatir karena merk stevia yang dikonsumsinya berbeda.
Sebagai seorang ibu, meski Rubi memiliki kekhawatiran akan kandungan produk makanan maupun minuman di rumahnya yang tak sesuai dengan label produk, tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengonsumsi makanan atau minuman kemasan.
“Ada kekhawatiran tapi tidak terlalu. Saya tetap waspada saja, jika mendengar ada yang berbahaya, maka saya hindari,” ujarnya saat dihubungi pada Sabtu (31/10/2026).
Ke depannya, Rubi akan tetap mengonsumsi stevia sebagai pemanis pengganti gula. Selain itu ia juga memikirkan alternatif menggunakan daun stevia segar untuk memberikan rasa manis pada makanan yang diolahnya.
Berbeda dengan Rubiati, Ritha (57) lebih memilih untuk tidak mengonsumsi gula dan pemanis nongula sama sekali. Ia tidak lagi mengonsumsi gula dalam keseharian, juga mengurangi makanan manis.
Ritha lebih sadar akan kesehatannya dan menjaga pola konsumsi semenjak usianya menginjak 50 tahun ke atas. “Semenjak usia 50 ke atas saya sadar dengan bahaya diabetes. Untungnya saya tak terlalu doyan manis. Selain itu saya concern dengan konsumsi karena saya breast cancer survivor,” ujarnya saat dihubungi pada Sabtu (31/10/2026).
Asisten ahli Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Wahyu Kurnia Yusrin Putra menyatakan, tingkat kemanisan ekstrak stevia murni bisa 200 hingga 300 kali lipat lebih manis dibandingkan dengan gula pasir atau sukrosa.
Stevia cenderung lebih sehat karena senyawa pemberi rasa manis pada daun stevia (glikosida steviol) tidak menyumbang kalori dan tidak berkontribusi dalam kenaikan gula darah.
Namun, dari segi sifat kimiawi dan memasak atau baking, stevia tidak memberikan efek karamelisasi, tekstur, atau kelembapan yang biasanya diberikan oleh gula tebu.
“Stevia cenderung lebih sehat karena senyawa pemberi rasa manis pada daun stevia (glikosida steviol) tidak menyumbang kalori dan tidak berkontribusi dalam kenaikan gula darah. Kandungan utama yang dimanfaatkan adalah glikosida steviolnya, yang memberikan rasa manis,” ujarnya pada Sabtu (31/10/2026).
Wahyu menambahkan, proses ekstraksi dan pemurnian stevia tidak memengaruhi kandungan steviolnya. Namun dalam pembuatan produk komersil, kadang stevia ditambahkan senyawa lain seperti dekstrosa atau maltodekstrin yang menghasilkan kalori.
Hal ini jadi perhatian konsumen. Ketika stevia ditambahkan kandungan lain, seharusnya tertera pada label produk. Untuk itu, konsumen dianjurkan untuk membaca label produk dengan cermat. Jika ada bahan tambahan lain seperti maltodekstrin, konsumen yang memilih stevia murni sebaiknya mengganti dengan produk lain.
Wahyu juga menekankan, produk stevia berbentuk cair kemungkinannya lebih kecil untuk ditambahkan bahan tambahan. Namun tetap perlu cermat untuk membaca label. Ia juga menekankan untuk berhati-hati memilih produk. “Jangan mudah tergiur klaim natural atau alami,” ujarnya
Selain itu Wahyu menawarkan alternatif pemanis alami lain yang berbahan dasar gula kelapa. Namun perlu diingat, gula kelapa berkontribusi pada kenaikan kadar gula darah, maka penggunaannya harus ditakar dengan baik.






Komentar (0)