Utang Fasilitas Hilir Freeport Tembus Rp58,71 Triliun, Ini Rinciannya

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Utang yang berkaitan dengan fasilitas pengolahan hilir PT Freeport Indonesia (PTFI) mencapai US$3,237 miliar atau sekitar Rp58,71 triliun hingga 30 September 2026. Nilai tersebut menjadi bagian dari total utang konsolidasi Freeport-McMoRan (FCX), tetapi dikecualikan dalam perhitungan utang bersih atau net debt perusahaan induk.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal III 2026 yang dirilis pada 27 Oktober 2026, utang fasilitas pengolahan hilir PTFI tersebut terdiri atas surat utang senior (senior notes) dan pinjaman sebesar US$250 juta atau sekitar Rp4,53 triliun melalui fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility).

"Utang untuk fasilitas pengolahan hilir PTFI merupakan surat utang senior PTFI dan pinjaman sebesar US$250 juta melalui fasilitas kredit bergulir PTFI," tulis manajemen FCX dalam laporan tersebut.

Surat utang senior merupakan instrumen pembiayaan yang diterbitkan perusahaan kepada investor untuk memperoleh pendanaan. Melalui instrumen ini, perusahaan berkewajiban membayar bunga dan mengembalikan pokok utang sesuai jadwal yang disepakati.

Sementara itu, fasilitas kredit bergulir memungkinkan perusahaan menarik pinjaman hingga batas tertentu sesuai perjanjian dengan pemberi kredit.

Meski demikian, manajemen FCX tidak merinci secara spesifik fasilitas hilir yang terkait dengan pembiayaan utang tersebut. Adapun PTFI memiliki sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di Gresik, Jawa Timur.

Fasilitas tersebut mencakup smelter PTFI di Manyar, PT Smelting, serta fasilitas Precious Metals Refinery (PMR). Smelter PTFI dan PT Smelting mengolah konsentrat tembaga dari tambang Grasberg. Sementara itu, PMR memproses lumpur anoda (anode slime) dari kedua fasilitas peleburan tersebut untuk menghasilkan emas dan logam mulia lainnya.

Dalam laporan yang sama, FCX menyebutkan kapasitas gabungan fasilitas peleburan PTFI dan PT Smelting mencapai sekitar 800.000 ton katoda tembaga per tahun. Adapun PMR memiliki kemampuan untuk memproses seluruh produksi emas PTFI.

Dari sisi keuangan, FCX mencatat total utang konsolidasi sebesar US$9,398 miliar atau sekitar Rp170,48 triliun per 30 September 2026. Pada periode yang sama, perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar US$4,335 miliar atau sekitar Rp78,63 triliun.

Setelah dikurangi kas dan setara kas, FCX mencatat net debt sebesar US$5,063 miliar atau sekitar Rp91,82 triliun. Namun, perusahaan mengecualikan utang fasilitas pengolahan hilir PTFI sebesar US$3,237 miliar dari perhitungan tersebut.

Dengan penyesuaian itu, net debt FCX tercatat sebesar US$1,826 miliar atau sekitar Rp33,12 triliun.

Manajemen menjelaskan bahwa net debt merupakan indikator yang digunakan perusahaan untuk mengukur posisi utang setelah memperhitungkan kas dan setara kas yang dimiliki.

"FCX mendefinisikan utang bersih sebagai total utang konsolidasi dikurangi kas dan setara kas konsolidasi," tulis manajemen.

Baca Juga: Laba Operasi PTFI Anjlok 51,9% pada Kuartal III-2026

Baca Juga: Smelter Freeport Resmi Beroperasi Kembali, Apa Dampaknya Bagi Hilirisasi?

Pengecualian utang fasilitas hilir PTFI tersebut berkaitan dengan kebijakan keuangan FCX yang menetapkan target net debt pada kisaran US$3 miliar hingga US$4 miliar. Target tersebut menjadi salah satu acuan perusahaan dalam mengatur pengembalian modal kepada pemegang saham dan pengelolaan utang.

Di sisi lain, FCX mencatat biaya kesiapan operasional dan start-up fasilitas pengolahan hilir PTFI sebesar US$30 juta atau sekitar Rp544,14 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan US$185 juta atau sekitar Rp3,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Besarnya kewajiban pembiayaan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam pengembangan bisnis hilir PTFI. Selain memastikan fasilitas pengolahan dan pemurnian beroperasi optimal, perusahaan juga perlu mengelola kewajiban pembiayaan yang menyertai investasi hilirisasi tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Target Bensin Etanol Dikebut, Bahan Baku Jadi Tantangan
• 2 jam lalu
0
thumb
Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun, Ini Profil Patrick Stewart Pemeran Professor X
• 22 jam lalu
0
thumb
Kenapa PKS Dukung Hak Angket Suket Gibran? Jubir: Bagian dari Kepedulian Kita Sebagai Koalisi
• 20 jam lalu
0
thumb
Jadwal Padat Bukan Alasan, Bali United Tetap Incar Tiga Angka di Markas Arema
• 6 jam lalu
0
thumb
Bhayangkara FC Tumbang di Markas Java United, Oscar Bruzon Sebut Lini Serang Jadi PR Terbesar
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.