PARIS, KOMPAS.TV - Prancis bersiap menghadapi gelombang demonstrasi akhir pekan ketiga berturut-turut selama tiga minggu terakhir, Sabtu (31/10/2026), menyusul meluasnya aksi unjuk rasa yang dipimpin generasi muda di sejumlah negara Eropa.
Pemerintah Prancis mengerahkan 70.000 personel polisi dan gendarmerie untuk mengantisipasi kerusuhan di tengah meningkatnya kemarahan publik terkait biaya hidup dan pendidikan.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez memperingatkan adanya risiko kerusuhan yang sangat tinggi, terutama setelah malam tiba bertepatan dengan perayaan Halloween.
Di Paris, polisi melarang aksi buruh dan kelompok yellow vest atau rompi kuning melintasi pusat kota.
Demonstrasi diarahkan ke satu rute di jalan lingkar luar ibu kota, dari Porte de Bagnolet hingga Porte de Charenton. Serikat pekerja dan kelompok mahasiswa menggugat pembatasan tersebut ke pengadilan.
Baca Juga: Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Paris setelah Pengadilan Batalkan Larangan Demonstrasi
Seperti dikutip dari The Associated Press, Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya menyatakan demonstrasi akan dijauhkan dari pusat kota untuk melindungi pertokoan.
Polisi juga melarang masyarakat memasuki Place de la Republique dan kawasan Les Halles pada pukul 23.00 hingga pukul 06.00 waktu setempat selama Sabtu dan Minggu. Kedua kawasan tersebut menjadi lokasi kerusuhan dan penjarahan pada 17 Oktober lalu.
Pemerintah juga memberlakukan jam malam mulai pukul 21.00 bagi anak di bawah umur yang tidak didampingi di sekitar Champs-Elysees.
Namun, pengadilan Paris pada Rabu (28/10/2026) membatalkan aturan jam malam sebelumnya karena dinilai sebagai pelanggaran serius dan ilegal terhadap kebebasan bergerak.
Gerakan protes awalnya dipelopori pelajar sekolah menengah yang mempersoalkan kondisi pendidikan. Aksi kemudian berkembang menjadi kemarahan yang lebih luas terhadap tingginya biaya hidup.
Pihak berwenang mencatat sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi pada 17 Oktober. Pada hari itu, perusuh menjarah ratusan toko.
Sementara itu, demonstrasi pada akhir pekan berikutnya diikuti sekitar 410.000 orang dan berlangsung relatif damai, meskipun polisi menangkap lebih dari 1.300 orang.
Baca Juga: Prancis Kerahkan 70.000 Polisi, Museum-Museum Besar di Paris Ditutup
Protes Menyebar ke Jerman hingga Spanyol
Gelombang demonstrasi serupa juga meluas ke berbagai negara Eropa. Di Jerman, inisiatif anak muda bernama Gen Z regelt, yang secara bebas berarti “Gen Z bisa mengatasinya”, menyerukan demonstrasi di sekitar 30 kota.
Gerakan tersebut mengangkat isu pendidikan, kesehatan, perlindungan iklim, dan keterjangkauan biaya hidup, sekaligus menolak kemungkinan diberlakukannya kembali wajib militer.
Penyelenggara menyatakan lebih dari 140.000 orang telah mendaftarkan diri secara daring.
Polisi Berlin memperkirakan sekitar 10.000 orang akan berkumpul di Gerbang Brandenburg.
Sejumlah toko di kawasan Kurfuerstendamm bahkan memasang papan pelindung pada jendela mereka, meskipun pihak berwenang menyatakan belum mengetahui adanya ancaman kekerasan yang spesifik.
Di Barcelona, Spanyol, polisi Catalonia bersiap memberlakukan tingkat kewaspadaan tertinggi setelah sebuah jaringan anonim di TikTok bernama Blocus menyerukan aksi berkumpul kembali.
Baca Juga: Ribuan Orang Kembali Demo di Prancis, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
Kerusuhan pada akhir pekan sebelumnya menyebabkan sekitar 130 orang ditangkap, sebagian besar masih di bawah umur.
Sementara itu, polisi Italia meningkatkan kewaspadaan setelah bentrokan terjadi di Milan, Turin, dan Bologna. Seruan demonstrasi juga beredar melalui TikTok di Belgia, Belanda, Austria, Swiss, dan Portugal.
Meluasnya aksi tersebut menunjukkan protes yang bermula dari persoalan pendidikan di Prancis kini berkembang menjadi gerakan lintas negara yang mengangkat isu biaya hidup dan berbagai tuntutan sosial lainnya.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- prancis
- demo prancis
- demonstrasi
- unjuk rasa prancis
- polisi
- paris






Komentar (0)