Menjaga Nyala Energi Bersih dari ”Perut Bumi” Ulubelu

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Menara rig setinggi 40 meter yang dilengkapi seperangkat alat bor dan pipa berdiri di atas tanah lapang seluas 3,5 hektar pada ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut. Raungan mesin bor berkekuatan sekitar 1.000 tenaga kuda itu menggema di antara gugusan pegunungan di Kawasan Register 32 Bukit Rindingan.

Aktivitas tersebut merupakan pengeboran make-up well melalui sumur ke-64 UBL-T1, yang berada di wilayah kerja energi panas bumi Gunung Way Panas, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Pertamina Geothermal Energi, anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Pengeboran dilakukan untuk mengoptimalkan pasokan uap panas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu.

Aktivitas pengeboran dimulai sejak pertengahan September 2026 dan diperkirakan berlangsung selama 45 hari kerja. Pada akhir September, pengeboran sudah mencapai 212 meter di bawah tanah dengan ukuran lubang dan diameter pipa bervariasi, yakni 12-36 inci.

Kedalaman yang harus ditembus mesin bor tak main-main, nyaris setara dengan puncak Tanggamus, gunung tertinggi di kabupaten itu yang mencapai 2.101 mdpl.

”Pengeboran sumur panas bumi ini akan terus dilakukan hingga kedalaman 2.100 meter di bawah permukaan tanah,” kata Firman Hilmi, Supervisor Pengeboran PT PGE Ulubelu, di sela-sela aktivitasnya memimpin aktivitas pengeboran sumur panas bumi di Ulubelu, Rabu (30/9/2026).

Jika tidak ada kendala, alat bor bisa bekerja menembus kedalaman tanah 100-200 meter per hari. Namun, mata bor terkadang menyentuh lapisan batuan keras yang sulit ditembus.

Baca JugaDari Ulubelu, Panas Bumi Jadi Pilar Penting Transisi ke Energi Bersih

Firman menjelaskan, lubang yang dibuat tidak lurus vertikal ke bawah, tetapi akan berbelok menyerupai huruf ”J” pada kedalaman 680 meter di bawah tanah atau disebut kick-off point (KIK). Selain untuk menjaga lapisan batuan agar tidak runtuh, teknik pengeboran itu juga dilakukan untuk memaksimalkan produksi uap atau air panas.

Sebelum pengeboran, tim melakukan serangkaian survei untuk menentukan titik sumur secara presisi. Salah satunya adalah survei geologi dengan mendeteksi batuan alterasi di permukaan tanah sebagai indikator adanya fluida panas bumi di areal tersebut.

Selanjutnya, dilakukan survei geofisika untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dan jalur keberadaan fluida. Tak hanya itu, survei geokimia juga dilakukan untuk mengetahui temperatur fluida serta mendeteksi kemungkinan adanya kandungan zat kimia berbahaya, seperti hidrogen sulfida yang dapat berisiko terhadap keselamatan petugas di lapangan.

Survei geodesi dan pergerakan lempeng juga dilakukan untuk menganalisis kondisi lapisan batuan dan zona patahan aktif. Seluruh kegiatan itu diawasi ketat oleh tenaga teknik lapangan.

Di lokasi pengeboran, puluhan pekerja tinggal di kontainer bekas yang disulap menjadi kamar, tempat ibadah, serta toilet. ”Kami siaga di lokasi pengeboran ini selama 24 jam untuk melakukan pengawasan,” ucap Firman.

Tingkatkan daya

Menurut Firman, sumur panas bumi itu diperkirakan dapat menyumbang tambahan energi 7-10 megawatt (MW) di unit pembangkit. Setelah tahap pengeboran dan rangkaian uji coba selesai, proses akan dilanjutkan dengan pembangunan pipa-pipa besar berwarna perak untuk menyalurkan steam atau uap panas dari lokasi sumur bor menuju unit pembangkit.

Di Ulubelu, infrastruktur PLTP telah berdiri kokoh dan beroperasi sejak tahun 2012. Pipa-pipa besar yang menyalurkan uap panas bumi dari puluhan sumur yang sudah beroperasi membentang hingga belasan kilometer.

Pipa-pipa raksasa itu dibangun meliuk mengikuti bentang alam, berpadu dengan hamparan hutan tropis dan kebun kopi. Ada juga yang dibangun dekat jalan desa dan rumah-rumah warga.

Dari situ, panas bumi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk menopang kebutuhan listrik untuk ratusan ribu rumah tangga di Lampung. Saat ini, ada empat unit PLTP Ulubelu yang beroperasi dengan total kapasitas sebesar 220 MW. PLTP Ulubelu menopang sekitar 20 persen sistem kelistrikan di Lampung.

Baca JugaPanas Bumi: Energi Terbarukan yang Masih Disalahpahami

General Manager PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu Edy Sudarmadi menjelaskan, PGE terus mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi melalui berbagai strategi. Salah satunya dengan pengeboran sumur baru untuk menjaga pasokan uap panas bumi ke unit PLTP.

Selain itu, pihaknya juga mengembangkan proyek eksplorasi Gunung Tiga serta pengembangan teknologi binary unit dan low-pressure. PGE memproyeksikan penambahan kapasitas daya 95 MW yang berasal dari potensi 55 MW pada Proyek Gunung Tiga, 30 MW dari pengembangan unit binary, serta 10 MW dari pembangkit bertekanan rendah (low-pressure) sebagai bagian dari optimalisasi teknologi.

Menurut Edy, pengembangan panas bumi di Ulubelu selama 5-10 tahun ke depan masih sangat agresif. Rencana pengembangan beberapa unit pembangkit, yaitu unit 5 dan unit 6 di Gunung Tiga, diharapkan bisa masuk ke sistem kelistrikan Lampung pada 2030.

”Energi panas bumi memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan energi terbarukan lain karena tidak bergantung cuaca. Selain itu, produksi energi lebih besar dan tingkat kapasitas lebih tinggi,” katanya.

Baca JugaStrategi Ekspansi Panas Bumi Ulubelu, dari Proyek Gunung Tiga hingga Pengembangan ”Binary Unit”

Dia menambahkan, pengembangan energi bersih di Ulubelu juga terus dioptimalkan dengan pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu pada 2025. Proyek ini akan menjadi fasilitas pertama di dunia yang mengintegrasikan teknologi anion exchange membrane (AEM) electrolyzer dengan energi panas bumi sebagai sumber listrik.

Hidrogen hijau digadang-gadang akan menjadi sumber energi baru di masa depan. Namun, pengembangannya membutuhkan proses uji coba jangka panjang.

Di Indonesia, pemanfaatan panas bumi sudah berlangsung selama satu abad dan terus didorong untuk mencapai target net zero emission pada 2060.

Mengutip data dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, total potensi panas bumi nasional mencapai 23.202,77 megawatt (MW). Sumber panas bumi itu tersebar di 362 titik di 62 wilayah kerja, termasuk di Ulubelu.

Hingga 2026, kapasitas terpasang sekitar 2.776,39 MW atau baru sekitar 11,9 persen. Artinya, masih banyak potensi panas bumi yang bisa dieksplorasi.

Pasokan listrik

Anggit Ris Setyanto selaku Team Leader Operasi PT PLN Indonesia Power, yang bermitra dengan PGE dalam mengoperasikan PLTP Ulubelu, mengatakan, saat ini, total daya yang dihasilkan dari seluruh pembangkit yang ada di Lampung mencapai 887 MW, termasuk dari PLTP Ulubelu. Adapun beban puncak listrik di Lampung mencapai 1.500 MW.

Lampung memang masih bergantung pada pasokan listrik dari jaringan di Sumatera Selatan. Saat terjadi gangguan dalam jaringan pada sistem kelistrikan di wilayah Sumsel, Lampung ikut mengalami blackout atau pemadaman.

Oleh karena itu, peran PLTP Ulubelu sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan. ”PLTP Ulubelu mempunyai peran yang cukup vital dalam sistem kelistrikan Lampung. Saat terjadi gangguan tower, pasokan listrik dari PLTP Ulubelu dapat mempercepat pemulihan karena terpisah dari sistem interkoneksi,” kata Anggit.

PLN terus mendukung upaya pengembangan panas bumi di Ulubelu untuk memperkuat sistem kelistrikan di Lampung serta menurunkan emisi karbon.

Di Ulubelu, kehadiran PLTP juga turut menggerakkan denyut perekonomian sekitar 44.000 warga yang bermukim di sekitarnya. Saat ini, banyak warga desa yang dapat mengembangkan usaha dari kampung halamannya.

Pengeboran sumur panas bumi ini akan terus dilakukan hingga kedalaman 2.100 meter di bawah permukaan tanah.

Salah satunya adalah Kukuh Diki Prasetia (35), pemuda yang sukses menjalankan usaha kedai kopi di rumahnya. Dia juga memproduksi kopi bubuk dengan jenama Kopi Beloe hingga mampu merambah pasar ekspor.

Menurut Kukuh, pasokan listrik yang stabil sangat mendukung kelancaran usahanya. Setiap hari, dia membutuhkan listrik untuk mengoperasikan berbagai mesin kopi. ”Listrik memang menjadi penopang utama aktivitas ekonomi warga. Seluruh kegiatan usaha saya juga bergantung pada ketersediaan energi listrik,” katanya.

Tantangan

Di tengah besarnya peluang itu, pengembangan panas bumi sebagai sumber energi terbarukan bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan adalah kekhawatiran masyarakat bahwa eksploitasi panas bumi dapat memicu bencana gempa.

Dosen Teknik Geofisika Universitas Lampung Andri Kurniawan menjelaskan, secara ilmiah, aktivitas panas bumi memang dapat memengaruhi tekanan fluida dan suhu batuan sehingga pada kondisi tertentu berpotensi memicu gempa mikro. Hal ini seperti dijelaskan dalam studi yang dilakukan oleh Holmgren dkk (2026) di Coso, California, yang menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas reinjeksi dan seismisitas lokal.

Baca JugaGeotermal hingga Hidrogen Hijau, Sumbangsih Energi Bersih dari Ulubelu

Menurut Andri, tim Teknik Geofisika Universitas Lampung telah melakukan penelitian terkait gempa mikro yang dirasakan oleh masyarakat Ulubelu beberapa waktu lalu. Dari hasil penelitian, gempa Ulubelu didominasi karakter earthquake swarm, yaitu gempa kecil dan dangkal yang terjadi berulang. Pola serupa ditemukan di Suoh meskipun tidak terdapat operasi panas bumi.  

Aktivitas gempa yang terjadi di wilayah itu berkaitan dengan sistem tektonik regional dan struktur geologi lokal, dengan klaster seismisitas di Suoh, Ulubelu, dan Teluk Semangka-Kota Agung. ”Perlu dipahami bahwa Ulubelu berada dalam lingkungan tektonik, vulkanik, dan sistem panas bumi yang aktif secara alami,” kata Andri.  

Mengutip Buletin Geofisika edisi September 2026 yang diterbitkan oleh Stasiun Geofisika Lampung Utara, secara geografis, Lampung memang dilalui jalur bukit barisan dan diapit oleh dua lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.

Lampung berada pada Zona Patahan Semangko (Sumatra Transform Fault Zone) yang membentang sepanjang 1.900 km dari Aceh hingga Teluk Semangka, Lampung. Sistem Sesar Sumatera yang berada di wilayah Lampung adalah Segmen Sunda, Segmen Semangko, dan Segmen Kumering.

Setiap tahun, lempeng tektonik tersebut bergerak dengan kecepatan 6-14 sentimeter. Pergerakan inilah yang sering menimbulkan gempa, baik di darat ataupun di laut.

Sepanjang September 2026, Stasiun Geofisika Lampung Utara mencatat terjadi 356 kali kejadian gempa bumi di Lampung. Dari jumlah itu, sebanyak 328 kejadian tergolong gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas sesar lokal, mayoritas berpusat di laut.

Andri menambahkan, dari sisi geofisika, panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang relatif ramah lingkungan karena memanfaatkan panas alami dari dalam bumi tanpa proses pembakaran bahan bakar fosil.

Uap digunakan untuk menggerakkan turbin, sedangkan fluida sisa diinjeksikan kembali ke dalam reservoir untuk menjaga keberlanjutan sumber daya. Namun, fluida panas bumi juga dapat mengandung mineral dan gas alami sehingga memerlukan pengelolaan yang baik.

”Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah menjaga keseimbangan reservoir, memastikan integritas sumur, serta memantau perubahan tekanan fluida dan kondisi geologi bawah permukaan. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko terhadap lingkungan dapat diminimalkan dan energi panas bumi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” papar Andri.

Tak hanya Indonesia, negara-negara lain juga tengah mempercepat transisi menuju energi bersih. Peralihan dari energi fosil ke sumber energi rendah emisi ini menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga ketahann energi di masa depan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tuntutan UMP Bali, Demokrasi, dan Personalisasi Politik
• 2 jam lalu
0
thumb
Siapa Bayu Setiadi? Pria Viral Berjas Almamater Undira yang Mengaku Dibayar saat Demo, Ini Pengakuannya
• 23 jam lalu
0
thumb
8 Cara Mengenali Atasan Baik Hati Dilihat dari Ucapannya
• 20 jam lalu
0
thumb
Partisipasi TKA tingkat SMA 2026 naik
• 21 jam lalu
0
thumb
Google DeepMind Rilis Model AI Genie 4: Bisa Buat Dunia Virtual, Ada Fitur Audio - Kendali Real Time
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.