Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang mengguyur Kota Palembang, Sumatra Selatan, selama empat hari terakhir mulai menipiskan kepekatan kabut asap. Meski demikian, penurunan jarak pandang belum berbanding lurus dengan kebersihan udara.
Berdasarkan data pemantauan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter partikel halus (PM2,5) di Palembang masih berada di angka 154, yang masuk ke dalam kategori tidak sehat.
Koordinator BMKG Sumatra Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa partikel polusi masih bertahan karena sisa kebakaran lahan gambut di wilayah timur, khususnya Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), belum sepenuhnya padam.
"Modifikasi cuaca kemarin berhasil memicu potensi awan hujan, tetapi belum merata ke seluruh lahan gambut yang terbakar. Kemarin masih ada titik yang menyala, dan pagi ini sebagian apinya padam tetapi asapnya masih mengepul," kata Wandayantolis dalam tayangan Selamat Pagi Indoenesia Metro TV, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia menambahkan, pergerakan angin turut memperparah kondisi udara di ibu kota provinsi tersebut. "Arah angin saat ini masih dari timuran, sehingga asap dari kawasan timur wilayah OKI ini terus bergerak masuk ke Palembang. Inilah yang membuat kualitas udara di Palembang masih pada kategori sedang hingga tidak sehat," jelasnya.
Terkait pola cuaca, Wandayantolis mengungkapkan bahwa musim hujan di wilayah Sumatra Selatan mengalami kemunduran signifikan akibat anomali iklim global.
"Awal musim hujan kita terlambat sekitar 30 hari dari semestinya karena faktor El Nino yang masih cukup kuat. Musim hujan yang seharusnya terjadi pada awal Oktober, baru mulai bergeser dan berlangsung pada November ini," tuturnya.
Baca Juga :
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Potensi Hujan di Berbagai Kota Besar
Menurut pantauan BMKG, hujan baru mulai merata di wilayah barat seperti Kabupaten Empat Lawang pada akhir Oktober dengan curah hujan melampaui 50 milimeter dalam dasarian (sepuluh hari). Pola hujan kemudian bergerak ke arah utara meliputi Musi Rawas, Pagar Alam, dan Lahat pada awal November, sebelum akhirnya membasahi Banyuasin, Palembang, Ogan Ilir, serta OKI pada pertengahan November.
Di sisi lain, Wandayantolis memberikan peringatan dini kepada pemerintah daerah dan masyarakat mengenai ancaman cuaca ekstrem menjelang akhir tahun.
"Kami mengimbau pemerintah dan instansi terkait untuk waspada. Musim hujan kita memang mundur, tetapi tidak memundurkan masa puncaknya. Begitu masuk November, tiba-tiba pada Desember kita langsung menghadapi puncak musim hujan dengan intensitas sangat tinggi, yakni mencapai 300 sampai 400 milimeter. Kita perlu bersama-sama waspada terhadap peningkatan potensi bencana hidrometeorologi basah," tegasnya.
Menyikapi kualitas udara yang masih berisiko bagi kesehatan, masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Warga disarankan tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mencukupi kebutuhan air minum harian, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas medis bila mengalami gangguan pada saluran pernapasan.





Komentar (0)