Kabut Asap Karhutla Mereda, Roda Ekonomi di Palangka Raya Berangsur Pulih

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Meredanya bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa angin segar bagi aktivitas perekonomian di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Setelah diguyur hujan, langit kota yang sempat berselimut asap pekat selama hampir empat bulan kini kembali bersih, mendorong warga kembali meramaikan pasar tradisional dan kawasan kuliner.

Dampak positif perubahan cuaca ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kuliner yang sebelumnya sempat terpukul parah. Anisa, salah seorang pemilik usaha kuliner di Palangka Raya, menceritakan beratnya mempertahankan usaha saat kabut asap mencapai puncaknya.

"Waktu kemarin kabut asap tebal banget, omzet kita pasti turun, turun banget sekitar 20 persenan, bahkan lebih," kata Anisa dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Menurut Anisa, penurunan omzet terjadi karena warga enggan keluar rumah demi menjaga kesehatan. Kondisi itu diperparah oleh penerapan sistem kerja dari rumah (work from home) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah-sekolah.

"Kabut asap bikin kesehatan orang pada turun. Orang-orang juga WFH sebagian dan anak-anak sekolah pada PJJ. Jadi pada enggak keluar rumah, mungkin makannya juga di rumah saja," jelasnya.
 

Baca Juga :

Antusias Siswa SMPN 8 Palangka Raya Kembali ke Sekolah


Selain kehilangan pelanggan, Anisa mengeluhkan pasokan logistik yang sempat lumpuh saat kabut asap melanda. "Pas kabut kemarin bahan baku banyak yang kosong. Sayur dan ikan susah banget dicari, harganya bahkan naik sampai 50 persen," tambah Anisa.

Geliat pemulihan serupa dirasakan di sektor perdagangan basah. Mama Asril, seorang pedagang ayam di pasar tradisional Palangka Raya, menuturkan bahwa daya beli masyarakat kini perlahan kembali normal.

"Sekarang penjualan sudah mendingan, lumayan. Dalam kondisi normal begini sehari bisa terjual 30 sampai 35 ekor," ujar Mama Asril.

Ia membandingkan angka tersebut dengan masa-masa krisis asap beberapa pekan lalu, saat penjualannya anjlok hingga separuhnya. "Kalau sebelumnya, pas lagi parah-parahnya, cuma terjual 15 ekor, kadang 20 ekor. Anjlok separuh. Sekarang harga ayam juga sudah mulai turun Rp2.000," ungkapnya.

Kendati penjualan berangsur pulih, para pedagang dan pelaku usaha menilai kondisi belum sepenuhnya normal. Tingginya harga sejumlah bahan pokok akibat dampak kemarau panjang masih menjadi tantangan di lapangan. Warga berharap kualitas udara bersih di Palangka Raya dapat terus bertahan agar aktivitas ekonomi kembali stabil seutuhnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menag: Santri Harus Kuasai Teknologi Tanpa Meninggalkan Tradisi Keilmuan Pesantren
• 3 jam lalu
0
thumb
Kunjungan wisman ke Kuba anjlok 65,1 persen hingga September 2026
• 11 jam lalu
0
thumb
BSI dan BPJPH Fasilitasi 5.000 Sertifikasi Halal untuk UMKM
• 7 jam lalu
0
thumb
Indonesia jadi tuan rumah APSMI 2026, perkuat akses swamedikasi
• 11 jam lalu
0
thumb
DPR RI Soroti Dugaan Penggunaan AI pada TKA SMA 2026, Minta Pemerintah Investigasi
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.