EtIndonesia.com Akibat pesatnya perkembangan kendaraan energi baru (NEV), SPBU di Tiongkok kini menghadapi gelombang penutupan. Peraturan baru mengenai “setiap transaksi langsung menerbitkan faktur” yang mulai diberlakukan pada 1 November dikhawatirkan akan semakin memperparah gelombang penutupan tersebut.
Selain itu, harga solar telah mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kelangkaan bahan bakar menyebabkan truk-truk berhenti beroperasi dan kapal-kapal tidak dapat berlayar, membuat para sopir dan pemilik kapal sangat kesulitan.
Tahun ini, harga minyak melonjak tajam, sementara tingkat penetrasi kendaraan listrik energi baru di Tiongkok meningkat hingga 65,2 persen, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Data publik menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir, jumlah SPBU swasta menyusut dengan laju rata-rata 3,68 persen per tahun. Setiap hari, sekitar 10 SPBU terpaksa tutup dan menghentikan operasinya.
SPBU di TiongkokHingga akhir 2025, jumlah SPBU di seluruh Tiongkok mencapai sekitar 110.000 unit. Berdasarkan perkiraan Institut Riset Ekonomi dan Teknologi China National Petroleum Corporation (CNPC), sekitar 20.000 SPBU di Tiongkok diperkirakan akan ditutup hingga sekitar tahun 2030.
Video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa sejumlah SPBU telah dialihfungsikan menjadi stasiun pengisian daya kendaraan listrik.
“Sekarang bisnis SPBU semakin sulit. Volume penjualan semakin menurun dari tahun ke tahun. Kendaraan listrik berkembang terlalu pesat. Selama biaya sewanya tinggi dan masih harus menggaji karyawan, bisnis ini pasti semakin sulit dijalankan,” kata Wang, pemilik SPBU di Provinsi Hebei/
“Semakin banyak yang gulung tikar. Dalam dua bulan terakhir, jumlah yang tutup sangat banyak. Memang banyak orang Fujian yang menarik diri dari bisnis SPBU di wilayah utara. Penerapan sistem penerbitan faktur langsung di mesin pengisian bahan bakar memberikan dampak yang sangat besar,” tambahnya.
Mulai 1 November 2026, Tiongkok akan memberlakukan secara menyeluruh peraturan baru “setiap transaksi langsung menerbitkan faktur” bagi SPBU ritel bahan bakar minyak olahan.
Dengan mengandalkan platform “Leqi” milik Administrasi Perpajakan Negara, sistem akan secara otomatis menerbitkan faktur elektronik secara langsung berdasarkan data transaksi yang sebenarnya. Kebijakan ini semakin mempercepat gelombang penutupan SPBU.
“Di Hebei, pemasangan sistem penerbitan faktur pada mesin pengisian bahan bakar diwajibkan. Sekitar 80 persen sudah selesai dipasang. Pengawasannya sangat ketat. Sekarang tidak menghasilkan keuntungan, tetapi kami tetap bertahan mati-matian,” ujar Zhang, pemilik SPBU di Provinsi Hebei.
“Zhongcheng di wilayah timur laut adalah jaringan SPBU berantai, dan sekarang sudah banyak cabangnya yang mundur dan tutup. Di Dongying, Provinsi Shandong, beberapa SPBU sudah menghentikan operasinya tahun ini. Bahkan hari ini ada satu SPBU yang kabur dan tutup, milik orang sekampung dengan kami,” jelasnya.
Para pemilik SPBU mengungkapkan bahwa biaya pembelian bahan bakar sangat tinggi, sementara biaya sewa tempat juga tidak murah.
Dahulu, sebuah SPBU kecil setidaknya bisa menghasilkan keuntungan ratusan ribu yuan RMB (selanjutnya disebut yuan) setiap tahun. Namun, sekarang sembilan dari sepuluh SPBU mengalami kerugian dan sudah tidak mampu lagi menanggung biaya sewa tahunan yang mencapai ratusan ribu yuan.
“Bergabung dengan merek waralaba tidak ada gunanya. Biaya waralabanya juga tidak murah. Jika bergabung dengan Sinochem, biayanya mencapai 100.000 yuan per tahun. Mereka meminta Anda mempromosikan produk bahan bakar mereka melalui merek tersebut, sehingga pada akhirnya Anda harus membeli bahan bakar dari mereka,” kata Zhang.
“Jika menggunakan sistem pengelolaan Xiaohaitun, mereka akan mengirimkan seorang kepala SPBU, tetapi biayanya mencapai 350.000 yuan per tahun. Di beberapa kota kecil, pendapatan bahkan tidak cukup untuk menutup biaya tersebut. Namun, persaingan perang harga terus berlangsung tanpa henti,” tambahnya.
Para pemilik SPBU juga mengungkapkan bahwa setelah harga minyak naik, kelangkaan bahan bakar sering terjadi. Belakangan ini, penjualan solar dibatasi atau bahkan dihentikan sementara. Akibatnya, banyak truk besar berbahan bakar solar terpaksa berhenti beroperasi dan kapal-kapal tidak dapat berlayar. Para sopir dan pemilik kapal mengeluhkan kondisi yang semakin sulit.
“Harga solar terus naik, hingga sekarang hampir mencapai 10.000 yuan per ton. Dengan harga yang begitu tinggi, pasokan solar juga dibatasi. Hal ini semakin mendorong peningkatan penjualan truk berat berbahan bakar energi baru,” ujar Wang.
Reporter NTD: Xiong Bin dan Peng Xinyu, dengan laporan wawancara.






Komentar (0)