HARIAN.FAJAR.CO.ID, LAMPUNG – Tim Pakar Program Hilirisasi Riset Prioritas Skema Dorongan Teknologi 2026 yang melibatkan akademisi Universitas Fajar (Unifa) mendampingi pengembangan produk beton instan BISA hasil riset dosen Universitas Bandar Lampung (UBL).
Pendampingan yang berlangsung pada 23–27 Oktober 2026 tersebut tidak hanya mengevaluasi kesiapan teknologi dan mutu produk, tetapi juga menjajaki ketersediaan bahan baku Fly Ash and Bottom Ash (FABA) di PLTU Sebalang serta peluang pemasaran ke industri konstruksi.
BISA merupakan produk beton instan yang dikembangkan dengan memanfaatkan limbah hasil pembakaran batu bara. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif material konstruksi yang praktis sekaligus memberikan nilai tambah terhadap pemanfaatan limbah industri.
Tim Pakar diketuai Prof. Dr. Ir. Erniati, S.T., M.T., pakar material konstruksi dari Universitas Fajar (Unifa). Evaluasi dilakukan secara multidisiplin, meliputi aspek teknis, material konstruksi, manajemen, pemasaran, keuangan, risiko, hingga legalitas dan regulasi.
Dalam evaluasi teknis, tim melakukan verifikasi fasilitas laboratorium pengujian UBL yang telah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN). Tim juga menyaksikan langsung penerapan prosedur operasional standar (SOP) produksi dan pengujian kuat tekan beton BISA di Laboratorium Teknik Sipil UBL.
Kegiatan tersebut bertujuan memastikan kesiapan fasilitas pengujian, konsistensi proses produksi, serta pemenuhan persyaratan teknis produk sebelum memasuki tahap komersialisasi.
Salah satu agenda penting adalah kunjungan ke PLTU Sebalang, Lampung, untuk menjajaki potensi kerja sama penyediaan bahan baku FABA. Kunjungan dilakukan bersama Ketua Tim Riset Dorongan Teknologi UBL, Ronny Hasudungan Purba, Ph.D., serta didampingi Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama UBL, Dr. Ir. Hery Riyanto, M.T., dan Ketua Tim Inovator LPPM UBL, Trenggono Pujo Sakti, S.AB., M.AB.
Hery Riyanto menyampaikan bahwa UBL sebelumnya telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan PLTU Sebalang. Kerja sama tersebut menjadi modal awal untuk menjajaki penguatan sinergi dalam penyediaan bahan baku pengembangan BISA.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Dr. Ir. Andi Aladin, M.T., IPM., ASEAN Eng., pakar teknis dan proses dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, menggali informasi mengenai karakteristik FABA yang dihasilkan PLTU Sebalang.
Pembahasan mencakup asal dan jenis batu bara, karakteristik sistem pembakaran menggunakan boiler Circulating Fluidized Bed (CFB), serta pengaruh karakteristik batu bara dan proses pembakaran terhadap mutu FABA.
Komposisi kimia dan konsistensi mutu abu menjadi perhatian untuk memastikan kesesuaiannya sebagai bahan baku beton instan. Penelusuran ini penting agar formulasi BISA memiliki dasar teknis yang kuat sekaligus didukung kepastian pasokan bahan baku.
Selain PLTU Sebalang, Tim Pakar bersama peneliti UBL juga melakukan kunjungan ke PT Wijaya Karya Beton (WIKA). Kunjungan tersebut bertujuan menggali kebutuhan industri konstruksi, mendiskusikan persyaratan teknis produk, serta mengidentifikasi peluang pemanfaatan BISA dalam berbagai aplikasi konstruksi.
Dari aspek manajemen dan pemasaran, Dr. Maharajabdinul, S.E., M.M., pakar Universitas Fajar, mengkaji potensi pasar dan strategi komersialisasi produk.
Sementara itu, Dr. Tery, S.Ak., M.Ak., juga dari Unifa, melakukan kajian kelayakan finansial dan identifikasi risiko usaha dalam pengembangan BISA menuju tahap komersial.
Aspek legalitas dan regulasi turut dikaji Dr. Ir. Muhammad Syarif, S.T., M.T., M.M., M.H., IPM., ASEAN Eng., pakar dari Universitas Muhammadiyah Makassar. Kajian ini diarahkan untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku serta kesiapan aspek hukum dalam membangun kemitraan dengan industri.
BISA Dilirik Kontraktor Lampung
Peluang pasar BISA juga mendapat respons positif dari kalangan kontraktor. Napoli Situmorang dari PT Tirta Wandhira Utama mulai mencermati potensi pemasaran dan pemanfaatan produk beton instan tersebut.
Menurut Napoli, BISA berpeluang menjadi pilihan menarik bagi pelaku konstruksi apabila harga jualnya mampu bersaing dengan total biaya penggunaan semen konvensional beserta agregat yang dibutuhkan dalam campuran beton.
Selain harga, kepraktisan penggunaan menjadi keunggulan yang patut dipertimbangkan. Sebagai produk beton instan, BISA berpotensi menyederhanakan proses pencampuran di lapangan, mengurangi kehilangan material (material loss), serta meminimalkan ketidaktepatan komposisi akibat pencampuran manual.
Pada metode konvensional, pencampuran semen, pasir, dan kerikil sangat bergantung pada ketelitian pekerja. Perbedaan takaran dapat memengaruhi keseragaman campuran dan berpotensi berdampak pada mutu pekerjaan.
Karena itu, konsistensi komposisi, kemudahan penggunaan, dan potensi efisiensi pelaksanaan pekerjaan menjadi nilai tambah yang dapat dikembangkan dalam strategi pemasaran BISA.
Hasil pendampingan Tim Pakar DHK menunjukkan bahwa pengembangan BISA memiliki peluang untuk terus ditingkatkan agar memenuhi kebutuhan industri konstruksi. Namun, keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan menghasilkan prototipe.
Diperlukan keterpaduan antara kesiapan teknologi, pembuktian mutu produk, ketersediaan bahan baku, kelayakan ekonomi, kepatuhan regulasi, dan kesesuaian dengan kebutuhan calon pengguna.
Pemanfaatan FABA sebagai bahan baku BISA juga membuka peluang peningkatan nilai guna limbah hasil pembakaran batu bara menjadi material konstruksi bernilai tambah. Pengembangannya tetap harus memperhatikan persyaratan mutu, keselamatan, dan ketentuan lingkungan yang berlaku.
Dengan dukungan pendampingan multidisiplin dan penjajakan kemitraan dengan penyedia bahan baku maupun calon pengguna industri, BISA diharapkan dapat berkembang dari hasil riset perguruan tinggi menjadi produk inovasi yang memiliki daya saing dan manfaat lebih luas bagi masyarakat. (*)






Komentar (0)