Kerja, kerja, kerja! Sesekali diselingi jalan-jalan rasanya perlu. Namun, menyisipkan liburan di antara rutinitas sejatinya membutuhkan dua bekal yang tidak selalu tersedia bersamaan, yakni uang dan waktu. Keduanya ikut menentukan seberapa jauh seseorang bisa pergi untuk mencari jeda.
Akhir pekan Zia (28), warga Depok, Jawa Barat, biasanya diisi dengan berburu makanan di Blok M atau berkeliling mal di Depok dan Jakarta Selatan. Untuk urusan bepergian pun, ia lebih akrab dengan wisata perkotaan. Sampai akhirnya, foto perjalanan seorang teman ke Kawah Ratu di kawasan Gunung Salak, Bogor, membuatnya ingin mencoba jalan yang berbeda.
Zia kemudian mendaftarkan diri bersama tiga teman kuliahnya melalui penyelenggara perjalanan bersama atau open trip. Itulah pengalaman trekking pertamanya. Ketertarikan yang semula muncul dari foto berkembang menjadi kesenangan berjalan di alam.
”Untuk pengalaman pertama, aku langsung suka banget! Karena kegiatan olahraga, dan foto-fotonya bagus,” katanya.
Untuk pengalaman pertama, aku langsung suka banget! Karena kegiatan olahraga, dan foto-fotonya bagus.
Sejak itu, ia penasaran dengan tujuan wisata alam lainnya. Mal tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk mengisi waktu luang. Tahun lalu, ia mendaki sekitar 10 gunung. Tahun ini, ia sudah tiga kali mendaki.
Namun, berpindah dari mal ke gunung bukan berarti meninggalkan urusan menghitung pengeluaran. Ada harga paket perjalanan, ongkos menuju titik kumpul, hingga camilan yang dibeli sebelum berangkat. Di balik foto dan cerita yang dibawa pulang, ada anggaran yang perlu disiapkan.
Dalam perjalanan ke Gunung Slamet, Jawa Tengah, selama tiga hari dua malam, Zia menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta. Jumlah itu sudah mencakup biaya perjalanan bersama, transportasi menuju stasiun, camilan, dan kebutuhan lainnya.
”Dengan harga segitu kita bisa dapat pengalaman yang memorable dan selalu nagih ingin hiking lagi,” ujarnya.
Penilaian itu tentu berangkat dari kemampuan dan prioritas Zia sendiri. Sebelum mendaftar, ia juga mempertimbangkan harga dan tanggal perjalanan, makanan yang disediakan, hingga jumlah pengikut akun Instagram penyelenggara.
Belakangan, Zia lebih sering memilih pendakian sehari tanpa menginap atau tektok. Waktu untuk melepas penat yang terbatas membuatnya menyesuaikan panjang perjalanan. Keinginan menikmati alam tetap mendapat tempat meski harus dikemas dalam jeda yang lebih singkat.
Ongkosnya pun relatif lebih ringan, berkisar Rp 300.000-Rp 500.000. Bagi Zia, perjalanan sehari menjadi cara mempertemukan waktu luang yang tersedia dengan keinginan untuk kembali mendaki. Tidak setiap perjalanan harus berlangsung berhari-hari untuk layak dinantikan.
Namun, perjalanan bersama bukan hanya soal menekan biaya atau menyesuaikan waktu. Bagi sebagian orang, open trip juga menawarkan pengalaman lain, yakni bertemu orang baru, berbagi perjalanan, sekaligus mengenal tempat yang belum pernah didatangi.
Pergi sendiri, pulang mendapat teman baru. Bagi Jason (21), warga Banten, perjalanan bersama membuka kesempatan mengenal kehidupan di daerahnya sendiri. Baru-baru ini, ia mengikuti open trip ke Baduy. Ia mendaftar seorang diri.
Kepraktisan menjadi salah satu pertimbangannya. Jadwal perjalanan sudah disusun dan sejumlah kebutuhan telah disediakan. Ia tidak perlu mengatur seluruh perjalanan dari awal.
Total pengeluarannya berkisar Rp 500.000-Rp 600.000, termasuk biaya paket, kebutuhan pribadi, dan oleh-oleh. Fasilitas paketnya mencakup transportasi pergi-pulang dari Stasiun Rangkasbitung ke Baduy, tiket wisata, dua kali makan, minuman khas Baduy, penginapan di Baduy Dalam, pendamping perjalanan, pemandu lokal, serta sejumlah perlengkapan dan fasilitas perjalanan.
Ia menikmati suasana dan keindahan tempat yang dikunjunginya. Pengalaman melihat langsung kehidupan masyarakat Baduy memberikan sesuatu yang tidak ia peroleh hanya dengan membuka media sosial.
Bagi Jason, biaya perjalanan itu sepadan karena ia pulang membawa pengetahuan baru tentang kehidupan masyarakat Baduy. Rekreasi menjadi kesempatan untuk mengenal, bukan sekadar singgah.
Pertimbangan lain muncul dalam pengalaman Daffa Ghazan (23), warga Jakarta Selatan, ketika berwisata ke Liwungan di Pandeglang, Banten. Pemandangan menjadi daya tarik, katanya. Namun, untuk sampai ke tujuan, ada biaya kapal yang perlu diperhitungkan.
Ia membayangkan ongkos yang harus ditanggung jika pergi seorang diri. Perjalanan bersama atau open trip membuat biaya tersebut bisa dibagi dengan peserta lain.
”Kalau saya sendiri, pasti akan sangat mahal untuk biaya kapalnya. Lebih murah lagi kalau ikut open trip dan menambah relasi teman juga,” ujarnya.
Dalam perjalanan yang diikutinya bersama rombongan berjumlah 15 orang itu, ia mendapatkan makan siang dan kegiatan snorkeling di pulau terdekat. Daffa merasa biaya yang dikeluarkan sepadan dengan fasilitas yang diterima.
Baginya, perjalanan singkat seperti itu cukup untuk memberi ruang bagi diri sendiri di sela kesibukan bekerja. Ia menyebutnya sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri. Meski demikian, keinginan bepergian tetap diikuti persiapan. Ia menabung sebelum berlibur.
Dari sisi penyelenggara, kebutuhan untuk bepergian tanpa harus mengurus semua persiapan menjadi salah satu alasan peserta memilih open trip.
Tebet Adventure bermula dari usaha penyewaan perlengkapan kegiatan luar ruang pada 2019. Usaha itu mulai mengadakan pendakian bersama setelah menerima permintaan pelanggan dan rekan-rekan. Kegiatannya terhenti akibat pandemi Covid-19 pada 2020, kemudian dirintis kembali pada 2021 dengan mengembangkan perjalanan pendakian.
Pendiri Tebet Adventure Alfian Agus Hermawan menjelaskan, peserta umumnya mencari hiburan dan kesempatan melepas penat dari kehidupan perkotaan. Ada pula yang datang sendiri karena teman mendakinya sedang sibuk. Perjalanan bersama mempertemukan mereka dengan orang-orang baru.
Dalam paket yang ditawarkan, penyelenggara mengurus transportasi dari titik kumpul, tiket masuk, tenda, perlengkapan memasak, hingga logistik makanan. Kepraktisan itulah yang turut dibayar peserta.
Harga paket pendakian tanpa menginap atau tektok berkisar Rp 350.000-Rp 600.000. Adapun paket menginap berkisar Rp 700.000-Rp 2,5 juta, bergantung pada tujuan perjalanan.
Menurut Alfian, harga mengikuti kebutuhan logistik, biaya transportasi, serta tiket masuk. Tarifnya cenderung mengalami sedikit kenaikan dari tahun ke tahun. Dengan demikian, memilih perjalanan bersama tetap memerlukan perhitungan, termasuk untuk kebutuhan di luar paket.
Bagi orang-orang yang diceritakan di atas, hal itu memperlihatkan ukuran kesenangan yang berbeda. Zia menemukan kegemaran baru di alam. Jason menikmati waktu tanpa telepon sambil mengenal kehidupan masyarakat Baduy. Daffa memperoleh kesempatan berlibur singkat di sela kesibukan.
Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Oki Rahadianto mengatakan, pilihan rekreasi warga perlu dilihat berdasarkan kelas sosialnya. Pertimbangan dan makna di balik kegiatan tersebut tidak bisa disamaratakan. ”Tergantung dari kelas sosial mana dulu. Tidak bisa digeneralisasi,” ujarnya.
Menurut Oki, bagi kelas atas, rekreasi dapat berkaitan dengan prestise, citra, dan persaingan mempertahankan posisi sosial. Sementara bagi kelas menengah dan bawah, pilihan rekreasi dapat menjadi cara bernegosiasi dengan dampak efisiensi dan krisis multidimensi yang sedang terjadi.
Namun, ia menekankan bahwa rekreasi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan melepas penat setelah bekerja. Ada hak untuk menikmati kehidupan dan menjalin hubungan sosial yang juga perlu mendapat tempat.
Karena itu, pembahasan mengenai biaya rekreasi perlu melampaui persoalan bagaimana warga menyisihkan uang atau menekan pengeluaran. Oki mengajak melihat persoalan tersebut dari sisi pendapatan. Apakah penghasilan yang diterima sudah memungkinkan warga memenuhi kebutuhan rekreasinya?
Pertanyaan itu terutama relevan bagi kelas menengah dan menengah bawah. Kemampuan menikmati waktu luang perlu dilihat sebagai bagian dari kelayakan hidup, sekaligus menjadi alasan untuk menyediakan pilihan rekreasi yang lebih merata dan dapat diakses hingga kelompok masyarakat kelas bawah.
Di sisi lain, Oki menilai penawaran wisata juga dapat dibaca sebagai strategi industri dalam merespons kondisi masyarakat. Penyedia jasa wisata berupaya memanfaatkan peluang yang ada agar tetap dapat mempertahankan pasar di tengah situasi yang tidak menentu.






Komentar (0)