Pertumbuhan Ekonomi Korsel Berkat Ledakan Chip Jadi Perhatian Ketua The Fed

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Kevin Warsh menaruh perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi Korea Selatan (Korsel), terutama karena peran negara tersebut dalam rantai pasok teknologi global.

Warsh mengatakan, Korea Selatan bersama Jepang menjadi salah satu pemasok penting bahan baku dan komponen yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan teknologi baru, termasuk industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Saya mungkin lebih banyak memperhatikan perekonomian Korea daripada yang Anda bayangkan. Sebab, ketika saya melihat bahan baku utama untuk lonjakan teknologi baru ini, sebagian besar berasal dari Jepang dan Korea, serta sebagian dari Singapura," ujar Warsh dalam konferensi pers The Fed, dikutip dari The Korean Herald, Sabtu (31/10).

Pernyataan tersebut disampaikan Warsh setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.

Menurut Warsh, perkembangan ekspor Korea Selatan, termasuk semikonduktor dan otomotif, dapat memberikan gambaran sebagai tolak ukur perdagangan dan kondisi ekonomi AS.

"Jadi, saya sangat tertarik dengan apa yang terjadi di perekonomian Korea, karena hal itu biasanya memberi gambaran mengenai barang-barang apa saja yang sedang diangkut oleh pesawat maupun kapal menuju ke sini," katanya.

Warsh juga menyinggung hubungannya dengan Gubernur Bank of Korea (BOK) Shin Hyun-song. Keduanya telah saling mengenal selama sekitar 20 tahun, sejak Warsh menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed dan Shin bekerja sebagai ekonom yang meneliti neraca lembaga keuangan serta kerentanan sistem keuangan.

Perhatian Warsh terhadap ekonomi Korea Selatan muncul seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang melampaui perkiraan. Berdasarkan data yang dirilis Selasa (27/10), produk domestik bruto (PDB) riil Korea Selatan tumbuh 1 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan perkiraan awal Bank of Korea sebesar 0,3 persen. Ekspor semikonduktor dan investasi fasilitas produksi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Korsel pada periode tersebut.

Selain itu, pendapatan domestik bruto riil Korea Selatan melonjak 18,8 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dalam lebih dari 48 tahun, sejak 1977.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang kuat juga diikuti tekanan inflasi. Harga konsumen Korea Selatan naik 2,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi Bank of Korea sebesar 2 persen.

Berbeda dengan The Fed yang mempertahankan suku bunganya, Bank of Korea diperkirakan masih berpeluang memperketat kebijakan moneter. Pasar mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga dalam pertemuan BOK pada 26 November 2026.

Saat ini, suku bunga acuan BOK berada di level 3 persen. Dengan keputusan terbaru The Fed, selisih suku bunga acuan kedua bank sentral tersebut berada di kisaran 0,75 hingga 1 poin persentase.

Sebelumnya, BOK telah menaikkan suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 0,25 poin persentase pada Juli dan Agustus. Kenaikan pada Agustus dilakukan hanya sebulan setelah langkah pertama tersebut.

Gubernur BOK Shin Hyun-song saat itu menyebut kenaikan suku bunga sebagai langkah preventif untuk merespons tekanan inflasi di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BOK Kwon Min-soo mengatakan BOK tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian dan pasar keuangan Korea Selatan.

"Meskipun The Fed (bank sentral AS) mempertahankan suku bunga tidak berubah tadi malam sesuai dengan ekspektasi, risiko eksternal tetap ada, termasuk ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah, kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal di negara-negara ekonomi utama, serta ketidakpastian seputar investasi dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence)," ujar Kwon dalam sebuah pertemuan.

Menurutnya, BOK akan terus memantau perkembangan pasar keuangan domestik dan nilai tukar mata uang asing. Pemantauan ini dilakukan di tengah keputusan kebijakan bank sentral utama dunia serta ketidakpastian arah kebijakan AS setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada Selasa (27/10).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
FISIP UB Himpun 237 Delegasi Internasional dalam Konferensi SEA FUTURES 2026 di Malaysia
• 7 jam lalu
0
thumb
Faldo Maldini: PKS dan PDIP Kemarin Terima Denny Indrayana, Kok Tidak Tanya Kenapa Kabur?
• 15 jam lalu
0
thumb
Deret Ledakan! Kim Jong Un Ajak Sang Putri Uji Tembak Rudal hingga Drone Korut
• 5 jam lalu
0
thumb
Malaysia Jadi Korban Gibran Rp892 Miliar, Ini Penjelasan Anwar Ibrahim
• 3 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI Jakarta Hapus Denda Pajak Kendaraan hingga 31 Desember 2026
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.