Bursa Kripto Binance Dibobol, Aset Rp114,3 Triliun Lenyap

katadata.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Sistem keamanan bursa kripto terbesar dunia, Binance, mengalami peretasan sistem keamanan yang berdampak pada pencurian aset senilai US$6,3 miliar atau Rp114,3 triliun (kurs Rp18.140 per US$), pada Kamis (29/10). Sejumlah firma analisis blockchain AS menduga, kelompok peretas Binance didukung oleh Korea Utara.

Reuters menyebut pembobolan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah, menggantung masa depan aset keuangan digital.

Imbas pembobolan, bursa kripto langsung jatuh, sementara Binance menghentikan penyetoran dan penarikan aset. Peretasan diduga berlangsung hanya sekitar 20 menit. Investigasi awal Binance menemukan, peretasan bermula dari laptop seorang developer perusahaan yang diretas. 

“Tim keamanan kami sedang menelusuri keseluruhan jejak serangan melalui komputer yang telah diretas, yang kemungkinan jadi titik masuk insiden ini,” kata Binance dikutip dari Reuters.

Dari US$6,3 miliar (Rp114,3 triliun) yang dicuri, Binance menyebut sebesar US$3 miliar (Rp54,4 triliun) aset telah terlacak dan dibekukan bersama mitra. Sedangkan aset lainnya sebesar US$3,3 miliar (Rp59,87 triliun) belum ada kejelasan lebih lanjut. 

Mitra-mitra yang membekukan aset termasuk Tether yang membekukan US$1,57 miliar (Rp28,49 triliun), Circle yang membekukan US$800 juta (Rp14,5 triliun), dan Ripple yang membekukan US$200 juta (Rp3,63 triliun). Pembekuan ini diestimasi berlangsung hingga 48 jam ke depan.

“Uang Anda aman dan kami menanggung setiap kerugian,” kata Co-CEO Binance Richard Teng via platform X. “Investigasi kami belum menetapkan tanggung jawab kepada individu manapun.”

Mirip Pola Serangan pada Bursa Bybit

Menurut firma analisis blockchain AS TRM Labs dan Chainalysis, serangan keamanan yang dialami Binance ini mirip dengan sejumlah pembobolan besar yang sebelumnya dikaitkan dengan Korea Utara. Menurut TRM, penyerang bisa memerintahkan dompet yang dipakai Binance untuk memindahkan isinya ke dompet milik peretas.

Pola ini pernah terjadi pada pembobolan bursa Bybit pada 2025. Menurut Biro Investigasi Federal AS (FBI), pembobolan ini dikaitkan dengan Pyongyang, Korea Utara.

Otoritas AS, Korea Selatan, dan berbagai pakar keamanan siber, sebelumnya menyebut Korea Utara selama bertahun-tahun menggunakan unit siber yang dikendalikan negara untuk melakukan spionase dan mencuri dana. Namun, Korea Utara rutin membantah tuduhan tersebut.

Pasar Kripto Tertekan

Setelah insiden pembobolan Binance, harga Bitcoin sempat jatuh ke US$76.368, terendah dalam enam pekan terakhir. Aset kripto Ether turun lebih dari 3% ke US$2.178, terendah dalam dua bulan. Token BNB turun 5% menjadi US$709,70. Saham Coinbase, yang menyatakan tidak terdampak, tetap turun 4,8%. Saham Strategy juga anjlok hampir 6% dalam perdagangan lanjutan di AS. 

Peneliti HashKey Group, Tim Sun, menilai insiden keamanan ini dapat menekan bursa kripto yang sebelumnya sudah tertekan suku bunga AS yang lebih tinggi dan melemahnya permintaan exchange-traded fund (ETF).

“Insiden ini dapat semakin menekan minat terhadap risiko dan membuat investor menilai ulang keamanan aset di bursa terpusat,” kata Tim Sun kepada Reuters.

Binance merupakan bursa pertukaran aset kripto terbesar di dunia yang didirikan oleh Changpeng Zhao pada 2017. Per 2025, Binance dilaporkan memiliki hingga 325 juta pengguna terdaftar dan mengelola sekitar US$162,8 miliar (Rp2.953,8 triliun) aset dalam kustodi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Terekam! Buang Sampah Pakai Mobil Towing Polisi | BERITA UTAMA
• 6 jam lalu
0
thumb
Nikita Mirzani Jual Murah Rumah Tinggalnya dari Balik Penjara, Agen Properti: Nego sampai Jadi!
• 16 jam lalu
0
thumb
Kemendagri Kembangkan Sistem Informasi Peringatan Dini Banjir, BNPB Kenalkan Aplikasi InaRISK di Banjarmasin
• 15 jam lalu
0
thumb
Debat! Prabowo dan Singapura Memanas, Pakar Beda Pandangan soal Ketegasan dan Diplomasi Indonesia
• 4 jam lalu
0
thumb
Gibran Hormati Denny Indrayana yang Cabut Gugatan Ijazah di PTUN
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.