Pantau - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membahas pengembangan sistem informasi peringatan dini banjir melalui rapat koordinasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 29–31 Oktober 2026, guna memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan bencana di daerah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Ketangguhan Banjir Perkotaan atau National Urban Flood Resilience Program (NUFReP), yang mencakup penguatan kelembagaan pemerintah daerah dan pengembangan sistem informasi penanganan banjir.
Dalam pembahasan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkenalkan aplikasi InaRISK sebagai sarana penyediaan informasi risiko bencana yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Karena kegiatan ini berkaitan dengan pengembangan sistem informasi dan data, BNPB memiliki aplikasi InaRISK,” kata Analis Kebencanaan Ahli Muda Direktorat Pemetaan dan Evaluasi Bencana BNPB, Sesa Wiguna, di Banjarmasin, Jumat (30/10/2026).
Kemendagri Bahas Penguatan Sistem Peringatan Dini BanjirSesa menjelaskan bahwa sistem peringatan dini bencana yang disepakati secara global memiliki empat komponen utama.
Keempat komponen tersebut meliputi pengetahuan risiko, pemantauan, penyebaran informasi, dan tindakan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Menurutnya, sistem informasi kebencanaan perlu didukung data yang mampu menggambarkan tingkat risiko suatu wilayah.
BNPB melakukan pengkajian risiko bencana dengan menghasilkan tiga jenis informasi, yakni bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Informasi bahaya berkaitan dengan potensi terjadinya fenomena bencana, sedangkan kerentanan menggambarkan kondisi objek yang berpotensi terdampak.
Sementara itu, informasi kapasitas mencakup kemampuan serta dukungan yang tersedia untuk menghadapi dan menangani bencana.
Aplikasi InaRISK Tampilkan Ancaman Bencana Berdasarkan LokasiBNPB menyediakan hasil kajian risiko bencana melalui aplikasi InaRISK yang dapat diakses melalui situs web dan perangkat bergerak.
Sesa mengatakan aplikasi tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui potensi ancaman bencana berdasarkan lokasi pengguna.
“Kalau kita membuka InaRISK, aplikasi akan mengarahkan ke lokasi tempat kita berada. Jika kita memilih informasi bahaya, aplikasi akan menunjukkan ancaman yang berpotensi terjadi,” ujarnya.
Selain menampilkan potensi ancaman, InaRISK juga menyediakan panduan tindakan yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.
Informasi tersebut disajikan untuk membantu masyarakat memahami langkah kesiapsiagaan sesuai kondisi risiko di wilayah masing-masing.
InaRISK Sediakan Panduan bagi Wilayah Berisiko Sedang dan TinggiSesa menjelaskan bahwa aplikasi InaRISK menampilkan informasi dalam bentuk infografis ketika tingkat ancaman bencana berada pada kategori sedang atau tinggi.
Sementara itu, infografis tersebut tidak ditampilkan untuk wilayah dengan tingkat ancaman rendah.
Melalui informasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui potensi bahaya sekaligus langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko.
Sesa berharap pembahasan pengembangan sistem informasi ini dapat memperluas pengenalan dan pemanfaatan InaRISK, terutama di Banjarmasin dan wilayah Kalimantan Selatan.
Ia menilai pengenalan aplikasi tersebut penting mengingat sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan memiliki potensi banjir yang cukup tinggi.
Program Ketangguhan Banjir Perkotaan Libatkan Pemerintah DaerahRapat yang diselenggarakan Kemendagri merupakan bagian dari kegiatan sinkronisasi urusan pemerintahan daerah tingkat II dengan program Bina Pembangunan Daerah.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh unit eselon II Kemendagri untuk mendukung penguatan kelembagaan pemerintahan daerah dalam penanganan banjir.
Salah satu fokus pembahasannya adalah pengembangan sistem informasi yang dapat digunakan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana banjir.
Melalui Program Ketangguhan Banjir Perkotaan, Kemendagri mendorong penguatan kapasitas pemerintah daerah agar pengelolaan informasi risiko dan penanganan banjir dapat dilakukan secara lebih terarah.





Komentar (0)