Jakarta, VIVA - Menteri Perindustrian Sarmuji membantah anggapan bahwa Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi. Dia menyebut, sektor industri pengolahan nonmigas justru menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional pada 2026.
Dalam pemaparannya di Rapimnas Kadin 2026, Sarmuji mengungkapkan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen. Tren tersebut juga terlihat sepanjang 2025, ketika industri pengolahan tumbuh 5,3 persen dan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Menurutnya, kondisi ini menjadi perubahan penting setelah selama bertahun-tahun pertumbuhan industri cenderung berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sebenarnya, kinerja industri kita tidak seperti yang digambarkan oleh narasi-narasi di luar. Seolah-olah kita sedang mengalami deindustrialisasi yang sangat mengancam proses industri. Namun, data sebenarnya menunjukkan hal yang berbeda," ujarnya di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Sarmuji juga memaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan kontribusi besar sektor manufaktur terhadap perekonomian. Industri pengolahan menyumbang 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional. Sementara itu, ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai US$159,55 miliar atau 82,40 persen dari total ekspor.
Dari sisi tenaga kerja, sektor tersebut menyerap sekitar 19,98 juta orang hingga Mei 2026. Indikator lainnya, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 mencapai 53,77, meningkat dari 51,9 pada bulan sebelumnya.
Angka di atas 50, sambung dia, menunjukkan industri berada dalam fase ekspansi. "Jadi, kita melihat bahwa industri kita saat ini tidak mengalami kontraksi, tetapi justru mengalami ekspansi," paparnya.
Meski menunjukkan pertumbuhan positif, Sarmuji menilai masih ada ruang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi industri nasional. Tingkat utilisasi industri pengolahan nonmigas pada Februari 2026 tercatat 66,13 persen, di mana pemerintah ingin mendorong angka tersebut hingga 80-85 persen.
Dia menilai peningkatan utilisasi dapat memperbesar kontribusi industri tanpa harus selalu mengandalkan pembangunan pabrik baru atau tambahan investasi. Namun, upaya tersebut membutuhkan kepastian pasokan bahan baku dan harga yang kompetitif.
Sarmuji mencontohkan adanya pelaku industri yang kekurangan 15.000 ton bahan baku rafinasi. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi hingga Desember, perusahaan terancam menghentikan produksi.
Persoalan harga bahan baku juga menjadi tantangan. Dia menyebut terdapat komoditas yang harganya di pasar internasional berkisar Rp5.700-Rp6.000, tetapi di dalam negeri mencapai Rp11.000. Kondisi tersebut membuat industri menghadapi pilihan sulit antara membeli pasokan lokal atau melakukan impor.






Komentar (0)