Bukan Cuma Soal Reaktor, Ini Tantangan Membangun PLTN
PLTN, Paradoks Ketahanan Energi, dan Geopolitik
Bahlil Ungkap Rencana PLTN di Halmahera Dikaji Bersama Rusia
SINGAPURA – Pemilihan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) perlu disesuaikan dengan kebutuhan listrik, kondisi jaringan transmisi, dan karakteristik industri di setiap negara. Reaktor nuklir berkapasitas besar maupun small modular reactor (SMR) memiliki fungsi berbeda sehingga tidak ada satu teknologi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi.
Vice-President of Marketing and International Business Development CANDU International Todd Smith mengatakan negara yang ingin mengembangkan PLTN harus terlebih dahulu menentukan kebutuhan energi dan tujuan pemanfaatannya. Keputusan memilih teknologi tidak seharusnya hanya didasarkan pada penawaran dari perusahaan penyedia reaktor.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Keputusan pemilihan teknologi harus didasarkan pada aplikasinya. Kita tidak bisa sekadar memilih teknologi karena seseorang datang membawa brosur yang paling menarik,” kata Smith dalam diskusi panel Nuclear Readiness: Global Insights for Southeast Asia’s Energy Future pada Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Rabu (28/10/2026).
Smith menjelaskan teknologi nuklir tersedia dalam berbagai kapasitas dan karakteristik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Reaktor skala besar lebih sesuai untuk wilayah dengan permintaan listrik tinggi dan jaringan transmisi yang memadai, sedangkan SMR dapat menjadi pilihan bagi wilayah terpencil dengan kebutuhan listrik lebih kecil.
Smith mencontohkan perbedaan kebutuhan energi antara wilayah selatan dan utara Ontario, Kanada. Ontario bagian selatan memiliki kepadatan penduduk tinggi dan jaringan transmisi tegangan tinggi yang mampu mendukung penyaluran listrik dalam jumlah besar.
Sebaliknya, wilayah utara Ontario memiliki permukiman yang lebih tersebar dan jaringan listrik yang tidak sepadat wilayah selatan. Dalam kondisi tersebut, penggunaan reaktor berkapasitas lebih kecil dinilai lebih sesuai dengan karakteristik kebutuhan energi setempat.
“Di Ontario bagian selatan, kami membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan reaktor nuklir skala besar dapat memberikan pasokan dengan biaya yang lebih rendah. Namun, di wilayah utara yang terpencil dan jaringan listriknya tersebar, reaktor modular kecil lebih masuk akal,” ujarnya.
Selain menghasilkan listrik, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengurangan emisi di sektor industri. Smith mengatakan sejumlah teknologi reaktor temperatur tinggi dapat menyediakan energi panas atau uap yang dibutuhkan dalam proses produksi.
Menurut Smith, kebutuhan energi industri perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis reaktor. Dengan demikian, pengembangan PLTN tidak hanya berorientasi pada kapasitas pembangkitan listrik, tetapi juga pada pemanfaatan energi untuk kegiatan ekonomi.
Smith juga menekankan pentingnya mengembangkan berbagai sumber energi secara terpadu. Reaktor nuklir skala besar, SMR, gas untuk kebutuhan pemanasan, dan energi terbarukan dapat saling melengkapi untuk menjaga keandalan pasokan energi.
Kombinasi tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat sekaligus mengantisipasi fluktuasi produksi energi terbarukan. Menurut Smith, pengalaman Ontario menunjukkan pertumbuhan permintaan listrik dapat berlangsung lebih cepat seiring perkembangan teknologi dan elektrifikasi berbagai sektor.
Pertumbuhan pusat data, fasilitas kecerdasan buatan (AI), dan penggunaan listrik yang semakin luas menjadi faktor pendorong peningkatan kebutuhan energi. Negara yang membutuhkan pasokan listrik rendah emisi dalam jumlah besar dan stabil dapat mempertimbangkan reaktor nuklir skala besar.
Sementara itu, reaktor berkapasitas lebih kecil dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri tertentu atau wilayah dengan jaringan listrik terbatas. Smith menilai kedua teknologi tersebut memiliki peran masing-masing dalam pengembangan sistem energi.
“Reaktor besar maupun kecil, kita membutuhkan semuanya. Pemilihannya bergantung pada kebutuhan dan penerapannya,” kata Smith.
Smith menambahkan ketersediaan listrik rendah emisi yang stabil dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi baru. Hal tersebut terutama berlaku bagi sektor teknologi dan industri yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
CANDU merupakan teknologi reaktor nuklir asal Kanada yang menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar dan air berat (heavy water) sebagai moderator untuk memperlambat neutron dalam proses fisi. Teknologi yang dikembangkan dan dikomersialkan Candu Energy Inc., anak perusahaan AtkinsRéalis, tersebut memungkinkan negara pengguna mengembangkan fasilitas fabrikasi bahan bakar sendiri sehingga berpotensi memperkuat kemandirian energi.
Komentar (0)