IHSG Jumat Dibuka Turun 0,61 Persen ke 5.066,94, Tekanan Rupiah dan Sentimen MSCI Bayangi Pasar Saham

pantau.com
6 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 31,12 poin atau 0,61 persen ke level 5.066,94 pada perdagangan Jumat (30/10/2026), di tengah kekhawatiran investor terhadap kredibilitas pasar modal domestik, tekanan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan persoalan evaluasi indeks MSCI masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan pelaku pasar.

Tekanan tersebut sebelumnya tercermin dari penurunan IHSG sebesar 3,49 persen, sementara imbal hasil (yield) obligasi meningkat hingga 7,64 persen.

Selain persoalan domestik, investor juga mencermati perkembangan inflasi AS yang berpotensi memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Sentimen MSCI dan Kekhawatiran Rupiah Tekan Kepercayaan Investor

Maximilianus menjelaskan bahwa ketidakpastian mengenai status Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi memengaruhi aliran investasi asing ke pasar keuangan domestik.

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan potensi pelemahan rupiah hingga Rp20.000–Rp22.000 per dolar AS.

Menurut Hashim, risiko tersebut dapat muncul apabila persoalan pasar modal terkait evaluasi MSCI tidak segera diselesaikan.

“Pernyataan Hashim mengenai potensi pelemahan rupiah hingga Rp22.000 per dolar AS mencerminkan besarnya risiko kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, khususnya di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI,” kata Maximilianus dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Potensi keluarnya modal asing menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Maximilianus menilai penyelesaian persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan investor asing.

Bank Indonesia Diperkirakan Prioritaskan Stabilitas Rupiah

Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, Bank Indonesia (BI) menyatakan kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih relatif baik.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur BI, Destry Damayanti, sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran mengenai potensi pelemahan rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai kemungkinan tekanan lanjutan terhadap mata uang domestik.

“Kami memperkirakan upaya BI menjaga rupiah akan tetap menjadi prioritas, dengan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan,” jelas Maximilianus.

Menurutnya, efektivitas kebijakan stabilisasi rupiah juga dipengaruhi keberhasilan reformasi tata kelola pasar keuangan domestik.

Ia menilai risiko pelemahan rupiah tidak hanya berasal dari faktor ekonomi global, tetapi juga berkaitan dengan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Inflasi AS Naik Jadi 3,6 Persen, Kebijakan The Fed Jadi Sorotan

Selain tekanan domestik, pergerakan IHSG turut dipengaruhi perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Pilarmas mencatat indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan.

Pada saat yang sama, pertumbuhan belanja konsumen AS melambat dari 0,9 persen menjadi 0,5 persen.

Kombinasi kenaikan inflasi dan perlambatan belanja konsumen tersebut menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Kondisi itu berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar saham dan nilai tukar di Indonesia.

Pilarmas Prediksi IHSG Bergerak di Rentang 4.815–5.185

Dengan mempertimbangkan tekanan domestik dan perkembangan ekonomi global, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan sepanjang perdagangan Jumat.

Berdasarkan analisis teknikal, IHSG diperkirakan memiliki level penopang (support) di 4.815 dan level hambatan (resistance) di 5.185.

Pergerakan indeks diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan evaluasi MSCI, stabilitas rupiah, serta ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga AS.

Pelaku pasar juga mencermati langkah otoritas keuangan domestik dalam memperkuat transparansi dan tata kelola pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rico Waas Gerak Cepat Tangani Banjir, BPBD Siaga Sejak Malam, Damkar Dikerahkan Bersihkan Sisa Lumpur
• 23 jam lalu
0
thumb
Tri Adhianto Gelar Gerakan Bebersih Jelang Porprov: Warga Bekasi Diminta Kompak!
• 21 jam lalu
0
thumb
Membuat Fesyen Lebih Personal Lewat Lukisan Tangan Zenea Lukis
• 6 jam lalu
0
thumb
Usai Hujan Lebat, Menkes Sebut Jumlah Daerah dengan ISPU Hitam Tersisa 14 dari 50 Kabupaten/Kota
• 2 jam lalu
0
thumb
Gunung Mayon Filipina Erupsi Jumat Pagi, Semburkan Abu Tebal dari Kawah
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.