Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menduga Singapura menjual kembali alias bertindak sebagai trader atas komoditas gas alam cair (liquified natural gas/LNG) yang diimpor dari Indonesia.
Sebelumnya, pemerintah memutuskan memotong pasokan ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura sebesar 31 BBTUD mulai akhir pekan lalu guna memprioritaskan kebutuhan energi dalam negeri.
"Kita harus memprioritaskan kepentingan domestik. Namun jika pasokan dalam negeri sudah mencukupi, tentu kita tetap mengirim ekspor ke negara lain," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, (30/10).
Setiap tahunnya, Indonesia mengalirkan gas pipa sebesar 409,55 juta british thermal unit per hari (BBTUD) dari wilayah Natuna dan Sumatra. Selain itu, Indonesia mengkonfirmasi pengiriman ekspor LNG ke Singapura mencapai 148 kargo atau setara 1.480 MMSCFD.
"Keyakinan saya, pengiriman 148 kargo itu tidak seluruhnya dikonsumsi Singapura, melainkan sebagian dijadikan sebagai instrumen trading untuk diekspor lagi ke negara lain," ujar Bahlil.
Bahlil memastikan pemotongan ekspor gas pipa sekitar 8 persen (31 BBTUD dari total 409,55 BBTUD) tidak melanggar kontrak bilateral karena pengiriman masih berada di atas batas minimum penyaluran yang disepakati.
Di sisi lain, Bahlil mengakui adanya penurunan produksi di beberapa sumur migas nasional yang kini tengah dalam proses perbaikan.
"Pemerintah terus mengejar pemulihan produksi agar target lifting migas tahun ini dapat tercapai secara maksimal," kata Bahlil usai acara Forum Komunikasi Hulu Migas 2026, Rabu, (28/10).
Berdasarkan data APBN per 31 Agustus 2026, realisasi lifting minyak nasional tercatat 575,6 ribu barel per hari (bopd) dari target 610 ribu bopd. Sementara itu, lifting gas bumi mencapai 926,8 ribu barel setara minyak per hari (boepd) dari target APBN sebesar 984 ribu boepd.






Komentar (0)