Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan pabrik baterai hasil kerja sama Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) segera diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Bahlil mengatakan fasilitas tersebut telah mulai berproduksi setelah sekitar satu tahun sejak peletakan batu pertama atau groundbreaking yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
"Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya sudah mulai produksi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Antara, Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia menyampaikan kesiapan peresmian pabrik baterai tersebut telah dilaporkan kepada Presiden. Kehadiran fasilitas itu menambah kapasitas industri baterai kendaraan listrik yang dikembangkan di Indonesia.
Menurut Bahlil, saat ini terdapat tiga fasilitas produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ketiganya meliputi fasilitas milik Hyundai, pabrik yang diresmikan di Halmahera dengan investasi dari perusahaan asal Tiongkok, serta pabrik hasil kerja sama CATL dan Antam.
Ekosistem industri baterai terintegrasi Bahlil mengatakan fasilitas tersebut telah mulai berproduksi setelah sekitar satu tahun sejak peletakan batu pertama atau groundbreaking yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
"Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya sudah mulai produksi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Antara, Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia menyampaikan kesiapan peresmian pabrik baterai tersebut telah dilaporkan kepada Presiden. Kehadiran fasilitas itu menambah kapasitas industri baterai kendaraan listrik yang dikembangkan di Indonesia.
Menurut Bahlil, saat ini terdapat tiga fasilitas produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ketiganya meliputi fasilitas milik Hyundai, pabrik yang diresmikan di Halmahera dengan investasi dari perusahaan asal Tiongkok, serta pabrik hasil kerja sama CATL dan Antam.
Baca Juga :
Pemprov DKI Siapkan Kebijakan Pengelolaan Limbah Baterai Kendaraan Listrik(Ilustrasi, baterai motor listrik. Foto: Alvaauto.com)
Bahlil menilai perkembangan industri tersebut menunjukkan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia semakin terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Integrasi industri mencakup kegiatan pertambangan (mining), pengolahan dan pemurnian mineral melalui fasilitas peleburan (smelter), teknologi high pressure acid leach (HPAL), produksi prekursor, katoda, hingga sel baterai (battery cell).
"Ekosistem baterai mobil kita ini betul-betul sudah terintegrasi antara mining, smelter, HPAL, prekursor, katoda, sampai battery cell. Mungkin tidak banyak negara yang mempunyai, memiliki ini," sebut dia.
Ia menegaskan pengembangan ekosistem industri baterai terintegrasi merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat hilirisasi sumber daya alam di dalam negeri.
Melalui pengembangan tersebut, pemerintah mendorong peningkatan nilai tambah komoditas mineral melalui proses pengolahan dan produksi berbagai komponen baterai di Indonesia.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik sebelum mendorong ekspor produk baterai ke pasar internasional.
"Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita. Tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain," tutur dia. (Selsha Septifanie Gunawan)





Komentar (0)