Grid.ID - Festival Negeri Kami (FNK) 2026 resmi dibuka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Festival ini menawarkan pengalaman wisata budaya dengan menghadirkan kesenian dan tradisi dari 38 provinsi Indonesia dalam satu panggung.
Digagas oleh International Creatives Exchange (ICE), festival ini dibuka secara simbolis oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, yang mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Pembukaan festival berlangsung meriah dengan kehadiran pengunjung dari berbagai kalangan. Salah satu acara yang menarik perhatian adalah pawai budaya yang diikuti kontingen dari 38 provinsi.
Setiap kontingen mengenakan busana adat daerah masing-masing. Pawai tersebut juga dimeriahkan marching band, musik Tanjidor, serta penampilan Ondel-ondel yang menjadi ikon budaya Betawi.
Setelah pawai, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan tari daerah dari berbagai provinsi. Setiap penampilan menampilkan busana dan gerakan tari khas yang mencerminkan keberagaman budaya Nusantara.
Pendiri sekaligus Global Head International Creatives Exchange, Atta Ul Karim, mengatakan Festival Negeri Kami digagas sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Indonesia.
“Saya berasal dari Pakistan, tetapi sudah 18 tahun tinggal di Indonesia. Saya dan keluarga merasa berutang budi kepada negeri ini. Itulah alasan kami menggagas Festival Negeri Kami,” ujar Atta.
Menurut Atta, ide penyelenggaraan festival bermula dari diskusi bersama tim sekitar delapan bulan sebelumnya. Kekayaan budaya Indonesia yang begitu luas sempat membuat mereka kesulitan menentukan konsep acara.
“Budaya Indonesia sangat banyak, sampai kami sempat bingung harus membuat acara seperti apa. Akhirnya saya memutuskan: saya ingin mengumpulkan 38 provinsi Indonesia di satu tempat. Hari ini, alhamdulillah, cita-cita itu tercapai,” tuturnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan acara budaya membutuhkan ketulusan dan tujuan untuk menjaga warisan bangsa.
“Membuat acara budaya harus dimulai dengan jiwa budaya. Di banyak bidang, orang berbicara tentang kepentingan pribadi atau kepentingan lembaga. Di budaya, manfaatnya relatif hanya satu: menghidupkan budaya Indonesia,” tegasnya.
Atta juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan atas dukungan terhadap festival tersebut.
“Semoga Festival Negeri Kami menjadi contoh yang baik bagi Indonesia. Selama niatnya baik, insyaallah semua tercapai,” tutup Atta.
Sementara itu, Dirjen Ahmad Mahendra menilai Festival Negeri Kami menjadi terobosan karena mempertemukan seluruh provinsi Indonesia dalam satu kegiatan budaya.
“Biasanya hanya sebagian provinsi yang tampil. Sekarang 38 provinsi hadir bersama. Pawai seperti ini juga mendidik, karena membiasakan masyarakat menyaksikan keragaman Indonesia,” ujarnya.
Mahendra mengatakan kehadirannya dalam pembukaan festival merupakan bentuk dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap upaya pemajuan budaya Indonesia. Ia bahkan menempuh perjalanan darat sekitar tujuh jam dari Solo dan tiba di Jakarta menjelang subuh untuk menghadiri acara tersebut.
“Ini menunjukkan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk terus mendukung setiap upaya memajukan kebudayaan, termasuk Festival Negeri Kami,” kata Mahendra.
Dalam sambutannya, Mahendra juga mengapresiasi Atta Ul Karim yang berasal dari Pakistan, tetapi memiliki kepedulian besar terhadap kebudayaan Indonesia.
Ia turut menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berdasarkan data yang dipaparkannya, Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, 29.304 objek pemajuan kebudayaan, serta 3.277 warisan budaya takbenda yang telah ditetapkan.
“Bahasa daerah kita mewakili sekitar 10 persen bahasa di dunia. Dengan kekayaan sebesar ini, Indonesia bukan lagi diversity, melainkan mega diversity,” tegasnya.
Mahendra juga menyinggung lukisan cadas di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang berusia sekitar 67.800 tahun dan disebut sebagai yang tertua di dunia.
“Kita bukan bangsa yang lahir kemarin. Peradaban kita termasuk yang tertua di dunia,” ucapnya.
Menurut Mahendra, kekayaan budaya Indonesia tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kekayaan budaya adalah aset ekonomi. Seni dan adat istiadat yang dikelola dan dikembangkan dengan baik akan menghasilkan kesejahteraan,” pungkasnya.
Ketua Pelaksana FNK, Rifai Akif, mengatakan mempertemukan perwakilan dari 38 provinsi dalam satu panggung bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih, beberapa provinsi di Papua merupakan hasil pemekaran yang masih relatif baru.
“Tapi hari ini, impian itu terwujud, perwakilan 38 provinsi berkumpul untuk berparade dan menampilkan keseniannya di panggung FNK,” tutupnya.
Melalui Festival Negeri Kami 2026, ICE berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda budaya berkelanjutan sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada masyarakat luas. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)