BKPM menjajaki potensi kemitraan investasi di sejumlah sektor strategis untuk memperkuat struktur industri dan mengoptimalkan nilai tambah ekonomi nasional.
IDXChannel - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjajaki potensi kemitraan investasi di sejumlah sektor strategis untuk memperkuat struktur industri dan mengoptimalkan nilai tambah ekonomi nasional.
Inisiatif tersebut diwujudkan lewat rangkaian pertemuan bilateral dengan kalangan korporasi serta lembaga pengelola dana investasi negara (sovereign wealth fund) yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu di Baku, Azerbaijan, pada akhir Oktober ini.
Agenda kerja di Azerbaijan tersebut melibatkan entitas terkemuka seperti AzerGold, Azerbaijan Textile Association (ATA), AZCON Holding, EGA Holding, State Oil Company of the Republic of Azerbaijan (SOCAR), State Oil Fund of the Republic of Azerbaijan (SOFAZ), hingga Azerbaijan Investment Holding (AIH).
Penjajakan lintas sektor ini diarahkan untuk memperluas kemitraan penanaman modal antarkedua negara sekaligus membuka peluang kerja sama yang mampu memperkokoh kapasitas manufaktur dan melipatgandakan nilai ekonomi di dalam negeri.
“Indonesia ingin membangun kemitraan investasi yang tidak hanya memperluas peluang bisnis, tetapi juga memperkuat kapasitas industri nasional. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan mitra internasional yang dapat mendukung pengembangan industri dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Todotua dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (30/10/2026).
Pada ranah hilirisasi mineral, pembahasan bersama AzerGold difokuskan pada potensi kemitraan pengolahan mineral, khususnya komoditas bijih besi, baja, serta mineral strategis lainnya. Kerja sama ini ditujukan untuk memacu nilai tambah sumber daya mineral domestik sekaligus memperkokoh rantai pasok industri melalui penanaman modal dan kolaborasi bersama pelaku usaha nasional.
Di sektor tekstil, pembicaraan dengan Azerbaijan Textile Association (ATA) menitikberatkan pada penguatan rantai pasok bahan baku industri garmen, mencakup pasokan serat kapas dan benang, hingga peluang investasi di industri pemintalan dan pengolahan tekstil.
Kerja sama ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil nasional secara berkesinambungan sekaligus membentuk ekosistem industri yang terintegrasi secara menyeluruh.
Adapun pada pilar infrastruktur dan logistik, pertemuan dengan AZCON Holding mendalami peluang investasi pada pengembangan pelabuhan, transportasi multimoda, industri galangan kapal, serta integrasi sistem logistik. Delegasi Indonesia turut memaparkan potensi pengembangan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas kawasan industri demi memangkas biaya distribusi logistik serta mendongkrak daya saing produk nasional.
Sementara pada sektor energi dan petrokimia, pembicaraan bersama SOCAR menargetkan peluang investasi industri petrokimia, pengamanan pasokan bahan baku dan produk energi, hingga pembangunan fasilitas penampungan (storage) dan jaringan distribusi energi di Indonesia.
Penjajakan ini sekaligus membuka jalan strategis bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai salah satu pusat perdagangan dan distribusi energi di kawasan regional.
Selain itu, penjajakan bersama EGA Holding berfokus pada potensi pengembangan perdagangan, investasi, dan kolaborasi bisnis secara umum. Forum ini dimanfaatkan untuk saling bertukar informasi mengenai peluang kemitraan antarpelaku usaha serta memperjelas peran fasilitasi pemerintah dalam mengeksekusi peluang bisnis antarkedua negara.
Pada saat yang sama, delegasi pemerintah bersama Managing Director Investasi Danantara menemui dua pengelola dana abadi milik Pemerintah Azerbaijan, yakni SOFAZ dan AIH, guna mematangkan skema investasi jangka panjang.
Pembahasan dengan SOFAZ diarahkan pada penguatan kemitraan investasi melalui skema investasi bersama (co-investment), pembangunan infrastruktur, pengembangan sektor energi dan petrokimia, hingga optimalisasi aset strategis.
Kedua pihak mendalami peluang investasi pada fasilitas pengolahan dan penyimpanan energi, industri petrokimia, serta penguatan rantai pasok tekstil, di mana SOFAZ menyatakan keterbukaannya untuk mengkaji proyek-proyek potensial sekaligus berbagi pengalaman tata kelola investasi negara bersama Danantara.
Sedangkan dalam pertemuan dengan AIH, kedua belah pihak merumuskan kemitraan strategis melalui skema co-investment bersama Danantara pada sektor-sektor prioritas bernilai ekonomis tinggi, meliputi tekstil, mineral dan baja, aluminium, energi dan petrokimia, logistik, hingga perkebunan dan pertanian.
AIH menyambut positif inisiatif tersebut dengan membuka ruang evaluasi terhadap proposal investasi Indonesia berdasarkan sinergi industri dan kelayakan komersial, yang akan ditindaklanjuti melalui pemetaan proyek prioritas serta penjajakan kemitraan dengan entitas usaha terkait.
“Berbagai peluang yang telah dibahas akan ditindaklanjuti melalui komunikasi yang lebih intensif, pertukaran informasi, serta identifikasi proyek dan mitra usaha potensial. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM siap memfasilitasi proses penjajakan agar peluang kerja sama tersebut dapat berkembang menjadi investasi yang konkret dan saling menguntungkan,” tambah Todotua.
(Febrina Ratna Iskana)






Komentar (0)