Lembaga penyedia indeks global MSCI mengkaji penyempurnaan metodologi Enhanced Value Indexes. Dalam pengumuman terbarunya, MSCI akan mengkaji pembatasan bobot maksimal satu emiten sebesar 10% dalam metodologi MSCI Enhanced Value Indexes. Langkah ini menjadi salah satu upaya MSCI untuk mengatasi konsentrasi saham dalam indeks.
Berdasarkan pengumuman MSCI pada Kamis (29/10), MSCI akan menggelar konsultasi pasar terkait sejumlah potensi penyempurnaan metodologi MSCI Enhanced Value Indexes. Salah satu usulan yang disampaikan adalah mengubah algoritma box dengan cakupan kapitalisasi pasar sebesar 15% serta menetapkan batas maksimum bobot setiap emiten sebesar 10%.
Melalui usulan tersebut, MSCI mengevaluasi mekanisme pembentukan indeks agar konsentrasi pada saham tertentu dapat dibatasi. Dengan begitu bobot satu emiten tidak dapat mendominasi indeks melebihi batas yang diusulkan.
Jika diterapkan, perubahan ini berpotensi memengaruhi bobot saham emiten yang selama ini memiliki porsi besar dalam indeks MSCI Enhanced Value. Pengelola dana yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan juga berpotensi perlu menyesuaikan komposisi portofolionya.
Selain pembatasan konsentrasi saham, MSCI mengkaji dua aspek lain dalam metodologinya.
Pertama, penggunaan indikator aset tak berwujud (intangibles) dan rasio Enterprise Value to Sales (EV/Sales) sebagai tambahan dalam perhitungan Value Score. Namun, MSCI merekomendasikan agar kedua indikator tersebut tidak dimasukkan.
Kedua, perubahan frekuensi penyesuaian portofolio (rebalancing) dari setiap enam bulan menjadi tiga bulan. Dalam usulan konsultasinya, MSCI merekomendasikan agar frekuensi penyesuaian tetap dilakukan setiap enam bulan.
MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk memberikan masukan atas ketiga usulan tersebut hingga 18 Desember 2026. Hasil konsultasi beserta jadwal implementasi ditargetkan diumumkan paling lambat 15 Januari 2027.





Komentar (0)