Memberi ”Kesempatan Kedua” bagi Pakaian Lama

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Beli, pakai, buang, beli lagi. Siklus ini kerap berulang dalam keseharian warga. Lemari baju penuh sesak oleh pakaian yang jarang tersentuh, sementara tumpukan sampah tekstil terus bertambah setiap hari. Dengan memberi ”kesempatan kedua” bagi pakaian lama, usia pakaian pun menjadi lebih lama.

Selasa (27/10/2026) pagi, aroma khas serat kain menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke rumah produksi Bersibersi Lemari di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur. Di salah satu ruangan, suara deru mesin jahit bersahut-sahutan.

Tiga mesin jahit berderet rapi di atas meja panjang. Di meja paling ujung, jemari Dermawan (21) bergerak lihai mengarahkan jarum menembus kain perca. Tak jauh dari sana, Adinda (21) cekatan menggunting kain bermotif garis mengikuti pola yang sudah digambar.

”Mereka adalah penyandang disabilitas binaan kami. Di sini, mereka menjahit pakaian hasil donasi menjadi karya baru untuk dijual kembali,” ujar Engkris, salah seorang tim pengelola Bersibersi Lemari, saat ditemui, Selasa.

Bagi sebagian orang, pakaian yang tak terpakai mungkin hanya akan jadi tumpukan kain usang di sudut lemari. Ada pula yang cukup sial dijadikan keset, diinjak-injak hingga tak lagi jelas bentuknya. Namun, di rumah produksi ini, pakaian bekas diberi kesempatan kedua.

Komunitas Bersibersi Lemari membuka pintu penerimaan donasi pakaian setiap hari. Mulanya, baju-baju bekas itu hanya datang dari kerabat dan tetangga sekitar. Kini, tak kurang dari satu hingga dua ton pakaian masuk setiap bulan.

Di luar ruang menjahit, pemandangan berkarung-karung pakaian menyita perhatian. Kardus-kardus yang baru tiba dari ekspedisi bersanding dengan karung-karung berukuran besar berisi pakaian beragam warna dan model yang sudah dipilah.

Semua dikirim dari berbagai penjuru negeri, seperti Aceh, Riau, dan Bali. Pakaian-pakaian bekas itu ditumpuk di sebelah rak yang menampung produk jadi yang sudah siap jual.

Tumpukan pakaian itu tidak dibiarkan menggunung tanpa arah. Setiap helai disortir dengan cermat, lalu dipilah ke dalam tiga jalur distribusi demi memperpanjang siklus hidupnya.

Jalur pertama adalah penyaluran langsung. Pakaian yang masih layak pakai dan siap guna dikemas untuk dikirim ke daerah-daerah yang membutuhkan bantuan sosial.

Jalur kedua adalah daur ulang (upcycling). Pakaian berkualitas baik dirancang ulang menjadi barang baru yang bernilai guna. Tangan-tangan magis para penjahit menyulap kemeja bekas dan celana jins lama menjadi tas jinjing, tatakan gelas, hingga aksesori yang ciamik.

Sementara itu, pakaian bekas layak pakai yang tidak masuk kriteria penyaluran dan tidak bisa diolah ulang akan dijual kembali. Seluruh hasil penjualannya dialirkan untuk menopang operasional serta biaya pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas binaan.

”Orang-orang suka lupa kalau pakaian tidak terpakai itu juga sampah yang mencemari bumi. Jangan sampai kita sibuk membeli baru, tapi tidak memikirkan ke mana pakaian itu akan pergi ketika kita sudah tidak mau memakainya lagi,” tutur Engkris.

Aisyah Winna Putri, Founder Komunitas Bersibersi Lemari, menilai, setiap orang bertanggung jawab atas apa yang ia kenakan. Tak hanya setelah pakaian itu dibayar di kasir, tetapi juga ketika pakaian tersebut tak lagi digunakan. Kesadaran itulah yang mendasari Aisyah membentuk komunitas tersebut.

Jika Bersibersi Lemari berfokus pada pengolahan dan daur ulang pakaian bekas, pendekatan berbeda diambil oleh Cynthia Lestari (31), Founder Komunitas Lyfe with Less. Baginya, pakaian yang tidak lagi ingin dipakai tak selalu harus selalu didonasikan atau diubah menjadi kerajinan. Sering kali, baju tersebut hanya perlu menemukan pemilik baru.

Alih-alih membuang pakaian lalu membeli baru setiap kali merasa bosan, ada alternatif berkelanjutan yang bisa dipilih. Lewat program Bersaling-Silang yang diinisiasi oleh komunitas Lyfe With Less, ia mengajak masyarakat untuk saling bertukar pakaian bekas layak pakai.

Gelaran acara Bersaling-Silang telah dilakukan lebih dari 100 kali di kota-kota besar di Indonesia. Acara ini dihadiri ratusan, bahkan ribuan peserta.

Alasan para peserta menukarkan pakaian mereka pun beragam, mulai dari salah ukuran saat membeli, perubahan bentuk tubuh, hingga sekadar tak lagi merasa cocok dengan gaya pakaian tersebut.

”Pakaian yang sudah tidak dipakai tak harus selalu dibuang atau didonasikan. Ada banyak saluran distribusi yang lebih bijak, dan bertukar pakaian adalah salah satu cara untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kita beli,” tutur Cynthia.

Baca JugaRitual Belanja Masyarakat Urban dan Jejak Sampahnya
Baca Juga”Fast Fashion” Kian Jadi Tren, Apa Dampaknya terhadap Keberlanjutan?

Sejumlah warga juga punya cara tersendiri demi memperpanjang usia pakaian sehingga tak harus berujung ke tempat sampah. Seperti yang dilakukan Siti (47), warga yang tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Siti memilih memberikan pakaian kepada anggota keluarga terdekat atau kerabat jika ada baju yang sudah kekecilan atau tak lagi digunakan. Bagi Siti, mendonasikan pakaian tak harus melulu lewat organisasi atau komunitas tertentu.

Semangat memperpanjang usia kain juga dilakukan oleh sang anak. Baju-baju lama yang sudah tak terpakai sering dijahit ulang, dipotong, dan dirombak jadi model baru yang beda. Dari tangan kreatif anaknya, kain lama disulap jadi pakaian baru yang siap pakai lagi tanpa perlu buru-buru dibuang.

”Pakaian masih layak, sayang kalau langsung dibuang. Harusnya masih bisa bermanfaat buat orang lain,” ujar Siti.

Sebelum melakukan donasi, daur ulang, atau bertukar pakaian, upaya memperpanjang usia pakaian juga bisa dimulai dari hal paling sederhana, yakni merawat yang rusak.

Jika pakaian kancingnya lepas, retsletingnya macet, atau sedikit robek, jangan buru-buru beli baju baru. Cukup datang ke penjahit terdekat, dan busana itu bisa digunakan kembali.

Fahmi (48), penjahit keliling di area Cipete, Jakarta Selatan, sudah belasan tahun memperbaiki pakaian yang rusak. Saban hari, ia berkeliling dari rumah ke rumah, mendapat pesanan jahit atau perbaikan.

Ia melihat sendiri bagaimana kebiasaan kecil memperbaiki pakaian mampu menyelamatkan isi dompet sekaligus mengurangi sampah.

”Pagi-pagi masih tidur dibangunin tetangga minta jahitin seragam anaknya yang robek. Ya, enggak apa-apa, daripada beli seragam baru,” tutur Fahmi.

Menjadi penjahit juga membuatnya hampir tak pernah membeli baju baru. Ia selalu mengenakan apa yang sudah ada, dan jika ada bagian pakaian yang robek, ia tinggal merogoh kotak benangnya untuk memperbaiki sendiri.

Baca JugaPerbaiki, Jangan Langsung Membeli Baju Baru
Baca JugaPenjahit Keliling, Bukan Asal Bisa Menjahit
Limbah tekstil

Berbagai gerakan pengolahan, penukaran, hingga perbaikan baju bekas yang dilakukan masyarakat ini lahir bukan tanpa alasan. Upaya tersebut menjadi benteng penting untuk menekan laju tumpukan sampah tekstil yang kian tak terkendali di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Saat ini, sebanyak 68,4 ton limbah kain tercatat Dinas Lingkungan Hidup Jakarta sebagai timbunan sampah harian di Jakarta. Angka itu, jika dihitung per tahun, dapat mencapai sekitar 25.000 ton.

Melalui jumlah sampah itu, beberapa langkah penanganan serta antisipasi telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jakarta beserta dinas terkait. Langkah itu di antaranya melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 mengenai wajib pilah sampah untuk masyarakat sebagai fondasi agar limbah tekstil tidak tercampur, serta Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan sebagai alat ekstraksi limbah tekstil dan limbah lainnya menjadi bahan bakar alternatif.

Langkah-langkah lainnya berupa penguatan bank sampah dalam wujud e-bank sampah Jakarta untuk menyalurkan pakaian layak pakai ke pengguna lainnya, edukasi dan kampanye, serta integrasi pengelolaan sampah jangka menengah dari pola angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah.

Namun, kegiatan tersebut tidak serta-merta menghilangkan sumber permasalahan bagi masyarakat. Keberadaan limbah tekstil masih menjadi pokok permasalahan karena sulitnya proses pemilahan.

Staf Khusus Gubernur Jakarta Chico Hakim mengatakan, keberadaan limbah tekstil hingga saat ini masih menjadi tantangan. Kesulitan untuk mengatasi hal tersebut disinyalir akibat tercampurnya limbah tekstil dengan limbah lainnya saat proses daur ulang. Kondisi yang tercampur itu membuat proses daur ulang terhambat.

”Kami menyadari bahwa limbah tekstil masih menjadi tantangan, terutama karena banyaknya bahan campuran yang sulit didaur ulang. Karena itu, pemerintah provinsi terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri, komunitas, dan masyarakat agar penanganan bisa lebih optimal dari hulu ke hilir,” kata Chico saat dihubungi, Selasa (27/10/2026).

Baca JugaMendaur Ulang Pakaian Bekas untuk Selamatkan Bumi
Upaya perbaikan

Melalui berbagai gerakan tersebut, dapat dipetakan benang merah perubahan yang ingin dicapai, yakni memperpanjang masa pakai pakaian. Akan tetapi, seluruh upaya tersebut tidak lepas dari kata evaluasi.

Campaigner Urban Berkeadilan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Eka Setyawan menilai fenomena berbagai gerakan itu menandakan dua hal. Pertama, telah tumbuhnya kesadaran warga mengenai dampak limbah tekstil dan keputusan mereka bersikap di tengah kondisi itu. Kedua, belum terdapat mekanisme publik yang memadai untuk menangani limbah pakaian.

Lebih dalam, latar belakang terjadinya fenomena tersebut disebabkan berbagai macam motif. Faktor ekonomi, misalnya, keberadaan pakaian bekas serta jasa reparasi yang lebih terjangkau dibandingkan dengan membeli pakaian baru. Faktor gaya hidup, terjadinya tren dalam generasi muda menghadapi kebiasaan konsumsi berlebih. Faktor kesadaran lingkungan, kesadaran masyarakat mengenai dampak yang terjadi akibat limbah tekstil.

Baca JugaKetika Limbah Tekstil Menemukan Rumah Kedua
Baca Juga”Menolak Punah”, Mengetuk Kesadaran Atasi Limbah ”Fashion” dari Hulu

”Limbah tekstil tersembunyi di Bantargebang atau tempat pembuangan akhir lainnya. Dampaknya justru lebih terasa di hulu, misalnya pencemaran sungai oleh industri tekstil di sekitar tempat pembuangan akhir,” kata Wahyu saat dihubungi.

Untuk menyelaraskan dan memperbaiki pola perbaikan dalam penanganan limbah tekstil, ia menyarankan empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, menjadikan tekstil sebagai kategori pilahan tersendiri dengan titik pengumpulan yang mudah dijangkau masyarakat. Dengan sifat yang mudah terjangkau, hal tersebut akan mengurangi risiko tercampurnya residu lain. Dengan demikian, ketika akan diolah oleh RDF, limbah tekstil tersebut tidak tercemar.

Kedua, memprioritaskan anggaran serta program yang ada perlu didorong untuk penggunaan ulang. Contohnya, mendirikan kafe dengan konsep dapat memperbaiki pakaian rusak, bank khusus sampah tekstil, dan pelatihan menjahit di tingkat kelurahan.

Ketiga, pemerintah dapat fokus memperluas penerapan kebijakan extended producer responsibility yang mengatur mengenai tanggung jawab para produsen produk mode pascakonsumsi. Menurut Wahyu, hal ini merupakan poin penting sebab selama ini porsi penanganan beban limbah tekstil cenderung dibebankan kepada masyarakat dan pemerintah daerah.

Terakhir, komunitas gerakan donasi pakaian perlu memastikan sumbangan tersebut benar-benar berakhir digunakan kembali, bukan sekadar memindahkan pakaian bekas ke tempat lain. Untuk memastikan aliran pakaian tersebut, dapat dilakukan dengan membuka data alur donasi pakaian secara transparan.

”Gerakan di hilir, sebaik apa pun, akan selalu kewalahan jika laju produksi tidak dikendalikan. Yang dibutuhkan bukan hanya mengelola sampah tekstil, melainkan mengurangi produksinya sejak awal,” tutur Wahyu.

Berbagai ikhtiar dari tingkat rumah tangga hingga kebijakan adalah upaya bersama untuk menyelamatkan bumi dari timbunan limbah. Namun, rantai konsumsi yang panjang ini pada akhirnya bermuara pada keputusan kecil di depan lemari kita sendiri. Baik sebelum membeli pakaian baru maupun saat hendak melepas pakaian lama, kita harus tahu ke mana setiap helai kain itu akan berakhir.

Baca Juga”Slow Fashion” Dapat Kurangi Limbah Industri Tekstil

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dukung Target Industri 25 Persen PDB, Komisioner BPKN Ingatkan Penguatan Perlindungan Konsumen
• 18 jam lalu
0
thumb
Kalender Jawa November 2026 Lengkap dengan Weton dan Penanggalan Hijriah
• 23 jam lalu
0
thumb
Polisi Tangkap Dua WNA Arab Saudi Diduga Tikam Dua Pengemudi Ojol dan Satpam Hotel di Bali
• 23 jam lalu
0
thumb
Daftar 20 Perusahaan Tersangka Karhutla
• 18 jam lalu
0
thumb
HAKIM TEGUR KERAS! Kubu Tifa Diminta Tanya Sesuai Pokok Perkara Ijazah Jokowi, Dinilai Tak Fokus
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.