Kemenag dan NUUR+ siapkan langkah percepat 1 GW solarisasi Masjid 

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) bersama koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam inisiatif NUUR+ menyepakati langkah strategis untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di masjid-masjid, melalui Lokakarya Penyusunan Panduan Gerakan Solarisasi Masjid Nasional.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional sebesar 100 gigawatt (GW), sekaligus membuktikan bahwa transisi energi bersih dapat berakar kuat di tingkat komunitas melalui solarisasi rumah ibadah.

"Inisiatif ini luar biasa karena menggabungkan banyak sisi. Pertama, ada nilai agama melalui ekoteologi, ada pengetahuan teknologi tentang betapa potensialnya energi solar ini, serta keterlibatan lembaga filantropi yang mempertemukan dan menggerakkan partisipasi aktif masyarakat secara luas," kata Pelaksana Tugas Direktur Urusan Agama Islam Kemenag Muchlis Muhammad Hanafi, di Jakarta, Kamis.

Ia mengapresiasi upaya kolaborasi solarisasi masjid, karena gerakan ini mengintegrasikan nilai etika keagamaan dengan teknologi dan aksi nyata.

Lebih lanjut, Muchlis menegaskan kesiapan Kemenag dalam mengamplifikasi pesan energi bersih dan ekoteologi ini hingga ke akar rumput melalui jaringan penyuluh keagamaan.

"Kami di Direktorat Penerangan Agama Islam membina 24 ribu penyuluh agama Islam. Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan aktif turun dalam program-program dakwah penyuluhan untuk menyukseskan program pemerintah sekaligus memberikan pencerahan kepada masyarakat," ujarnya.

Dewan Pembina MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) M Ali Yusuf menyatakan bahwa solarisasi masjid harus dilihat secara komprehensif melampaui sekadar pemasangan infrastruktur fisik saja.

"Solarisasi masjid bukan sekadar soal panel surya dipasang lalu urusan selesai. Yang paling penting adalah mendorong kesadaran umat terkait energi bersih, kehidupan berkelanjutan, dan aspek berkeadilan," katanya.

Ali menambahkan bahwa dokumen yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi panduan yang aplikatif dan praktis.

Panduan itu akan memperhatikan empat aspek, yaitu standar teknis dan mitigasi risiko keselamatan kelistrikan, model pendanaan inklusif dan inovatif melalui blended financing seperti ZISWAF dan CSR, tata kelola yang akuntabel, hingga penguatan kapasitas dan partisipasi masyarakat.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa solarisasi masjid adalah pendekatan yang strategis dalam mewujudkan transisi energi di Indonesia.

"Masjid adalah tempat berkumpul banyak orang tanpa mengenal kelas, sehingga tepat untuk bisa menjadi pusat edukasi energi bersih," ujarnya.

Ketua Yayasan Wakaf Energi sekaligus perwakilan inisiatif NUUR+ Chairiman menyoroti pentingnya kebermanfaatan serta tata kelola dan ekosistem digital dalam solarisasi masjid.

"Solarisasi di rumah ibadah bisa menjadi percikan agar perputaran ekonomi mengalir dan memberikan dampak besar bagi lingkungan sekitar masjid," kata Chairiman.

Lebih lanjut, menurut Chairiman, teknologi surya sangat kompleks sehingga dibutuhkan kematangan perencanaan, pemasangan yang akurat, serta pemantauan berkala.

NUUR+, kata dia lagi, mengedepankan digitalisasi yang terintegrasi melalui platform nuurproject.org. Di sini masyarakat dapat memantau mulai dari penggalangan wakaf dan sedekah secara online, publik juga bisa memilih masjid yang diinginkan, hingga transparansi eksekusi dan pelaporan digital.

Potensi besar rumah ibadah ini diperkuat oleh hasil riset pemetaan teknis dari NUUR+ yang menghitung kemampuan sektor masjid dan mushala menyumbang target sebesar 1 GW, atau setara satu persen dari total target PLTS 100 GW nasional.

Capaian 1 GW tersebut diprediksi dapat tercapai jika dihitung secara teknis melalui rencana pemasangan sistem energi surya dan baterai di lebih dari 400 ribu masjid dan mushala di seluruh Indonesia, dengan porsi terbesar disumbangkan oleh masjid-masjid jami dan masjid tempat publik yang memiliki aktivitas harian tinggi.

Langkah ini diprediksi mampu memproduksi 1.414 GWh listrik bersih per tahun, yang dapat mencukupi kebutuhan setara hampir satu juta rumah tangga, serta mereduksi emisi karbon hingga 1,1 juta ton per tahun.

Melalui skema pendanaan campuran dan pengadaan kolektif, inisiatif ini juga diprediksi dapat menghasilkan penghematan listrik sebesar Rp47,7 triliun selama 25 tahun masa operasionalnya.

Peta jalan kolaboratif ini diharapkan dapat diawali dengan program pencapaian pertama pada 300 masjid teladan atau ekomasjid pada tahun 2027, yang kemudian dilanjutkan secara bertahap ke tingkat regional hingga nasional.

Baca juga: Anggota DEN usulkan kuota PLTS atap utamakan pemohon siap

Baca juga: Kemdiktisaintek petakan talenta untuk dukung Program PLTS 100 GW


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
LBH Jakarta Pertanyakan Penangkapan 19 Orang Seusai Demo di Jakarta
• 12 jam lalu
0
thumb
Pertama Kali Syuting Adegan Kesurupan di Film Hajatan Setan, Ari Irham: Lumayan Cukup Sulit
• 10 jam lalu
0
thumb
Wardatina Mawa Minta Anaknya Jangan Benci Inara Rusli: Walaupun Orang Itu Sudah Menyakiti Ibunya
• 1 jam lalu
0
thumb
Pengakuan Mees Hilgers usai Tampil Lagi Setelah 520 Hari: Siap Kembali Bermain Setiap Minggu
• 15 jam lalu
0
thumb
Petugas Pemadam Karhutla di Toraja Utara Meninggal Tertimpa Pohon
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.