Lika-Liku Generasi Tua-Muda Memburu Pekerjaan, di Tengah Janji 19 Juta Lapangan Kerja

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Di tengah persaingan dunia kerja dan tekanan ekonomi yang terus meningkat, antusiasme ribuan masyarakat dari berbagai generasi tidak surut dalam memburu peluang pekerjaan.

Mulai dari mahasiswa yang ingin meringankan beban orang tua karena mahalnya biaya pendidikan, hingga pekerja berusia senja yang masih berjuang mendapatkan pekerjaan tetap.

Pemandangan itu terlihat dalam kegiatan Job Fair yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim di Grand City, Surabaya, Kamis (29/10/202).

Di antara ribuan calon pekerja yang memburu bursa kerja, ada Wiseso (57 tahun) warga Petemon, Surabaya yang tak kendor untuk mencari pekerjaan tetap dalam tiga tahun ke belakang.

Lulusan Akuntansi dan Ekonomi Manajemen dari UPN Veteran Yogyakarta itu mengaku sempat bekerja di bidang periklanan dan akuntan publik. Namun, perselisihan di antara pemegang saham membuat perusahaan tempatnya bekerja akhirnya gulung tikar dan Wiseso terpaksa menganggur.

Sejak saat itu, Wiseso bertahan dengan pekerjaan lepas sebagai pengolah data perusahaan dan penghasilan yang tak pasti dalam setiap bulannya.

“Saya di iklan gitu, di akuntan publik pernah. Ya, terus sekarang saya itu bekerja sendiri, istilahnya seperti mengerjakan apa, freelance lah istilahnya gitu,” katanya kepada suarasurabaya.net.

Motivasinya untuk tetap bekerja di usia senja hanya satu, yaitu demi membiayai anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan SMA.

“Ya, semangat saya itu juga untuk membiayai anak, juga ya, untuk membiayai anak kuliah, ya, terus sama apa istilahnya, eman-eman ilmu saya gitu loh,” ujarnya.

Sebelumnya, dia mengaku pernah mendatangi bursa kerja di THR Surabaya, namun lowongan yang tersedia sebagian besar hanya outsourcing yang tidak sesuai dengan latar belakang pengalamannya di industri manufaktur.

Bagi Wiseso, kondisi ekonomi saat ini menjadi faktor utama yang membuat pencarian kerja terasa begitu sulit. Namun sebagai kepala rumah tangga, ia harus melaksanakan tanggung jawab membiayai pendidikan anak-anaknya. “Ya, memang apa ya? Kondisi ekonomi mungkin gitu,” katanya saat menjelaskan kesulitan mencari pekerjaan saat ini.

Perjuangan mencari pekerjaan juga dimulai oleh generasi yang lebih muda. Tiara Rahmanjani dan Kanayata Bita, mahasiswi Universitas Airlangga (Unair) dari jurusan Destinasi Wisata juga ikut berburu lapangan pekerjaan.

Meski baru menginjak semester 1 di Unair, kedua mahasiswi itu ingin membuka peluang mendapatkan penghasilan sendiri. Tiara merupakan perantauan asal Blitar, sementara Kanayata berasal dari Lamongan.

Bagi mereka berdua, tingginya biaya kuliah dan mahalnya kebutuhan hidup selama tinggal di Surabaya menjadi alasan untuk mulai mencari peluang kerja.

Tiara mengaku harus membayar UKT sebesar Rp5 juta. Biaya itu belum termasuk kebutuhan tempat tinggal dan biaya hidup sehari-hari yang turut membebani orang tua.

“Karena di sini kan tentunya saya kuliah membutuhkan biaya ya dan untuk UKT saya itu tentunya tidak sedikit. Jadi saya pengin membantu orang tua dengan cara saya datang ke sini harapannya nanti supaya saya mendapatkan informasi mengenai pekerjaan dan tentunya itu nanti juga akan berdampak bagi setelah saya lulus kuliah nanti juga,” katanya.

Tiara menceritakan, Job Fair kali ini menjadi pengalaman pertamanya mendatangi bursa kerja. Sebelumnya, dia sempat mengirimkan CV dan portofolio ke berbagai tempat namun hasilnya nihil.

Pengalaman itu membuatnya sadar bahwa skill pribadi belum cukup untuk mendapat pekerjaan dan sukarnya mencari penghasilan.

“Tentunya susah ya, karena menurut saya rata-rata itu kadang juga pengaruh relasi. Jadi saat ini yang perlu kita dalami itu pertama itu juga cari relasi dulu, koneksi dulu, nanti kemudian seiringnya waktu kita kembangkan skill kita,” ujarnya.

Para calon pekerja sedang mencari informasi di setiap bursa kerja dalam kegiatan Job Fair yang diselenggarakan Pemprov Jatim di Grand City, Surabaya, Kamis (29/10/2026). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Sementara itu, Kanayata berharap dalam Job Fair kali ini dapat memberinya gambaran lebih jelas tentang dunia kerja, termasuk cara melamar pekerjaan dan memahami kebutuhan industri.

“Iya, sama. Kebetulan kan dari biaya UKT, terus biaya hidup di Surabaya juga kan enggak sedikit juga. Jadi niatnya pengin bantu ekonomi keluarga juga biar punya penghasilan sendiri sambil cari-cari informasi pekerjaan,” kata Kanayata.

Keduanya berharap bisa mendapatkan informasi tentang kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan, sehingga dapat mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Cerita Wiseso, Tiara, dan Kanayata menunjukkan bahwa kebutuhan akan lapangan kerja melintasi batas usia dan latar belakang.

Di tengah upaya pemerintah mendorong penciptaan 19 juta lapangan kerja, tantangannya bukan hanya menyediakan kesempatan kerja, namun juga memastikan peluang tersebut dapat dijangkau oleh pencari kerja dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.

Sementara itu Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim, mengatakan kegiatan ini dihadirkan untuk memberikan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat Jatim agar dapat mencocokkan keterampilan calon pekerja dengan peluang kerja yang tersedia.

“Jadi, job fair ini memberikan ruang kepada seluruh masyarakat Jawa Timur yang sedang mencocokkan antara peluangnya dengan skill yang mereka miliki,” ujar Khofifah saat memberikan keterangan di Grand City.

Ia menyadari bahwa tidak seluruh masyarakat dapat mengakses informasi lowongan pekerjaan secara digital. Oleh karena itu, acara ini memfasilitasi pencari kerja melalui dua metode, yakni secara daring maupun luring di lokasi acara.

Dari total 102 unit usaha yang berpartisipasi, sebanyak 57 unit hadir secara langsung di lokasi untuk memfasilitasi dan membuka peluang bagi para pencari kerja. Sementara itu, sisanya menyediakan layanan melalui sistem online.

“Harapan kita bahwa yang melakukan online maupun yang melakukan offline di sini sama-sama bisa terpenuhi kebutuhannya, dan masyarakat Jawa Timur yang sedang mencari kerja juga harapannya bisa menemukan (kecocokan), apakah kedekatan rumahnya dengan tempat kerjanya, apakah seleranya, ataukah regulasinya,” jelas Khofifah.

Selain mencocokkan kualifikasi, Khofifah juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kerja. Ia menyebut ada sejumlah perusahaan yang siap memberikan program peningkatan keterampilan bagi para calon pekerja.

“Karena dari yang tadi saya tinjau, itu ada yang siap untuk memberikan upskilling kalau misalnya dari skill yang dimiliki masih membutuhkan proses penguatan kembali,” ujarnya.(wld/bil/faz)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Persib Panen Uang usai Berjaya di Asia, Jumlahnya Bisa Rekrut Eks Manchester United
• 7 jam lalu
0
thumb
Tinjau Revitalisasi SDN 25 Koto Panjang, Andre Rosiade Sebut 84 Sekolah Diperbaiki Prabowo di Padang
• 1 jam lalu
0
thumb
Bengkel Pesawat RI Diakui Eropa, FL Technics Indonesia Siap Layani Maskapai Uni Eropa
• 22 jam lalu
0
thumb
Eksepsi Febrie Ditolak, IPR Desak JPU Buktikan TPPU dan Jaga Kredibilitas Institusi
• 1 jam lalu
0
thumb
Dewan Pers Ingatkan Polisi Tak Halangi Jurnalis Liput Demo
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.