Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku tidak melayani permintaan pengurusan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disampaikan melalui jalur pribadi. Ia menyebut sejumlah orang menghubunginya dengan mengaku sebagai kerabat, mulai dari sepupu hingga keponakan, untuk mengurus dapur program tersebut.
Sudaryono mengatakan, dirinya memilih menolak permintaan semacam itu untuk mencegah praktik titip proyek dan jual beli titik dapur dalam pelaksanaan MBG.
“Saya tidak pernah menerima tamu urusan dapur. Mohon maaf mungkin banyak di antara teman-teman yang ada yang satu partai, ada yang satu SMA, ada yang satu SMP, ada yang satu kampung, ada yang mengaku keponakan, mengaku sepupu,” kata Sudaryono dalam Refleksi 100 Hari Kepemimpinan Kepala BGN di Jakarta, Kamis (29/10).
Ia menyinggung fenomena orang yang mengaku sebagai kerabat ketika seseorang menduduki jabatan publik.
“Memang kalau lagi menjabat itu kemudian sepupunya jadi tambah banyak, ya. Dulu waktu kalah pemilu, itu enggak ada orang mengaku-mengaku sepupu, ya. Tapi begitu kita menjabat, itu sepupu, keponakan, saudara itu jadi banyak, ya. Kita juga enggak tahu sepupu dari mana, tapi ya sudahlah ya,” candanya.
Sudaryono menegaskan, permintaan pengurusan dapur yang disampaikan melalui pesan pribadi tidak akan dilayani. BGN, kata dia, telah menyediakan saluran resmi untuk menerima pengaduan dan menangani persoalan terkait pelaksanaan MBG.
“Jadi mohon maaf ada yang WA saya urusan dapur, itu tidak kami layani. Karena layanan pengaduan itu kami lewatkan melalui saluran yang jelas, PO BOX, menggunakan e-mail,” kata dia.
Menurutnya, mekanisme tersebut menjadi bagian dari pembenahan tata kelola BGN selama 100 hari kepemimpinannya. BGN juga memperbarui perjanjian kerja sama dengan yayasan dan mitra pengelola dapur untuk memeriksa kembali kelayakan kerja sama serta memastikan pihak yang terlibat benar-benar menjalankan peran dalam operasional program.
Sudaryono sebelumnya mengungkap adanya yayasan yang diduga hanya menjadi perantara untuk mendapatkan titik dapur MBG. Yayasan tersebut disebut meminta potongan dari setiap porsi makanan tanpa ikut membangun atau mengoperasikan dapur.
Ia menegaskan, pembenahan tata kelola harus tetap berjalan meskipun berpotensi menimbulkan persoalan dengan orang-orang yang dikenalnya.
"Pertaruhan programnya jauh lebih besar daripada hanya sekadar perkawanan. Minta maaf urusan ini saya tidak bisa tindak lanjuti,” tegas Sudaryono.
Sudaryono mengatakan, BGN berupaya memperbaiki mekanisme pengawasan dan pengaduan agar pelaksanaan MBG dapat dipantau secara lebih terbuka dan penyimpangan dapat ditindaklanjuti melalui jalur resmi.






Komentar (0)