Dolar AS Melemah, Euro Bergerak Positif

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar AS melemah pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyatakan kondisi keuangan telah sedikit mengetat sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada September.

Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga tetap, sesuai dengan ekspektasi pasar. Pembalikan arah dolar AS ini mendorong euro ke wilayah positif.

Dikutip dari Investing, Kamis, 29 Oktober 2026, indeks Dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang utama dunia tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,2 persen menjadi 102,14. Jeda yang hawkish dari The Fed Para pelaku pasar mata uang memusatkan perhatian penuh pada keputusan suku bunga terbaru The Fed pada Rabu. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) di kisaran 3,75 persen sampai 4,00 persen dengan hasil pemungutan suara 10 banding 2.

Hasil ini sebagian besar telah diantisipasi, menyusul kenaikan suku bunga pertama oleh FOMC dalam lebih dari tiga tahun terakhir pada bulan September.

Keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap diambil meskipun angka inflasi baru-baru ini tercatat lebih tinggi dari perkiraan.

Dalam konferensi pers setelah pengumuman keputusan tersebut, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa kondisi di sektor ketenagakerjaan tergolong cukup positif, dan diskusi FOMC lebih berfokus pada aspek inflasi.

Warsh menambahkan bahwa The Fed juga mengamati adanya pengetatan kondisi keuangan serta sikap yang lebih selektif dari para pelaku pasar sejak pertemuan FOMC bulan September. Warsh juga mencatat bahwa terdapat data ekonomi penting yang dijadwalkan akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :

Wall Street Naik Tipis setelah The Fed Pertahankan Suku Bunga

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Para pengamat kebijakan moneter akan segera menerima data produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal ketiga serta angka inflasi bulan September, yang merupakan indikator pilihan Federal Reserve (The Fed), paling cepat pada hari Kamis.

"Periode yang akan kita hadapi ini kaya akan informasi. Dalam periode mendatang, kita akan dapat menentukan protokol yang tepat, untuk mencapai stabilitas harga. Saya merasa optimis dengan kemajuan yang telah kita capai dalam waktu singkat," ujar Warsh.

Warsh juga mengumumkan perubahan jadwal pertemuan FOMC untuk tahun 2027 dan 2028. Meskipun komite tersebut akan tetap mengadakan delapan kali pertemuan, salah satu pertemuan tahun depan akan difokuskan pada strategi kebijakan moneter, bukan untuk memutuskan suku bunga acuan (federal funds rate). Jumlah pertemuan yang difokuskan pada strategi ini akan bertambah menjadi dua kali pada tahun 2028. Penguatan euro tertahan oleh beban fiskal Prancis Euro menjadi mata uang yang paling diuntungkan saat dolar AS melemah. Mata uang tunggal ini tercatat naik 0,2 persen menjadi USD1,1152.

Namun, pergerakan euro tetap terbatas karena risiko politik dan fiskal yang mendasar di Prancis meredam sentimen positif dari keputusan lembaga pemeringkat Moody’s untuk tidak menurunkan peringkat kredit negara tersebut.

Para pelaku pasar bersikap hati-hati menyikapi defisit anggaran Prancis yang melebar hingga 5,4 persen dari PDB, serta demonstrasi berkepanjangan di jalanan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pemotongan belanja publik. Kondisi ini membuat premi risiko obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun dibandingkan dengan obligasi pemerintah Jerman (Bunds) tetap berada pada tingkat yang sangat lebar secara historis.

Kini, perhatian tertuju pada keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (European Central Bank) yang akan diumumkan pada hari Kamis. Meskipun Frankfurt diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan acuan di angka 2,5 persen tingkat inflasi yang tetap tinggi di angka 3,8 persen serta imbal hasil obligasi pemerintah yang melonjak di berbagai negara pinggiran zona euro membuat para pengambil kebijakan harus menempuh jalur kebijakan yang sulit. Kinerja mata uang di Asia bervariasi Dolar Selandia Baru merosot satu persen menjadi USD0,5626 setelah bank sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand) secara tak terduga mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75 persen. Keputusan ini mengejutkan para pelaku pasar yang sebelumnya telah mengantisipasi pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Sebaliknya, dolar Australia menguat 0,4 persen menjadi USD0,7055 menyusul data inflasi konsumen kuartal ketiga yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan kenaikan mencapai 1,3 persen secara kuartalan (qtq).

Sementara itu, yen Jepang tidak banyak berubah, berada di level 157,94 per dolar menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan pada hari Jumat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
EIGER Nature Resmi Dibuka, Hadirkan Wisata Petualangan yang Berpadu dengan Konservasi Alam
• 20 jam lalu
0
thumb
Unggul Tipis atas Netanyahu, Kubu Oposisi Israel Bersorak-sorai di Tel Aviv
• 21 jam lalu
0
thumb
Mengapa Pengeluaran Masyarakat Indonesia untuk Rokok Jauh Lebih Tinggi daripada Makanan Bergizi?
• 23 jam lalu
0
thumb
Hujan Mengguyur Jakarta, Massa Aksi di Bundaran HI Membubarkan Diri
• 13 jam lalu
0
thumb
Menyusuri Setiap Sudut Hong Kong, dari Perkotaan Modern hingga Lanskap Alam
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.